Tugas Akhir
Evaluasi prosedur akuntansi penjualan secara tunai bahan bakar minyak (BBM) pada PT Pertamina Depot Malang / Niken Tri Stiyowati
Abstrak
Kegiatan utama akuntansi yaitu pengidentifikasian pemrosesan data dan pengkomunikasian informasi. Prosedur merupakan bagian dari suatu sistem. Prosedur penjualan merupakan bagian dari sistem akuntansi penjualan yang terbentuk pada PT Pertamina Depot Malang. Penerapan sistem penjualan yang baik akan mampu memberikan perlindungan pengendalian dan pengawasan terhadap akuntansi penjualan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui prosedur penjualan tunai BBM pada PT Pertamina Depot Malang (2) mengetahui evaluasi terhadap analisis prosedur penjualan BBM pada PT Pertamina Depot Malang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah (1) wawancara (2) observasi (3) dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisa data yang telah dikumpulkan penulis menggunakan (1) analisa kualitatif yang menghubungkan sistem akuntansi dan prosedur penjualannya (2) bagan alir (flowchart) Berdasarkan hasil evaluasi dapat disimpulkan prosedur penjualan tunai BBM pada Pertamina Depot Malang tidak membuat laporan keuangan karena sifatnya hanya membantu ISG akan tetapi tetap melakukan kegiatan utama akuntansi yakni identifikasi dan pencatatan. Mekanisme prosedur penjualan BBM Depot Malang terbagi menjadi tiga prosedur antara lain prosedur order penjualan prosedur pengiriman dan prosedur rekonsiliasi. Pada prosedur penjualan BBM Depot Malang secara keseluruhan sudah memenuhi urutan kegiatan klerikal (clerical operation) yang terdiri dari menulis menggandakan menghitung memberi kode mendaftar memilih memindah membandingkan. Sistem pengendalian intern Depot Malang secara keseluruhan sudah sangat baik terhadap sistem akuntansi penjualannya salah satunya adalah pemisahan fungsi terhadap bagian yang akan terlibat dalam transaksi penjualan baik dalam hal pencatatan pengelolaan maupun pengawasan. Adapun penilaian terhadap pengendalian intern terhadap penjualan dapat dilihat dari unsur pengendalian intern antara lain dari segi personil yang kompeten dalam bidangnya pemisahan fungsi yang dalam prosesnya kadangkala masih terjadi double job deskription karena terbatasnya karyawan otorisasi transaksi yang baik pencatatan transaksi dan dokumen yang cukup adanya pengawasan fisik terhadap kekayaan dokumen dan catatan dan pemeriksaan intern yang dilakukan secara berkala. Saran yang dapat penulis berikan adalah (1) dibuat sistem absen yang lebih baik (2) perlu memberikan proteksi yang cukup agar data-data dapat tersimpan di dalam komputer lebih teratur dan aman sehingga dapat menghindari hilangnya data karena virus maupun kesalahan penggunaan. (3) sebaiknya diadakan pembaharuan password sehingga hanya diketahui oleh karyawan yang bersangkutan saja.