UPT Perpustakaan UM

  • Beranda
  • Informasi
  • Repository UM
  • SIPADU UM
  • OPAC SIPADU

Pencarian Spesifik

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Skripsi

Peningkatan hasil belajar PKN melalui model pembelajaran kooperatif jigsaw di kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulunggagung / Dian Puspitasari

Puspitasari, Dian - Nama Orang;

Abstrak
Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung Dian Puspitasari Abstract The result of learning PKn in the 4 grade of public elementary school the first of Rejotangan has been less satisfying. From 24 studentswho achieved or passed standart of minimum learning passing grade. That is 65. To overcome this case it needed the appropriate and suitable learning model choice for improving students learning activity so it would help the students score achievement. The purpose of the research is to understand the student s improvement of the result of learning process after applying Jigsaw cooperative learning model. The result of research showed that in the pre applying stage there were only nine students or 37 5% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. After applying Jigsaw cooperative learning model in the first cycle it improved to 17 students or 71% from 24 students. But the result was far from the researcher s hope so she applied the second cycle. In the second cycle the number of students who passed the standart of minimum learning passing grade showed improvement. Those were 22 students or 92% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. The studentas who were boring and not having high spirit became active and antusistic in learning the subject after applying and following the Jigsaw cooperative learning model. Kata Kunci Peningkatan hasil belajar pembelajaran PKn model pembelajaran kooperatif Jigsaw Pendidikan adalah suatu proses interaksi antara pendidik dengan subyek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dang bangsa karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak perhatian khusus diarahkan kepada perkembangan dan kemajuan pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu dengan merancang dan membangun suasana kelas sedemikian rupa sehingga siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Dengan demikian pemilihan model pembelajaran sangat penting guna meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa khususnya siswa SD. Hal ini juga berlaku di SDN 01 Rejotangan dimana pembelajaran PKn masih sering mengalamai kegagalan. Berdasarkan hasil pengamatan di SDN 01 Rejotangan pada mata pelajaran PKn di kelas IV diperoleh data bahwa hasil belajar siswa sering jatuh dan tidak mencapai KKM yang ditetapkan. Dari 24 siswa hanya 9 atau 37 5% siswa yang tuntas belajar. Saat dilakukan diskusi kelompok biasa terlihat adanya beberapa siswa tertentu saja yang aktif mengerjakan perintah guru. Dalam membentuk anggota kelompok para siswa lebih memilih teman-teman akrab yang umumnya duduk didekatnya. Beberapa siswa yang pandai berteman dengan siswa yang pandai dan yang biasanya suka bergurau akan berteman dengan siswa lain yang suka bergurau. Oleh sebab itu pembelajaran menjadi tidak bermakna. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan merubah cara/model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa seperti pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab. Model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif karena pembelajaran di dalam kelas selalu didominasi oleh guru. Suasana pembelajaran yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari sedangkan guru banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif). Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang berkembang saat ini. Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran (Slavin 2008 04). Salah satu bentuk dari pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Setiap kelompok memiliki anggota yang heterogen baik jenis kelamin maupun kemampuan akademiknya. Dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw siswa dilatih untuk bekerja sama saling mendengarkan pendapat teman dan bertanggung jawab menunjukkan penguasaan terhadap materi yang ditugaskan kepadanya. Berdasarkan latar belakang masalah di atas perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung . METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Rejotangan 01 yang terletak di jalan Kandung Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) semester 1 tahun pelajaran 2009-2010 pada materi pemerintahan kabupaten dan kota. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 24 siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung pada semester I Tahun Ajaran 2009-2010. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Sesuai dengan jenis penelitian tindakan peneliti terlibat secara penuh dan langsung dalam setiap siklus selama penelitian. Adapun bentuk penelitian tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kolaboratif. Dalam penelitian kualitatif disebutkan bahwa peneliti merupakan instrumen kunci maka dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Data dalam penelitian ini meliputi (1) data hasil observasi selama pembelajaran (2) skor hasil observasi kemampuan guru (3) skor tes siswa yang berasal dari evaluasi (4) data yang diperoleh dari catatan lapangan selama pembelajaran berlangsung. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa digunakan kriteria ketuntasan belajar berdasarkan ketentuan yang tercantum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SDN Rejotangan 01 sebagai berikut a. Siswa dianggap telah menuntaskan belajar pada suatu pokok bahasan tertentu apabila telah menguasai 60% dari pokok bahasan dengan skor minimal 65. Jika penguasaan kurang dari 60% maka siswa masuk kelompok program perbaikan. Jika penguasaan siswa 60% ke atas pada suatu pokok bahasan maka masuk kelompok program pengayaan. b. Kelas dianggap telah tuntas terhadap penguasaan pokok bahasan apabila 70% dari siswa suatu kelas telah mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM) yakni skor minimal 65 atau mencapai penguasaan 60% ke atas dari pokok bahasan yang dipelajari. Sesuai dengan jenis penelitian tindakan penelitian ini menggunakan desain penelitian yang dikemukakan oleh Mulyasa (2009 73).. Untuk setiap siklus peneliti akan melakukan kegiatan yang diawali dengan perencanaan kemudian melakukan tindakan observasi tindakan dan refleksi. Dan apabila tindakan tersebut masih belum memenuhi target pemenuhan standar ketuntasan minimal maka dilakukan siklus berikutnya. Tahapan penelitian tindakan berdasarkan bagan yang telah dikemukakan oleh Mulyasa (2009 73) dapat dijelaskan sebagai berikut 1. Tahap Pra Tindakan Kegiatan yang dilakukan peneliti pada tahap ini antara lain melakukan observasi awal yaitu mengobservasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru wali kelas IV mengumpulkan data/permasalahan hasil tes pada tahap pra tindakan dan merefleksi. Data hasil dari refleksi tersebut didiskusikan bersama guru kelas IV untuk dapat menentukan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus I. Sebelum itu peneliti juga berdiskusi dengan guru kelas IV untuk menentukan mata pelajaran apa yang akan diteliti kapan pelaksanaan penelitian metode yang akan digunakan dan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran yang akan dilakukan oleh peneliti. Selain itu peneliti bersama guru kelas IV juga mendiskusikan instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Peneliti juga menjelaskan kepada guru tersebut selaku obsever ketika peneliti melakukan pembelajaran siklus I tentang cara menilai aktivitas siswa pada saat melakukan dikusi dengan model Jigsaw. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Siklus I 1) Perencanaan tindakan siklus I Perencanaan siklus I ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut 61607 Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw. 61607 Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota. 61607 Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran. 61607 Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS) 61607 Peneliti membuat evaluasi untuk siswa 61607 Peneliti mengembangkan format penilaian 61607 Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal penilaian keberanian siswa dalam bertanya menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus I Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan siklus I ini adalah sebagai berikut 61607 Peneliti membuka pelajaran dengan salam do a dan memeriksa kehadiran siswa. 61607 Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota. 61607 Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran. 61607 Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota. 61607 Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal. 61607 Peneliti membagikan lembar kerja yang terdiri dari 4 soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam kelompok asal. 61607 Peneliti berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor soal yang diperolehnya. 61607 Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing. 61607 Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli. 61607 Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja. 61607 Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. 61607 Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian hasil evaluasi tersebut dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus I Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus I berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk mengamati dan menilai tingkah laku siswa dalam pembelajaran. Hal-hal yang diobservasi antara lain mengenai kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok (baik dalam kelompok ahli maupun dalam kelompok asal) tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran ketelitian siswa dalam mengerjakan soal sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan ketepatan jawaban. Dalam mengobservasi guru menggunakan instrumen yang telah dibuat sebelumnya. Hasil dari observasi ini digunakan sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus I Pada akhir siklus I diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I yang akan digunakan untuk bahan perencanaan tindakan pada siklus II. b. Siklus II 1) Perencanaan tindakan siklus II Permasalahan-permasalahan baru yang muncul dari hasil releksi pada siklus I selanjutnya akan dibuat suatu perencanaan tindakan untuk siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti sama dengan yang dilakukan pada tahap perencanaan tindakan siklus I yaitu 61607 Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw. 61607 Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota. 61607 Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran. 61607 Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS) 61607 Peneliti membuat evaluasi untuk siswa 61607 Peneliti mengembangkan format penilaian 61607 Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal penilaian keberanian siswa dalam bertanya menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus II Di dalam tahap pelaksanaan siklus II peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanan yang telah dibuat yaitu seabagai berikut 61607 Peneliti membuka pelajaran dengan salam do a dan memeriksa kehadiran siswa. 61607 Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota. 61607 Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran. 61607 Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota. 61607 Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal. 61607 Peneliti membagikan amplop yang didalamnya terdapat kartu soal dengan nomor yang berbeda untuk masing-masing anggota pada kelompok asal. 61607 Siswa berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor amplop yang diperolehnya. 61607 Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing. 61607 Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban/pemecahan semua masalah pada masing-masing surat yang terdapat pada amplop yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli. 61607 Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja. 61607 Peneliti mengadakan permainan adu cepat memasang jawaban pada bagan struktur organisasi pemerintahan kabupaten/kota. 61607 Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. 61607 Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus II Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus II berlangsung. Observasi ini dilaksanakan berdasarkan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Data yang peroleh dari observasi pada siklus II dikumpulkan untuk dijadian sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus II Pada akhir pembelajaran siklus II diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus II. Apabila hasil yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan siklus II maih belum memuaskan maka dapat dilaksanakan siklus III dan seterusnya. HASIL PENELITIAN 1. Penelitian Pra Tindakan Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa proses pembelajaran menggu-nakan pendekatan tradisional yakni seorang guru secara aktif mengajarkan materi PKn kemudian memberikan soal-soal dan latihan masih menekankan pada hafalan. Data hasil belajar siswa seperti yang terdapat pada tabel berikut Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Sebelum Pelaksanaan Tindakan No Nama Siswa Nilai Ketuntasan T BT 1. M. Muklis Hidayat 40 Belum Tuntas 2. Septi Ika Setyowati 40 Belum Tuntas 3. Yofi Yolanda 50 Belum Tuntas 4. Alroy Eko Ardinto 60 Belum Tuntas 5. Andre Baruna A. 60 Belum Tuntas 6. Angga Riski Hartiana 65 Tuntas 7. Anggi Anggraini 70 Tuntas 8. Aries Fajar Subeqi 70 Tuntas 9. Boby Hermawan 75 Tuntas 10. Desi Wahyuningsih 50 Belum Tuntas 11. Devita Dwi Lisanda 55 Belum Tuntas 12. Dian Puji Astuti 70 Tuntas 13. Elok Aprilia 40 Belum Tuntas 14. Frida Wahyu H. 50 Belum Tuntas 15. Inti Ginartyas 55 Belum Tuntas 16. Kevin Baruna A. 70 Tuntas 17. M. Ardan Dwicahya 50 Belum Tuntas 18. M. Abdul Gafur 75 Tuntas 19. Niken Dwi Ratnasari 45 Belum Tuntas 20. Novriyan Isroq A. 40 Belum Tuntas 21. Reza Nurbangga H.A 60 Belum Tuntas 22. Wahyu Ryan W. 45 Belum Tuntas 23. Reza Lutvi Andika 70 Tuntas 24. Satria Sabilillah 75 Tuntas Jumlah 1380 9 15 Rata-rata 57 5 % Ketuntasan 37 5% 62 5% Dari tabel 4.1 di atas dapat dijelaskan bahwa pembelajaran PKn yang dilakukan guru kelas IV pada tahap pra tindakan (sebelum menggunakan model pemebalajaran kooperatif Jigsaw) belum berhasil. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran tersebut. Dari KKM yang ditentukan yaitu 65 yang memperoleh nilai di atas KKM hanya 9 siswa sedangkan 15 siswa yang lain nilainya masih berada di bawah KKM. Rata-rata nilai keseluruhan siswa hanya 57 5. Itu berarti skor ketuntasan siswa kelas IV hanya 37 5% dari batas minimal ketuntasan rata-rata satu kelas yaitu 70%. Berdasarkan data yang telah diperoleh dalam observasi kegiatan pembelajaran pada tahap pra tindakan maka refleksi pada kegiatan ini yaitu (1) proses belajar mengajar berlangsung dengan berpusat pada guru (2) soal-soal yang diberikan guru pada kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung hanya berpusat pada buku paket (3) guru belum menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat membangkitkan aktifitas siswa dalam pembelajaran (4) sumber utama belajar adalah guru (5) hasil belajar yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan yaitu skor minimal 65. Dari hasil analisis refleksi pada tahap ini maka perlu diadakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw pada siklus I dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa terkait dengan materi pemerintahan kabupaten dan kota. 2. Penelitian Siklus I a. Perencanaan Tindakan Siklus I Perencanaan ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) PKn dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten/kota. Peneliti menyiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran yaitu berupa struktur pemerintahan kabupaten/kota pada kertas manila. Peneliti membuat lembar kerja siswa (LKS) yang terdiri dari 4 soal uraian dan evaluasi untuk masing-masing siswa yang terdiri dari 5 soal uraian. peneliti membuat format penilaian LKS dan evaluasi siswa dan peneliti menyusun lembar observasi yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok penilaian keberanian siswa dalam bertanya dan mengungkapkan pertanyaan penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal penilaian sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan penilaian ketepatan jawaban siswa. b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pertemuan pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 07 Januari 2010 materi yang disampaikan adalah pemerintahan kabupaten/kota. Pelaksanaan tindakan siklus I ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Pada kegiatan akhir pembelajaran guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan segala sesuatu terkait dengan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan idenya terkait dengan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok keaktifan siswa dalam pembelajaran keberanian siswa dalam bertanya menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 7 8 7 2 - 2. Keaktifan 7 7 8 2 - 3. Keberanian 5 9 5 5 4. Menghargai pendapat teman - 7 7 8 2 5. Ketepatan jawaban 2 10 5 5 2 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik ada 7 siswa yang skornya baik 8 siswa cukup 7 siswa dan yang kerjasamanya masih kurang hanya ada 2 siswa. Pada aspek keaktifan siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 7 siswa yang mendapat skor baik ada 7 siswa yang skornya cukup ada 8 siswa dan yang mendapat skor kurang ada 2 siswa. Pada aspek keberanian siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa skor baik ada 9 siswa skor cukup ada 5 siswa dan siswa yang skornya masih kurang ada 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman tidak ada siswa yang mendapat skor sangat baik. Siswa yang mendapat skor baik ada 7 siswa yang mendapat skor cukup ada 7 siswa skor kurang ada 8 siswa dan siswa yang mendapat skor sangat kurang atau sama sekali tidak menghargai pendapat teman ada 2 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas siswa yang mendapat skor sangat baik ada 2 siswa skor baik ada 10 siswa skor cukup ada 5 siswa skor kurang ada 5 siswa dan siswa yang mendapat skor sangat kurang hanya ada 2 siswa. Pada pembelajaran siklus I diperoleh nilai dari tugas yang diberikan oleh guru kelas IV secara kelompok maupun individu. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok baik kelompok ahli maupun kelompok asal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Tabel 4.3 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 10 20 15 15 60 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 20 15 15 60 BT 3. Yofi Yolanda 10 20 15 15 60 BT 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 15 60 BT 5. Andre Baruna A. 20 15 15 20 70 T 6. Angga Riski Hartiana 20 15 15 20 70 T 7. Anggi Anggraini 20 15 15 20 70 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 15 15 20 70 T 9. Boby Hermawan 20 15 20 20 75 T 10. Desi Wahyuningsih 20 15 20 20 75 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 15 20 20 75 T 12. Dian Puji Astuti 20 15 20 20 75 T 13. Elok Aprilia 10 20 20 15 65 T 14. Frida Wahyu H. 10 20 20 15 65 T 15. Inti Ginartyas 10 20 20 15 65 T 16. Kevin Baruna A. 10 20 20 15 65 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 10 20 15 70 T 18. M. Abdul Gafur 25 10 20 15 70 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 10 20 15 70 T 20. Novriyan Isroq A. 25 10 20 15 70 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 10 10 60 BT 22. Wahyu Ryan W. 20 20 10 10 60 BT 23. Reza Lutvi Andika 20 20 10 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 20 10 10 60 BT Jumlah 420 400 400 380 1600 16 8 Rata-rata 67 Keterangan T Tuntas BT Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja kelompok sebanyak 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar hanya 8 siswa dari 24 siswa. Rata-rata nilai pada lembar keja kelompok adalah 67. Hal tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh dalam kerja kelompok sudah di atas KKM yang ditetapkan yaitu 65. Sedangkan hasil nilai belajar siswa pada lembar evaluasi yang dikerjakan secara individu dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut. Tabel 4.4 Penilaian Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 1. M. Muklis Hidayat 5 5 10 10 10 40 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 10 10 10 10 50 BT 3. Yofi Yolanda 20 10 10 15 15 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 20 5 70 T 5. Andre Baruna A. 20 10 20 10 20 80 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 20 10 15 85 T 7. Anggi Anggraini 20 10 20 10 20 80 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 10 20 20 90 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 20 100 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 15 20 95 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 10 20 90 T 12. Dian Puji Astuti 10 10 20 10 20 70 T 13. Elok Aprilia 10 10 15 15 10 60 BT 14. Frida Wahyu H. 10 10 10 10 10 50 BT 15. Inti Ginartyas 20 10 10 15 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 20 15 15 20 20 90 T 17. M. Ardan Dwicahya 15 15 10 15 20 75 T 18. M. Abdul Gafur 10 10 10 15 15 60 BT 19. Niken Dwi Ratnasari 10 10 10 15 10 55 BT 20. Novriyan Isroq A. 20 15 10 10 20 75 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 20 20 20 100 T 22. Wahyu Ryan W. 15 20 20 15 20 90 T 23. Reza Lutvi Andika 10 10 15 15 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 15 15 10 10 70 T Jumlah 375 335 355 335 375 1775 17 7 Rata-rata 74 % Ketuntasan 71% 29% Keterangan T Tuntas BT Belum tuntas Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar sejumlah 17 siswa atau 71% dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 24 siswa. Siswa yang belum tuntas belajar sejumlah 7 siswa atau 29% dari 24 siswa. Nilai rata-rata kelas yaitu 74 dan sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 65 Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan sudah berhasil karena siswa yang tuntas belajar sudah mencapai 70% lebih. Jika dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan penguasaan pemahaman pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. d. Refleksi Dari penelitian tindakan pada siklus I diperoleh beberapa temuan diantaranya (a) adanya siswa yang kurang bekerja sama dan pasif selama kegiatan pembelajaran berlangsung ataupun pada saat kerja kelompok. Hal ini dikarenakan selama ini siswa terbiasa dengan bekerja secara individu sehingga kegiatan seperti ini dapat membuat siswa cenderung bersifat egois dan kurang menghargai pendapat orang lain (b) siswa telah memahami konsep yang dipelajari hanya saja siswa belum terbiasa menerapkan kerja kelompok (c) siswa mampu memahami materi yang dipelajari karena kegiatan pembelajaran berlangsung dengan melibatkan pengalaman siswa sehingga siswa mudah untuk menerima dan memahami materi yang dipelajari (d) siswa telah memahami materi yang dipelajari namun siswa kurang teliti dalam menjawab soal-soal yang diberikan sehingga jawaban yang seharusnya tepat menjadi salah. Alangkah baiknya apabila siswa diingatkan untuk menulis jawabannya secara tepat dan teliti. Hal ini dilakukan agar siswa lebih teliti dalam mengisi jawaban yang ditulisnya karena pada umumnya siswa sekarang selalu tegesa-gesa mengerjakan dan kurang memperhatikan ketepatan penulisan jawaban (e) siswa kurang memaknai belajar dengan menggunakan pengalaman dan media. Penyebabnya adalah karena siswa terbiasa untuk belajar dengan mendengarkan penjelasan guru tanpa menggunakan pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. Penelitian Siklus II a. Perencanaan Tindakan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I peneliti merencanakan tindakan berikutnya yang dijabarkan pada siklus II. Pada siklus II ini yang akan dibahas adalah masalah-masalah yang dianggap belum tuntas pada siklus I. b. Pelaksanaan tindakan Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 14 Januari 2010. Materi pokok yang disampaikan adalah Pemerintahan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun dalam perencanaan tindakan siklus II kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Hasil observasi selama proses pembelajaran antara lain adalah siswa begitu antusias mengikuti pemebelajaran. Semua siswa memperhatikan pelajaran dengan baik. Dalam kegiatan kelompok siswa telah berkolaborasi dengan seluruh anggota kelompok baik dalam kelompok ahli maupun kelompok asal tidak nampak siswa yang pasif dalam kerja kelompok. Setiap guru memberikan sebuah permasalahan dan siswa dapat menjawabnya dengan tepat guru memberikan pujian pada siswa tersebut. Pada saat permainan adu cepat menentukan waktu siswa begitu semangat untuk bekerja menyelesaikan tugas yang diberikan. Kegiatan pembelajaran berlangsung menyenangkan. Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 113. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa guru telah melaksanakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua aspek kegiatan dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilakukan guru dengan baik sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok keaktifan siswa dalam pembelajaran keberanian siswa dalam bertanya menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut. Tabel 4.5 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 10 8 3 - - 2. Keaktifan 12 10 2 - - 3. Keberanian 9 10 5 - - 4. Menghargai pendapat teman 5 10 9 - - 5. Ketepatan jawaban 8 9 7 - - Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik meningkat menjadi 10 siswa yang skornya baik 8 siswa cukup 3 siswa. Pada aspek keaktifan siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 12 siswa yang mendapat skor baik ada 10 siswa yang skornya cukup ada 2 siswa. Pada aspek keberanian siswa yang mendapat skor sangat baik ada 9 siswa skor baik ada 10 siswa skor cukup tetap 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa pdahal pada siklus I masih kosong. Siswa yang mendapat skor baik ada 10 siswa yang mendapat skor cukup ada 9 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas siswa yang mendapat skor sangat baik 8 siswa siswa yang mendapat skor baik ada 9 siswa skor cukup ada 7 siswa. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut. Tabel 4.6 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 15 25 20 10 70 T 2. Septi Ika Setyowati 15 25 20 10 70 T 3. Yofi Yolanda 15 25 20 10 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 15 25 20 10 70 T 5. Andre Baruna A. 20 20 25 10 75 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 25 10 75 T 7. Anggi Anggraini 20 20 25 10 75 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 25 10 75 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 80 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 20 80 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 20 80 T 12. Dian Puji Astuti 20 20 20 20 80 T 13. Elok Aprilia 15 20 20 15 70 T 14. Frida Wahyu H. 15 20 20 15 70 T 15. Inti Ginartyas 15 20 20 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 15 20 20 15 70 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 20 20 20 85 T 18. M. Abdul Gafur 25 20 20 20 85 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 20 20 20 85 T 20. Novriyan Isroq A. 25 20 20 20 85 T 21. Reza Nurbangga H.A 10 25 15 15 65 BT 22. Wahyu Ryan W. 10 25 15 15 65 BT 23. Reza Lutvi Andika 10 25 15 15 65 BT 24. Satria Sabilillah 10 25 15 15 65 BT Jumlah 420 520 480 360 1780 20 4 Rata-rata 74 Keterangan T Tuntas BT Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja siswa hanya ada 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 4 siswa dari jumlah siswa secara keseluruhan. Rata-rata nilai kerja kelompok dalam satu kelas ada 74. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata yang semula hanya 67 pada siklus I menjadi 74 pada siklus II. Hasil belajar siswa diperoleh dari nilai lembar evaluasi dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut. Tabel 4.7 Penialaian Hasil Belajar Siswa dalam Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 25. M. Muklis Hidayat 20 20 15 20 10 85 T 26. Septi Ika Setyowati 20 10 20 10 20 80 T 27. Yofi Yolanda 20 20 20 10 10 80 T 28. Alroy Eko Ardinto 20 10 20 15 20 85 T 29. Andre Baruna A. 20 20 20 20 20 100 T 30. Angga Riski Hartiana 20 20 20 20 20 100 T 31. Anggi Anggraini 20 20 20 15 20 95 T 32. Aries Fajar Subeqi 20 20 20 10 20 90 T 33. Boby Hermawan 10 10 20 15 20 75 T 34. Desi Wahyuningsih 20 15 15 20 10 80 T 35. Devita Dwi Lisanda 10 10 15 10 15 60 BT 36. Dian Puji Astuti 20 10 15 15 15 75 T 37. Elok Aprilia 20 15 15 20 20 90 T 38. Frida Wahyu H. 15 15 10 20 20 80 T 39. Inti Ginartyas 10 10 10 15 15 60 BT 40. Kevin Baruna A. 15 15 10 15 15 70 T 41. M. Ardan Dwicahya 20 15 15 10 20 80 T 42. M. Abdul Gafur 20 20 20 20 20 100 T 43. Niken Dwi Ratnasari 20 20 20 20 20 100 T 44. Novriyan Isroq A. 10 20 15 20 20 85 T 45. Reza Nurbangga H.A 20 15 15 20 10 80 T 46. Wahyu Ryan W. 20 20 15 20 10 85 T 47. Reza Lutvi Andika 20 10 20 10 20 80 T 48. Satria Sabilillah 20 20 20 10 10 80 T Jumlah 430 385 390 380 410 1995 22 2 Rata-rata 83 % Ketuntasan 92% 8% Keterangan T Tuntas BT Belum tuntas Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dari 24 siswa 22 siswa telah dikategorikan tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan individu 60%. Sedangkan ketuntasan kelas yang diharapkan adalah 70% telah tercapai 92%. Rata-rata nilai kelasnya juga mengalami peningkatan. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas 74 mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 83. Nilai tertinggi pada siklus ini terdapat paa rentangan 85-100 sedangkan nilai terendah terdapat pada rentangan 55-60. Siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa atau 8% dari jumlah siswa secara keseluruhan. Apabila dibandingkan dengan siklus I telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan pemahaman konsep pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran siklus II telah berhasil. d. Refleksi Siswa yang sebelumnya kurang aktif dan siswa yang membuat keramaian pada pelaksanaan siklus II ini sikap mereka berubah. Siswa yang sebelumnya cenderung kurang aktif mulai aktif dengan kelompoknya menggunakan media yang digunakan guru dan bekerja sama dengan kelompoknya. Sedangkan siswa yang ramai saat kerja kelompok telah merubah sikapnya dengan ikut aktif bekerjasama dalam kelompok. Setiap anggota kelompok mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari guru bahwa dengan bekerja sama siswa akan dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru dengan cepat dan mudah. Siswa mampu memahami materi yang disampaikan mampu menjawab soal-soal yang diberikan guru dengan melibatkan pengalamannya berkolaborasi dengan teman satu kelompok dan melaporkan hasil kerja kelompoknya mengevaluasi hasil kerja sendiri ataupun kelompok lain. 3. Peningkatan Hasil Belajar Dari Pra Tindakan Sampai Siklus III Pada tahap pra tindakan yang dilakukan oleh guru kelas IV sama sekali tidak menerapkan metode pembelajaran yang menyenagkan dan menarik perhatian siswa. Pada tindakan siklus I peneliti mulai menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal maksimal. Pada tindakan siklus II peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang dikombinasi dengan suatu permainan yang membangkitkan antusias murid dalam pembelajaran. Berikut ini adalah rekapitulasi hasil belajar siswa pada tahap pra tindakan siklus I siklus II dan siklus III. Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Pada Pra Tindakan Siklus I Siklus II Kegiatan Tuntas Belajar Belum Tuntas Persentase Ketuntasan Pra Tindakan 9 siswa 15 siswa 37 5% Siklus I 17 siswa 7 siswa 71% Siklus II 22 siswa 2 siswa 92% Berdasarkan tabel di atas ketuntasan belajar siswa pada tahap pra tindakan adalah 37 5% atau hanya 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sehingga mengalami perbaikan ada 15 siswa. Setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada siklus I oleh peneliti terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa. Sebanyak 71% atau 17 dari 24 siswa telah tuntas belajar. Pada pembelajaran siklus I ini peneliti melakukan 7 kali penilaian yang meliputi penilaian LKS evaluasi kerjasama siswa keberanian siswa dalam bertanya keaktifan dalam mengikuti pembelajaran sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan ketepatan jawaban siswa. Pada pelaksanaan tindakan siklus II mengalami peningkatan lebih baik dibandingkan pada pelaksanaan tindakan siklus I. Nilai rata-rata kelas pada kegiatan evaluasi dari 74 pada siklus I meningkat menjadi 84 pada siklus II. Nilai hasil belajar juga mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 71% menjadi 92% pada siklus II. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dan siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa. Siswa juga menjadi lebih aktif dan antusias mengikuti pembelajaran dari kegiatan awal hingga akhir. Pada siklus II tidak siswa yang mendapat skor kurang ataupun sangat kurang pada penilaian prosesnya. Guru juga telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir sudah sesuai dengan RPP yang telah direncanakan sebelum pembelajaran berlangsung. Semua aspek dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilaksanakan dengan baik. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar dapat meningkat dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran searta bersedia mendengarkan penjelasan guru dan melakukan kerjasama yang baik dengan teman-temannya. Setiap tugas yang diberikan guru mampu dilaksanakan siswa dngan baik meskipun masih ada siswa yang kurang aktif tetapi jumlahnya sangat sedikit. PEMBAHASAN 1. Pelaksanaan Pembelajaran Pada Tahap Pra Tindakan Hasil pelaksanaan pembelajaran Pkn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan menunjukkan proses pembelajaran masih bersifat tradisional. Guru tidak membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebelum pembelajaran dimulai. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa terlihat malas/tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Banyak siswa yang mengantuk dan tidak bersemangat karena guru lebih sering lebih sering menggunakan metode ceramah sehingga proses pembelajaran hanya terjadi satu arah yaitu dari guru kepada siswa karena pembelajaran berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kegiatan siswa hanya mendengar mencatat dan mengerjakan soal/latihan yang diberikan guru. Kekurangan lain pada metode ceramah ini seperti yang dikemukakan Sumantri dkk (1988 139) yaitu dapat menimbulkan kejenuhan peserta didik dan tidak merangsang kreativitas peserta didik. Guru hanya berpedoman pada buku paket dan tidak menggunakan berbagai sumber ilmu lainnya apalagi memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar bagi siswa. Kekurangan metode ceramah ini dapat ditutupi dengan penggunaan metode yang bervariasi. Tujuannya adalah supaya siswa tidak merasa bosan dan tertarik terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan penggunaan mtode yang tepat siswa dapat membangun konsep sendiri. Hal ini sesuai dengan teori belajar Piaget (dalam Hamalik 1994 131) yang berbasis konstruktivisme yaitu membangun konsep sendiri melalui pengalaman langsung (belajar penemuan). Pengalaman itu dapat siswa peroleh dari lingkungan sekitar ataupun media yang digunakan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran. Pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV menunjukkan bahwa guru tidak menggunakan media sebagai sarana untuk menyampaikan informasi. Oleh sebab itu siswa kurang dapat menerima pelajaran yang disampaikan dengan baik karena siswa belum mengerti maksud dari pembelajaran tersebut. Hal ini dikarenakan siswa kelas IV SD yang berada pada rentang umur 9-10 tahun masih berada pada tahap berpikir operasionl konkrit yaitu siswa berpikir melalui apa yang dilihatnya. Penggunaan media terutama benda nyata sangat dianjurkan dalam dunia pendidikan untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi serta mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Manfaat lain dari media seperti yang dikemukakan oleh Sadiman dkk (2006 17) yaitu dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan) mengatasi sifat pasif anak didik menimbulkan kegairahan belajar dan memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. Dari hasil observasi awal pada tahap pra tindakan diperoleh data bahwa siswa tidak menunjukkan kerjasama dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tidak membentuk kelompok untuk mengadakan diskusi. Guru hanya memberikan tugas individu kepada siswa. Keberanian siswa juga belum tampak karena siswa tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Keaktifan siswa juga kurang karena guru hanya menggunakan metode ceramah di dalam melaksanakan pembelajaran. Sedangkan untuk soal yang dikerjakan siswa guru hanya meneliti sekilas tanpa memberikan skor untuk ketelitian dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian yang dilakukan guru hanya penilaian dari tugas yang diberikan. Hasil dari tugas tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh siswa sangat kurang yaitu nilai rata-rata satu kelas hanya mencapai 57 5. Hal ini dapat disebabkan karena guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Untuk memperbaiki hasil belajar siswa maka peneliti melakukan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai sarana untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga hasil belajarnya juga akan meningkat. 2. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Pada Pelajaran PKn di Kelas IV a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I ini sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Jigsaw menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran terutama pada saat diskusi kelompok. Hal ini nampak dari antusias yang ditunjukkan siswa ketika melakukan diskusi kelompok dengan kelompok ahli maupun dengan kelompok asalnya . Setiap kelompok ahli mampu menjawab pertanyaan (memecahkan masalah) yang diberikan sehingga ketika kembali pada kelompok asalnya siswa mampu menjelaskan/ mengajarkannya pada siswa yang lain di kelompok asalnya. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Ketika melakukan pembelajaran peneliti melakukan observasi untuk menilai aktivitas siswa yang meliputi kerjasama keberanian keaktifan ketelitian sikap siswa dan ketepatan jawaban. Kerjasama ini bertujuan untuk membangun jiwa sosial siswa dalam berhubungan dengan teman ataupun orang lain. Keberanian yang dimaksud pada observasi ini adalah keberanian dalam bertanya mengungkapkan pendapat dan menjawab pertanyaan dari guru. Tujuannya adalah untuk membangun keberanian siswa dalam berpendapat. Penilaian keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran bertujuan untuk melihat seberapa besar perhatian siswa terhadap pembelajaran dari awal sampai akhir. Penilaian ketelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketelitian siswa dalam mengerjakan soal. Peneliti juga melakukan penilaian terhadap siskap siswa dalam menghargai pendapat temannya. Penilaian ini bermanfaat untuk melatih sikap moral siswa untuk selalu menghargai pendapat teman dalam kehidupan sehari-hari terutama pada saat bermusyawarah. Selain itu aspek terakhir yang dinilai adalah kebenaran jawaban. Dalam hal ini yang dinilai hanya jawaban akhir saja tanpa melihat cara yang digunakan siswa dalam mengerjakan soal. Dari hasil penelitian pada sikus I dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ternyata ada peningkatan nilai dari pembelajaran sebelumnya (sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw). Demikian juga pada keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat kerjasama siswa dalam mengerjakan soal ketelitian siswa dalam mengerjakan soal sikap siswa dalam menghargai pendapat teman dan ketepatan jawaban juga mengalami peningkatan. Peningkatan nilai kerjasama siswa mencapai 64% prosentase keaktifan siswa hanya 63% prosentase keberanian siswa 60% prosentase ketelitian siswa dalam mengerjakan soal hanya mencapai 54% prosentase untuk sikap siswa dalam mengahargai pendapat teman dan ketepatan dalam nejawab pertanyaan nilainya sama yaitu hanya 51%. Akan tetapi dari data tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran masih sangat rendah karena nilai rata-rata yang diperoleh masih kurang dari standar yang telah ditentukan yaitu 70%. Sedangkan peningkatan nilai dari tes dapat diketahui dari nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa yaitu 67 dan sebanyak 20 siswa atau 67% dari 24 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 74 dan sebanyak 17 atau 71% siswa yang tuntas belajar. Siswa dikategorikan tuntas belajar apabila sudah mencapai nilai KKM yaitu 65. Adapun prinsip belajar tuntas pada materi pemerintahan kabupaten/kota ini adalah setiap siswa tuntas jika dapat mencapai hasil yang telah ditetapkan yaitu 65 dalam menyelesaikan materi tersebut. Hal ini sesuai dengan teori belajar tuntas menurut Suryosubroto (2002 96) yang mengatakan bahwa belajar tuntas adalah belajar yang dilakukan dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan . Peneliti menyadari bahwa pada tindakan siklus I ini masih banyak hal yang harus dilakukan dan perlu ditingkatkan pada siklus berikutnya salah satunya adalah belum tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan diselingi permainan/game dalam penerapannya. Dalam pembelajaran siklus II ini peneliti menggunakan media berupa empat amplop yang berisi soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam satu kelompok yang nantinya dipecahkan bersama kelompok ahli. Media ini adalah media untuk permainan sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. Dari hasil tindakan siklus II ini dapat diketahui nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa adalah 74 dan ada 83% atau sebanyak 20 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 83 dan ada 92% atau sebanyak 22 siswa yang tuntas belajar. Ini berarti ada peningkatan nilai dari tindakan siklus I dengan pembelajaran pada tindakan siklus II. Peningkatan ini dapat terjadi karena peneliti telah menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan suatu permainan. Sedangkan untuk hasil observasi siswa sudah menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pelajaran adanya kerjasama yang baik antarsiswa mereka juga sudah cukup berani dalam bertanya menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pendapat. Dalam ketepatan menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru siswa sudah mengalami peningkatan dari siklus I. Hal ini dapat dilihat dari nilai masing-masing aspek sudah lebih dari 70% dari skor maksimal yaitu 72. Nilai kerjasama siswa dalam mengerjakan tugas kelompok sudah cukup baik yaitu mencapai 89% dari skor maksimal. Nilai keseluruhan dalam satu kelas untuk aspek keaktifan sudah mencapai 85%. Itu menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pembelajaran. Untuk 4 aspek yang lain nilai keseluruhan untuk satu kelas sudah cukup baik yaitu 71% dan 72% nilai keseluruhan yaitu 72. Selain penggunaan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ternyata metode permainan yang digunakan oleh peneliti dapat merangsang kreativitas siswa membuat suasana pembelajaran menjadi tidak membosankan dan meningkatkan kerjasama dalam kelompok. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Sadiman (2006 17) tentang fungsi permainan dalam pembelajaran yaitu untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan . 3. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Dari tabel 4.8 dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar meningkat sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena peneliti telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam pembelajaran PKn dengan baik. Pada siklus I penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw tidak dikombinasikan dengan kegiatan permaianan. Pada siklus II penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw diselingi dengan permainan adu kecepatan waktu sehingga siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran. Dalam setiap tindakan siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap materi Pemerintahan Kabupaten/Kota yang sekaligus berimbas pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pelajaran PKn. Pembelajaran juga berlangsung aktif dan menyenangkan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diperoleh beberapa kesimpulan antara lain 1. Hasil belajar PKn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan belum mengalami ketuntasan belajar karena kurang dari 50% siswa yang mampu mencapai batas nilai KKM yaitu 65. Siswa belum dapat melakukan kerjasama yang baik dengan teman dan tidak bersemangat dalam pembelajaran. 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada pelajaran PKn pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap pra tindakan hanya 37 5% atau 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan pada siklus I sebanyak 71 % atau 17 siswa dan pada siklus II sebanyak 92% atau 22 siswa dari 24 siswa yang tuntas belajar. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan mampu melakukan kerjasama yang baik dengan temannya baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. 3. Peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terlihat dari persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada evaluasi pra tindakan 37 5% meningkat 33 5% pada siklus I menjadi 71%. Dari siklus I ke siklus II meningkat 21% dari 71% menjadi 92%. Saran Berikut adalah beberapa saran yang diajukan dari hasil penelitian ini 1. Berdasarkan hasil belajar pada tahap pra tindakan maka disarankanguru dalam menyampaikan materi hendaknya menerapkan model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya mampu mengaktifkan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan siswa sehari-hari sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. 2. Berdasarkan penerapan model pembelajarn kooperatif Jigsaw maka disarankan guru lebih aktif dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini untuk diterapkan pada mata pelajaran yang lain. 3. Berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw maka para guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan belajar mengajar.


Informasi Detail
DDC
Rs 372.832044 PUS p
Prodi
Universitas Negeri Malang. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2010.
Deskripsi Fisik
xiii, 121 lembar : il., tab. ; 30 cm.
Bahasa
Indonesia
No Reg
01650/KI/10
Edisi
Skripsi (Sarjana)--Universitas Negeri Malang, 2010
Subjek
1. PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PENDIDIKAN DASAR) - PRESTASI BELAJAR
2. PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (PENDIDIKAN DASAR) - PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

Pembimbing
1. SUWARTI ; 2. SUTJI RAHAYU
Lampiran Berkas
You must be logged in to get fulltext


UPT Perpustakaan UM
  • Berita

Tentang Kami

TIM IT Perpustakaan 2023

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik