Skripsi
Kesenian gandrung Banyuwangi dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi pendidikan / Ratna Oktavianing Tyas
Abstrak
ABSTRAK Tyas Ratna Oktavianing. Kesenian Gandrung Banyuwangi Dan Nilai-Nilai Yang Bermanfaat bagi Pendidikan. Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Purwatiningsih M.Pd. Kata kunci Kesenian gandrung Nilai-nilai kesenian gandrung. Kesenian gandrung merupakan kesenian tradisional Kabupaten Banyuwangi yang hingga saat ini masih berkembang pesat baik di dalam wilayah Kabupaten Banyuwagi maupun di luar wilayah Kabupaten Banyuwangi. Pada dasarnya kesenian gandrung merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang pribumi. Dalam rangkaian pertunjukannya kesenian gandrung menyimpan banyak nilai yang terlihat maupun tidak oleh karena itu penulisan ini bertujuan untuk mendiskripsikan sejarah kesenian gandrung bentuk penyajian kesenian Gandrung serta memaparkan nilai-nilai yang terdapat pada kesenian gandrung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam penelitian ini prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara observasi dan dokumentasi. Seluruh data dideskripsikan dalam bentuk kata-kata gambar dan bukan angka-angka. Lokasi penelitian berada di Desa Sumber Agung Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi Desa Krajan Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi serta Desa Gladag Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Subyek penelitiannya adalah pertunjukan kesenian gandrung sedangkan analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data sajian data serta penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data dilakuakan dengan trianggulasi yang terdiri dari trianggulasi metode dan trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian gandrung Banyuwangi muncul sejak tahun 1771 yaitu pada masa penjajahan belanda. Hal itu pula yang menjadikan kesenian gandrung sebagai kesenian tradisional kerakyatan karena lahirnya kesenian gandrung berawal dari rakyat Blambangan yang waktu itu sedang di jajah belanda. Pada mulanya kesenian gandrung mengadakan pertunjukannya dengan berkeliling kampung guna menghibur masyarakat yang sedang berduka karena anggota keluarganya meninggal dunia dalam perang melawan penjajah. Di akhir pertunjukan tersebut biasanya para pemain kesenian gandrung khususya penari mendapat imbalan berupa beras. Dalam perkembangannya kesenian gandrung tetap berfungsi sebagai penghibur masyarakat dalam acara-acara tertentu misalnya hajatan. Sedangkan bentuk penyajiannya meliputi pembukaan yang di sebut dengan babak jejer kemudian dilanjutkan dengan babak paju dan di akhir pertunjukan di tutup dengan babak seblang subuh. Pada pertunjukan awal hingga akhir serta mengacu pada latar belakang sejarah kesenian gandrung terdapat beberapa nilai yaitu nilai perjuangan nilai sosial nilai ekonomi nilai seni nilai hiburan nilai ketrampilan nilai kepercayaan nilai kekeluargaan nilai cinta budaya daerah nilai ilmu budaya nilai moral nilai keindahan dan nilai persatuan.