Skripsi
Penggunaan unggah-ungguh Basa Jawa dalam tuturan siswa SMP Negeri 1 Geneng Kabupaten Ngawi tahun ajaran 2009/2010 / Muh. Sidiq Amin
Abstrak
ABSTRAK Amin Muh. Sidiq. 2009. Penggunaan Unggah-Ungguh Basa Jawa dalam Tuturan Siswa SMP Negeri 1 Geneng Tahun Ajaran 2009/ 2010. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Sunaryo HS S.H. M.Hum. (II) Drs. Masnur Muslich M.Si. Kata Kunci penggunaan unggah-ungguh dan bahasa Jawa Unggah-ungguh berarti sopan santun. Sedangkan unggah-ungguh basa berarti tataran ngoko krama ini berkembang mungkin karena keinginan bawahan untuk menunjukkan sikap hormatnya terhadap atasan. Namun beberapa dekade belakangan ini penerapan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa mulai mengalami kemerosotan dan ter-marginal-kan. Oleh karena itu demi pelestarian budaya Jawa sekolah-sekolah di Jawa terutama Jawa tengah dan Jawa timur mulai berlomba-lomba dalam menerapkan pembelajaran bahasa Jawa yang lebih efektif dan menarik. Dari sini peneliti ingin melakukan penelitian tentang penggunaan unggah-ungguh basa dalam tuturan siswa di lingkungan sekolah terkait dengan adanya peraturan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar pendidikan sekaligus pelestarian dan pembelajaran bahasa Jawa secara langsung. Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data transkrip tuturan komunikasi dan rekaman yang diperoleh dari hasil perekaman atau penyadapan peneliti dalam tuturan komunukasi dalam interaksi siswa SMP Negeri 1 Geneng. Bedasarkan analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Ada enam (6) jenis pihak yang dijadikan sasaran siswa dalam mengaplikasikan ragam tingkat tutur bahasa ngoko lugu. Keenam itu diantaranya adalah (1) guru (2) penjual di kantin (3) peneliti (4) petugas kebersihan (tukang kebun) (5) siswa lain yang setingkat kelas dan (6) siswa lain yang lebih rendah tingkatan kelasnya. Ada tiga (3) pihak yang dijadikan sasaran siswa dalam berkomunikasi dengan ragam ngoko lugu. Ketiga kelompok itu adalah guru petugas kebersihan tukang kebun dan siswa lain yang lebih tinggi tingkat kelasnya. Untuk ragam krama lugu hanya ada tiga (3) pihak yang dijadikan lawan komunikasi siswa yaitu guru Ibu kantin dan siswa yang lebih tinggi tingkatnya. Sedangkan untuk ragam bahasa krama alus hanya ada satu (1) pihak yang manjadi lawan komunikasi siswa yaitu guru. Semua pihak-pihak ini secara umum mempunyai hubungan vertikal ke atas dengan siswa. Meskipun sudah ada kesamaan penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa siswa dengan kaidah yang ada namun masih ada banyak penyimpangan penggunaan unggah-ungguh bahasa siswa dengan kaidah yang ada dalam tuturan siswa. Penyimpangan itu termasuk di dalamnya kesalahan penggunaan tingkat kata tingkat kata jadian (andhahan) dan pengunaan tingkat tutur berkaitan dengan pengunaanya dalam tataran kaidah sosiolinguistiknya. Adapun beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan masih terdapatnya kesalahan penggunaan kaidah unggah-ungguh basa Jawa dalam tuturan siswa adalah sebagai berikut. (1) Pihak sekolah lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga siswa dapat bekerja sama memberikan perhatian dan dukungannya untuk kembali memperhatikan dan memelihara penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. (2) Pihak sekolah harus lebih bersemangat lagi dalam mengaplikasikan dan menjalankan kegiatan java days sebagai wahana pengaplikasian unggah-ungguh bahasa Jawa siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. (3) Perlu adanya dukungan seluruh warga sekolah dalam menjalankan progam sekolah Java days. (4) Guru bahasa Jawa lebih berusaha lagi dalam mengarahkan dan membimbing siswa untuk tidak meninggalkan bahasa Jawa terutama ragam krama dalam tuturan sehari-hari. (5) Guru bahasa Jawa memberikan perhatian yang lebih dalam pembelajaran unggah-ungguh bahasa Jawa sehingga siswa dapat benar-benar memahami dan menguasai kaidah penggunaan unggah-ungguh basa Jawa. (6) Guru bahasa Jawa mengembangkan pembelajaran bahasa jawa yang terkait tentang penggunaan unggah-ungguh basa Jawa seperti bermain drama berpidato ceramah membaca berita menulis surat menulis cerpen dalam bahasa Jawa. (7) Guru bahasa Jawa menciptakan peluang-peluang baru dimana siswa dapat mengaplikasikan dan membiasakan diri dengan bahasa Jawa terutama ragam krama.