Skripsi
Persepsi guru SMA Katolik Kota Malang tentang kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran ekonomi kelas X semester I / Isabel Coryunitha Panis
Abstrak
ABSTRAK Panis Isabel C. 2010. Persepsi Guru SMA Katolik Kota Malang tentang Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Ekonomi kelas X semester I. Skripsi Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing ( I) Dr. A.J.E. Toenlioe M. Pd.(II) Dra. Susilaningsih Kata Kunci Persepsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan potensi sekolah/ daerah karakteristik sekolah/daerah sosial budaya masyarakat setempat dan karakteristik peserta didik. KTSP merupakan upaya dalam meyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru oleh karena itu guru banyak dilibatkan sehingga para guru diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan selalu relevan dan kompetitif. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tujuan Penelitian (1)Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Standar kompetensi dalam pelajaran Ekonomi dalam KTSP. (2) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang kompetensi Dasar pelajaran Ekonomi dalam KTSP. (3) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Strategi Pembelajaran Ekonomi dalam KTSP. (4) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Evaluasi Pembelajaran Ekonomi dalam KTSP. Berdasarkan penelitian ini yang lebih ditekankan adalah bagaimana prosesnya bukan semata-mata bagaimana hasilnya. Oleh karena itu pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan obyek atau sasaran dari penelitian ini yaitu persepsi guru ekonomi tentang KTSP. Isu yang diangkat dalam penelitian ini yaitu didasarkan pada adanya ketidakseimbangan pemahaman guru/ para penyelenggara dan para pelaksana termasuk kepala sekolah terhadap kurikulum. Menurut Yin (1981) penelitian dijadikan kajian studi kasus harus memenuhi dua syarat. Dua syarat tersebut adalah spesifik dan mempunyai batasan yang tegas. Subyek spesifik dan batasan yang tegas dari persepsi guru SMA katolik Kota Malang mengenai KTSP ekonomi ialah guru ekonomi SMA Katolik Kota Malang yang memiliki batasan materi pelajaran di kelas X semester I Selain itu penelitian ini lebih difokuskan pada standar kompetensi kompetensi dasar strategi pengembangan dan evaluasi pembelajaran mengenai KTSP mata pelajaran ekonomi. Dalam penelitian ini sampel yang dipilih adalah para guru ekonomi di SMA Katolik kota Malang sebanyak 10 Orang ( 4 orang guru SMA St. Albertus 2 orang Guru SMA St. Yusuf 2 Orang guru SMA Santa Maria dan 2 Orang guru SMA Frateran). Berdasarkan sumber data yang ada dalam penelitian ini data yang ingin diperoleh yaitu Data Primer. Data Primer merupakan data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan secara langsung dari sumbernya diamat dan dicatat langsung dari objeknya dalam hal ini adalah 10 Orang guru ekonomi di SMA Katolik kota Malang( 4 Guru SMAK St.Albertus 2 Guru SMAK St. Yusuf 2 Guru SMAK Santa Maria 2 Guru SMAK Frateran). Data yang diperoleh dari sumber primer yaitu data mengenai persepsi guru ekonomi tentang KTSP. Data Sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku foto-foto dan dokumen lainnya yang terkait dengan persepsi guru ekonomi SMA Katolik Kota Malang. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yakni (1) Persepsi guru tentang Standar kompetensi pada materi pokok mata pelajaran ekonomi yang dibahas dalam standar kompensi pada KTSP penting untuk dipertahankan dan dikembangkan sebab materi tersebut merupakan materi dasar untuk memahami pengetahuan tentang ekonomi secara keseluruhan. Dalam pelaksanaannya para guru mengalami kesulitan sebab penekanan KTSP yang memberikan wewenang kepada sekolah untuk berkreatif dalam pembelajaran akan berbenturan dengan sarana pembelajaran yang terbatas pada sekolah. Selain itu masalah waktu yang sangat singkat akan mempersulit para guru dalam mengaplikasi materi tersebut dalam tindakan nyata. (2) penjabaran materi dari KTSP khususnya dalam kompetensi dasar sangat menarik perhatian para guru dan siswa. Materi yang ditawarkan oleh KTSP akan memampukan siswa untuk memahami dunia ekonomi. Dalam mengembangkan materi pada kompetensi dasar para guru lebih banyak memberikan contoh dalam tindakan dan realita kehidupan harian siswa sehingga dengan demikian pengetahuan tersebut benar-benar terserap oleh siswa. (3) persepsi guru mengenai strategi pengembangan pendidikan yang dikembangkan dalam KTSP pada dasarnya program ini dapat diterima dan dipertahankan sebab point-point yang ada dalam program tersebut mampu menciptakan mutu pendidikan yang lebih baik. Namun tidak dapat diingkari suatu kenyataan bahwa dalam pelaksanaan program ini pemerintah melaksanakannya dengan setengah hati hal ini terlihat jelas dalam program peningkatan sarana pembelajaran bagi sekolah dimana pemerintah menerapkan program sistem komputerisasi tetapi pemerintah sendiri tidak mengalokasikan dana pengadaan sarana pembelajaran bagi sekolah khusunya sekolah swasta.(4) Sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh seseorang dalam kehidupan bermasyarakat akan menjadi tolak ukur penilai pribadi dari orang tersebut. Orang yang bersikap baik dalam kehidupan bermasyarakat selalu dipandang sebagai orang yang sukses karena itu semestinya dalam penetapan kriteria kelulusan harus mempertimbangkan kemampuan psikomotorik dan afektif. Kebijakan kriteria kelulusan harus mempertimbangkan kemampuan kognitif psikomotorik afektif dan kreatifitas. Di samping itu eksistensi sekolah yang mengetahui secara jelas tentang kemampuan siswa harus diberi wewenang untuk menentukan kelulusan siswa.