Tugas Akhir
Studi pelaksanaan konstruksi pracetak menggunakan sistem tricon pada pembangunan rusunawa Unisma Jl. M.T. Haryono 193 Malang / Muhammad Syaifudin
Abstrak
Kata Kunci pelaksanaan pracetak sistem tricon Meningkatnya kebutuhan bangunan bertingkat dengan system pracetak seperti rumah susun mendorong timbulnya kebutuhan akan suatu rancangan struktur yang ekonomis dan dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien tanpa mengurangi kekakuan antar komponen struktur bangunan. Sistem pracetak yang mulai popular akhir-akhir ini telah terbukti dapat diandalkan untuk menggantikan sistem konvensional (sistem yang dicor di tempat). Namun perlu diingat bahwa sistem struktur pracetak ini baru efektif dan efisien bila diterapkan pada pekerjaan yang sifatnya berulang dan massal. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan komponen-komponen pracetak sistem tricon yang meliputi pekerjaan penulangan pembuatan bekisting hingga pengecoran dan untuk mengetahui sistem dan detail sambungan yang digunakan serta proses intalasinya (erection). Untuk mendapatkan data yang valid pada penelitian ini diperlukan suatu metode studi lapangan yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada studi ini menggunakan metode observasi wawancara dan dokumentasi. Hasil dari studi lapangan menyimpulkan bahwa sistem pracetak tricon ini merupakan sistem pracetak struktur rangka pemikul momen (SRPM) type 1 dengan mutu beton K350. Bekisting beton pracetak menggunakan bahan kayu dan pekerjaannya dilakukan bersamaan dengan pekerjaan penulangan yang meliputi pemotongan pembengkokan dan perangkaian. Kebutuhan tulangan komponen pracetak telah di tentukan oleh pelaksana. Komponen pracetak tricon terdiri dari balok kolom dan plat (slab). Kolom menggunakan dimensi 300 500 mm dan tinggi 2 5 m sedangakn dimensi balok adalah 250 450 mm degan panjang antara 3 6 sampai 4 8 m. Sistem sambungan pracetak tricon menggunakan sistem wet-joint (sambungan basah). Pada komponen kolom disiapkan selogsong sepanjang 40D dan besi stek sepanjang 40D tinggi balok sedangkan pada balok disiapkan selongsong sepanjang 40D pada ujung yang satu dan 2 40D tinggi (h) kolom untuk balok searah tinggi (h) kolom atau 2 40D lebar (b) kolom untuk balok searah lebar (b) kolom pada ujung yang lainya. Peyambungan komponen-komponen pracetak menggunakan semen grouting Masterflow 830 untuk sambungan kolom dan sambungan balok sedangkan untuk sambungan plat lantai Sikagrout 215. Berdasarkan hasil studi lapangan ini disarankan Proses produksi komponen pracetak merupakan produksi secara masal maka diharapakan menggunakan cetakan/bekisting yang terbuat dari besi/baja yang mudah di atur sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan sehingga cetakan tetap terjaga kekuatanya meskipun digunakan berkali-kali. Selain itu komponen pracetak yang dihasilkan akan lebih baik dan lebih presisi. Pembengkokan tulangan stek pada komponen plat lantai setelah di-erection akan mengalami kesulitan karena ruang yang tersedia untuk pembengkokan terlalu sempit sehingga akan lebih mudah jika pembengkokan tulangan stek plat lantai dilakukan saat plat lantai pracetak masih di bawah.