Tugas Akhir
Pendayagunaan lumpur Lapindo sebagai bahan campuran pembuatan batu bata / Gusti Arya Seta
Abstrak
Kata- kata kunci lumpur Lapindo bahan campuran batu bata Batu bata adalah material penyusun dinding yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang berasal dari tanah sawah yang subur. Batu bata dibuat dengan cara mencetak bahan dasar yang dicampur dengan bahan tambahan dalam suatu cetakan kemudian dikeringkan dan dibakar. Lumpur memiliki kandungan yang cocok untuk pembuatan batu bata. Di antaranya lumpur Lapindo yang mengandung tanah bercampur pasir dan memiliki sifat yang mudah dibentuk. Pemanfaatan lumpur Lapindo dapat mengurangi penggunaan bahan baku pembuatan batu bata yang umumnya diambil dari lahan produktif yang seharusnya lebih tepat digunakan sebagai lahan pertanian. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dimulai dari pengambilan sampel yaitu lumpur Lapindo kemudian pembuatan benda uji yang dilakukan di industri pembuatan batu bata. Sampel penelitian ini menggunakan batu bata dengan kadar lumpur Lapindo sebanyak 25% dan 50%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas batu bata dengan campuran lumpur Lapindo jika dibanding dengan batu bata merah pada umumnya. Pengujian kualitas meliputi pengujian tampak luar dan ukuran pengujian absorbsi pengujian kadar garam dan pengujian kuat tekan. Metode pengujian yang digunakan disesuaikan dengan Petunjuk Praktikum Bahan Bangunan I. (1) Hasil pengujian kualitas ketepatan ukuran dan kualitas tampak luar batu bata dengan kadar lumpur Lapindo 25% dan 50% tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh SK SNI S-04-4989-F dan PUBI 1956. Batu bata ini akan mengakibatkan tidak ratanya permukaan dinding dan tidak mampu menahan beban inersial yang dapat memunculkan retak-retak halus pada permukaan dinding dan spesi batu bata. (2) Hasil uji absorbsi batu bata kadar lumpur Lapindo 25% dan 50% tidak memenuhi standar syarat mutu SII 0021-78 NI-10 karena lumpur mempunyai daya serap air tinggi sehingga menimbulkan banyak rongga pada batu bata yang berimplikasi pada berkurangnya kekuatan batu bata dan kualitas bangunan. (3) Hasil pengujian kadar garam untuk batu bata dengan kadar lumpur Lapindo 25% dan 50% memenuhi standar SK SNI S-04-4989-F. Pada batu bata tidak terdapat lapisan putih atau pengkristalan. Dari segi kadar garam batu bata ini mempunyai daya rekat yang tinggi dengan spesinya. (4) Hasil pengujian uji kuat tekan untuk batu bata dengan kadar lumpur Lapindo 25% dan 50% tidak memenuhi standar NI-10 dan SII-0021-78. Lumpur Lapindo termasuk dalam tanah liat primer sehingga dalam keadaan kering batu bata akan menjadi sangat rapuh dan berakibat pada buruknya kekuatan dan kualitas bangunan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa batu bata dengan campuran lumpur Lapindo tidak baik bila digunakan sebagai bahan penyusun dinding.