Skripsi
Peranan kesenian tradisional \"Sandur\" sebagai sarana pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro / Esti Nur Fuadah
Abstrak
Kata kunci Kesenian Tradisional Teater Sandur Nilai-Nilai Kearifan Lokal. Kesenian teater tradisional sandur di Desa Ledok Kulon diduga berperan sebagai pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Desa Ledok Kulon meskipun kesenian Sandur ini langka dan hampir punah akan tetapi kesenian sandur ini masih banyak peminatnya khususnya masyarakat di Bojonegoro. Kesenian tradisional Sandur memiliki ciri-ciri yang sama dengan teater tradisional daerah lainnya yaitu mempunyai sifat yang sederhana dalam penyajiannya. Daya tarik pertunjukan kesenian Sandur terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok serta sebagai pemelihara nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendiskripsikan sejarah kesenian teater tradisional Sandur (2)Mendiskripsikan praktik pelaksanaan kesenian teater tradisional Sandur (3)Mendiskripsikan tema yang diangkat dalam kesenian teater tradisional Sandur (4)Mendiskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam pertunjukan kesenian teater tradisional Sandur (5)Mendiskripsikan persepsi masyarakat (penonton) terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam pertunjukan teater Sandur (6)Mendiskripsikan prospek pengembangan kesenian teater tradisional sandur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitataif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Adapun analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kualitatif data dikumpulkan dengan cara studi dokumentasi wawancara serta observasi partisipatif. Penelitian dilakukan di desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro dengan obyek penelitian adalah masyarakat desa Ledok Kulon pemain Sandur perangkat desa Ledok Kulon Guru Kesenian SMK dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro. Hasil dari penelitian ini kesenian Sandur lahir di Desa Ledok Kulon sejak tahun 60-an yang berawal dari upacara syukuran saat panen tiba kemudian berkembang menjadi sebuah pertunjukan rakyat. Kesenian Sandur ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan atau hiburan semata tetapi sebagai sebagai media melestarikan nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat. Kesenian Sandur mengajarkan budipekerti tolong menolong dan teposeliro pada setiap pertunjukannya terdapat pula nilai-nilai didalamnya seperti nilai edukatif nilai moral nilai keindahan nilai religius nilai hiburan dan nilai seni. Dalam pertunjukannya kesenian sandur dilakukan 3 sampai 5 jam pada malam hari yang terbagi dalam delapan adegan yang terdapat dalam tiga babak pergantian babak selalu ditandai dengan tembang yang dilantunkan panjak hore. pertunjukkan sandur sampai saat ini masih menunjukkan eksistensinya dan semakin maju.Persepsi masyarakat terhadap kesenian Sandur inipun sangat beragam banyak orang yang gemar menonton Sandur dan merasa sandur membawa dampak positif dan terpengaruh dengan tema dan nilai-nilai yang dibawakan dalam setiap pertunjukkannya tapi ada pula yang merasa dngan melihat kesenian sandur tidak membawa pengaruh apa-apa karena merasa kesenian sandur hanya sebuah hiburan semata. Kesenian sandur ini akan tetap eksis dan bertahan di tengah-tengah perkembangan teknologi seperti sekarang ini karena kesenian Sandur ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan saja tetapi sebagai penyeimbang di tengah-tengah perkembangan teknologi sekarang ini karena MGMP Kesenian dan Dinas Periwisata dan kebudayaan telah sepakat untuk memasukkan Sandur kedalam ekstrakulikuler di sekolah-sekolah SMK. Dengan begitu kesenian sandur akan tetap eksis dan bertahan di tengah-tengah globalisasi saat ini.