Tugas Akhir
Meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran melalui pembelajaran pemecahan masalah matematika kelas III SDN Kebonagung Pasuruan / Puji Mulyati
Abstrak
ABSTRAK Mulyati P. 2010. Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung Campuran melalui Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika Kelas III SDN Kebonagung Pasuruan. E-Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah (KSDP) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dra. Sri Harmini S.Pd M.Pd. Kata Kunci Pembelajaran Pemecahan Masalah Operasi Hitung Campuran Penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan operasi hitung campuran ini dilakukan atas dasar rumusan masalah berikut (1) Bagaimanakah proses pembelajaran pemecahan masalah matematika untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan operasi hitung campuran (2) Apakah proses pembelajaran pemecahan masalah matematika dapat meningkatkan kemampuan siswa melakukan operasi hitung campuran Subyek penelitian adalah siswa kelas III yang berjumlah 25 orang. Perbaikan pembelajaran dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Setiap siklus mengikuti tahap-tahap perencanaan pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lembar observasi lembar catatan lapangan dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa hasil kerja kelompok pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I. Pada siklus I diketahui terdapat 4 kelompok mendapatkan kriteria kurang 1 kelompok mendapatkan kriteria cukup dan 1 kelompok mendapatkan kriteria baik. Sedangkan pada siklus II terdapat 1 kelompok yang mendapatkan kriteria cukup 1 kelompok yang mendapatkan kriteria baik sekali dan 4 kelompok lain mendapatkan kriteria baik. Sedangkan jumlah subyek yang dapat mencapai ketuntasan belajar setelah pemberian evaluasi tanpa bantuan penyusunan prosedur pemecahan masalah oleh guru terus mengalami peningkatan dari Siklus I pertemuan 3 dan Siklus II pertemuan 1 2 dan 3. Pada Siklus I pertemuan 3 diperoleh data bahwa dari 25 subyek hanya terdapat 5 siswa atau 20% siswa yang mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) 70. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 diketahui terdapat 10 siswa atau 40% siswa yang mencapai SKM. Pada pertemuan 2 diketahui terdapat 22 siswa atau 88% siswa yang mencapai SKM. Pada pertemuan 3 diketahui tidak terdapat seorang siswa pun yang tidak mencapai SKM. Sementara itu jika diperhatikan perubahan atau perbandingan hasil tes antara tes awal (pre-tes) dengan tes akhir (post-tes) diperoleh data bahwa hasil tes awal (pre-tes) menunjukkan tidak seorang siswa pun yang dapat mencapai SKM namun pada tes akhir (post-tes) diketahui bahwa semua siswa telah mencapai SKM.