Skripsi
Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan anekdot sebagai suber belajar pada siswa kelas XI IPA-1 SMA Brawijaya Smart school (BBS) Malang / Sahari Nor Wachid
Abstrak
Kata kunci menulis naskah drama anekdot sumber belajar Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI terdapat Standar Kompetensi (SK) menulis naskah drama dan Kompetensi Dasar (KD) mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama. KD tersebut mengindikasikan bahwa siswa kelas XI harus menguasai keterampilan menulis naskah drama. Tujuannya adalah agar siswa mampu mengenal memahami dan menulis naskah drama.Upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama salah satunya melalui pemilihan sumber belajar yang tepat. Dalam penelitian ini sumber belajar yang digunakan adalah anekdot. Dengan sumber belajar ini siswa belajar menyusun kerangka naskah drama dan mengembangkannya menjadi naskah drama yang utuh. Dalam meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan sumber belajar anekdot dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan naskah tahap penulisan berdasarkan perencanaan naskah dan tahap penyuntingan dan revisi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses/tindakan dan hasil peningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI IPA-1 dengan menggunakan anekdot sebagai sumber belajar. Adapun tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas XI IPA-1 dengan menggunakan anekdot sebagai sumber belajar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pelaksanaan pengamatan dan refleksi. Penetapan subjek yang diteliti didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan nilai hasil belajar dari pembelajaran sebelumnya. Subjek umum yang diberi tindakan adalah siswa kelas XI di IPA-1 sedangkan subjek khususnya adalah 15 siswa yang memperoleh nilai di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 8 Oktober 2010 sampai 2 Desember 2010 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data proses dan hasil peningkatan keterampilan menulis naskah drama dengan menggunakan anekdot sebagai sumber belajar. Data proses berupa tindakan yang ditranskripsikan dalam pedoman observasi dan catatan lapangan sedangkan data hasil berupa nilai kemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Data diperoleh melalui instrumen utama yaitu peneliti yang didukung dengan instrumen penunjang berupa pedoman observasi pedoman wawancara dokumentasi dan catatan lapangan. Instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui proses dan hasil keterampilan menulis naskah drama siswa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada siswa dengan menggunakan anekdot sebagai sumber belajar. Peningkatan ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II yang melalui tahap perencanaan naskah tahap penulisan berdasarkan perencanaan naskah dan tahap penyuntingan dan revisi. Pada tahap perencanaan naskah kegiatan yang dilakukan yaitu membaca anekdot dan menganalisis unsur instrinsik anekdot untuk menyusun kerangka naskah drama. Penggunaan sumber belajar anekdot dapat merangsang siswa dalam berimajinasi untuk mengembangkan sebuah kerangka naskah drama karena siswa terbukti dapat menentukan tema tokoh dan watak tokoh latar dan alur yang bervariasi. Sedangkan peningkatan kemampuan siswa pada tahap penulisan berdasarkan perencanaan naskah dapat terlihat dari kemampuan siswa dalam mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh. Hal ini juga ditunjang dengan kemampuan siswa dalam mengembangkan ide gagasan dan imajinasi siswa. Pada tahap terakhir yaitu tahap penyuntingan dan revisi kemampuan siswa terlihat dalam penggunaan ejaan tanda baca dan huruf kapital. Ketiga tahapan tersebut terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama dan SKM yang telah ditetapkan sekolah dapat tercapai. Peningkatan itu terlihat dari jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus I yaitu 66 7% dan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II meningkat menjadi 86 7%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru untuk menggunakan sumber belajar dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama. Penggunaan sumber belajar anekdot dapat juga diterapkan dalam pembelajaran sastra yang lain seperti pembelajaran menulis cerpen dan esai. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah juga disarankan untuk memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerjasama dengan para peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kepada calon peneliti yang ingin menggunakan dan mengembangkan sumber belajar anekdot diharapkan dapat mengembangkan sumber belajar anekdot pada kompetensi dasar pembelajaran sastra yang lain.