Skripsi
Prediksi kebangkrutan industri rokok di Indonesia yang listing di BEI periode 2005-2008 dengan menggunakan metode Z-score / Agus Subagiyo
Abstrak
Kata Kunci Kebangkrutan Industri Rokok Analisis Altman (Z-Score) Kebangkrutan dapat diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya untuk menghasilkan laba. Kegagalan dapat dilihat dari dua segi yaitu segi ekonomi dan segi keuangan. Dari segi ekonomi perusahaan dianggap gagal apabila mempunyai return yang negative. Sedangkan dari segi keuangan perusahaan dianggap gagal atau tidak mampu membayar utangnya pada tanggal jatuh tempo. Penelitian ini menggunakan metode Altman (Z-Score) untuk memprediksi kebangkrutan industri rokok. Rasio yang digunakan dalam metode ini terdiri dari modal kerja (X1) laba ditahan (X2) EBIT (X3) nilai pasar dari modal (X4) dan penjualan (X5). Dari hasil Z-Score kemudian perusahaan dapat dikategorikan apakah perusahaan tersebut berada pada kondisi sehat rawan bangkrut dan bangkrut berdasarkan titik cut off. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kinerja keuangan memprediksikan kebangkrutan dan melihat potensi kebangkrutan pada industri rokok yang dijadikan sampel penelitian dengan menggunakan metode Z-Score. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang tidak terdapat variabel bebas maupun terikat. Akan tetapi ada satu variabel utama yang menjadi fokus penelitian adalah tingkat kebangkrutan perusahaan yang diukur dengan indikator rasio-rasio Z-Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan rasio pada PT BAT Indonesia Tbk mengalami penurunan dibandingkan dengan tiga perusahaan sampel yang lain. Selain itu PT BAT Indonesia Tbk pada tahun 2005 samapai dengan tahun 2008 dalam kondisi bangkrut dan berdasarkan trend Z-Score tahun 2009 dua perusahaan dalam kondisi sehat satu perusahaan dalam kondisi rawan bangkrut dan satu perusahaan dalam kondisi bangkrut. Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti dapat menyarankan bagi perusahaan memperbaiki manajemen dan memperbaiki kinerja keuangannya masing-masing supaya perusahaan tetap berada dalam kondisi sehat dan tidak berada dalam kondisi rawan bangkrut maupun kondisi bangkrut.