Skripsi
Hubungan antara nilai kerukunan dan hormat dalam budaya jawa dengan perilaku asertif mahasiswa BK angkatan 2007 / Herny Widyyanti
Abstrak
ABSTRAK Widyyanti Herny. 2009. Hubungan antara Nilai Kerukunan dan Hormat dalam Budaya Jawa dengan Perilaku Asertif Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Angkatan 2007 . Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Lutfi Fauzan M.Pd (II) Drs. Hariadi Kusumo Kata Kunci Perilaku asertif nilai kerukunan dan nilai hormat Kemampuan berkomunikasi secara terbuka pada orang lain hanya dapat dijumpai pada individu yang memiliki perilaku asertif. Masyarakat Jawa adalah orang-orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa yang dimana didalamnya terdapat nilai kerukunan dan hormat yang masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Mengetahui kemampuan asertif mahasiswa BK angkatan 2007 yang berasal dari suku Jawa. (2) Mengetahui nilai kerukunan mahasiswa BK angkatan 2007 yang berasal dari suku Jawa. (3) Bagaimana nilai kerukunan mahasiswa BK angkatan 2007 yang berasal dari suku Jawa. (4) Ada hubungan antara nilai kerukunan dalam budaya jawa dengan perilaku asertif. (5) Ada hubungan antara nilai hormat dalam budaya jawa dengan perilaku asertif dan (6) Ada hubungan antara nilai kerukunan dan hormat dalam budaya jawa dengan perilaku asertif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2007 yang berasal dari suku Jawa sampel berjumlah 80 orang dalam penentuan sampel dengan menggunakan teknik proporsional random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan angket yang terdiri dari angket nilai kerukunan dan hormat 54 item pernyataan dan angket perilaku asertif 65 item pernyataan. Hasil penelitian tersebut disimpulkan (1) Nilai kerukunan mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2007 yang berasal dari suku Jawa mempunyai sedikit sekali untuk klasifikasi nilai kerukunan tinggi (10%) cukup banyak untuk klasifikasi nilai kerukunan sedang (48 75%) dan cukup banyak untuk klasifikasi nilai kerukunan rendah (41 25%). (2) Nilai hormat mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2007 berasal dari suku Jawa mempunyai sedikit untuk klasifikasi nilai kerukunan tinggi (31 25%) cukup banyak untuk klasifikasi nilai kerukunan sedang (55%) dan sedikit sekali untuk klasifikasi nilai kerukunan rendah (8 75%). (3) Asertifitas mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2007 berasal dari suku Jawa mempunyai sedikit sekali untuk klasifikasi nilai kerukunan tinggi (15%) cukup banyak untuk klasifikasi nilai kerukunan sedang (60%) dan sedikit untuk klasifikasi nilai kerukunan rendah (25%). (4) r thitung (5 230) ttabel(77 0 05) 1 991 dan besaran probabilitas (Sig.) 0 000 0 05. Ho ditolak koefisian regresi signifikan artinya variabel X1 mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Hasil analisis data ada korelasi negatif dimana semakin tinggi tingkat nilai kerukunan dalam budaya Jawa maka tingkat asertifitas mahasiswa semakin rendah. (5) r thitung (4 906) ttabel(77 0 05) 1 991 dan besaran probabilitas (Sig.) 0 000 0 05. Ho ditolak koefisian regresi artinya variabel X2 mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Hasil analisis data ada korelasi hasil negatif dimana semakin tinggi tingkat hormat dalam budaya Jawa maka tingkat asertifitas mahasiswa semakin rendah.(6) Fhitung (40 922) Ftabel (2 77 0 05) (3 115) dan besaran probabilitas (Sig.) 0 000 0 05. Sehingga Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya perubahan variabel x1 x2 secara serentak (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan. Hasil analisis data Ada hubungan negatif dan signifikan antara nilai kerukunan dan hormat dalam budaya Jawa r -5 230 (p 0 000) serta nilai hormat dalam budaya Jawa r 4 906 (p 0 000). Uji regresi linier berganda adalah R sebesar 0 718 dan F hitung sebesar 40 922 ( p 0 000 0 05) menunjukkan ada hubungan dan signifikan antara nilai kerukunan dan hormat dalam budaya Jawa dengan perilaku asertif mahasiswa BK angkatan 2007 yaitu semakin tinggi tingkat nilai kerukunan dan hormat dalam budaya Jawa maka tingkat asertifitas mahasiswa semakin rendah. Berdasarkan hasil tersebut ada beberapa saran yang diberikan oleh penulis yaitu kepada Dosen Pembimbing Akademik diharapkan dapat membantu meningkatkan perilaku asertif mahasiswa yang berasal dari latar belakang seperti suku Jawa terutama dalam mengembangkan afirmasi dirinya dan mampu menyatakan perasaan negatifnya tanpa harus bertentangan dengan budaya yang diterapkan sehingga tetap dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik sehingga mengarah pada keseimbangan pribadi dan menjauhkan dari ketidakseimbangan yang mengarah pada perilaku agresif maupun pasif dengan tetap memperhatikan hak orang lain. Selanjutnya bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian pada subyek yang lebih luas lagi sehingga dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya yang juga mengetengahkan masalah perilaku asertif. Hendaknya penelitian ini dapat dilakukan dengan teknik dan cara yang lebih beragam (wawancara dll) sehingga data yang diperoleh lebih lengkap dan maksimal serta dapat dikembangkan lebih luas lagi.