Skripsi
Peningkatan kemampuan berkarya cetak sablon melalui model explicit instruction kelas IXD SMP negeri 1 Singosari / Agus Sumarsono
Abstrak
Kata kunci Berkarya Cetak Sablon Model Explicit Instruction. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa kemampuan berkarya cetak sablon siswa SMP Negeri 1 Singosari Malang belum naksimal. Hal tersebut disebabkan kurangnya sarana dan prasarana untuk berkarya cetak sablon dikarenakan dalam berkarya cetak sablon sangat memerlukan ketrampilan dan ketelitian yang sangat tinggi. Oleh karena itu penerapan model Explicit Instruction di berikan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar cetak sablon siswa kelas IX D SMPN 1 Singosari tahun pelajaran 2010 / 2011. Pembelajaran seni cetak sablon menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tahapan perencanaan pelaksanaan pengamatan dan refleksi. Pengumpulan datanya meliputi teknik pengamatan/observasi teknik wawancara siswa dan teknik dokumentasi. Dengan subyek penelitian siswa kelas IXD SMP Negeri 1 Singosari Malang. Penelitian ini terdiri dari dua siklus setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pada siklus satu peserta didik diberi pembelajaran materi teori sablon dan praktek cetak sablon menggunakan metode ceramah dan model Explicit Instruction. Pemahaman aktivitas dan kemampuan siswa dalam cetak sablon pada siklus satu menggunakan metode ceramah dan model Explicit Instruction tersebut masih belum maksimal setelah diteliti rata-rata nilai hasil akhir peserta didik kelas IXD pada siklus satu sebesar 69 45 (enam puluh sembilan koma empat puluh lima) yang berarti belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran seni budaya yang telah ditetapkan SMPN 1 Singosari sebesar 77. Sedangkan pada siklus kedua peserta didik kelas IXD diberi materi teori cetak sablon dalam bentuk LKS dan praktek cetak sablon menggunakan model Explicit Instruction dengan langkah pembelajaran yang urut sistimatis setahap demi setahap dengan pembimbingan yang lebih intensif serta sering dilakukan berulang-ulang. Pemahaman aktivitas dan kemampuan siswa pada pembelajaran materi cetak sablon mengalami kenaikan. Semula pada siklus satu sebesar 69 45 (enam puluh sembilan koma empat puluh lima) pada siklus dua naik menjadi 81 43 (delapan puluh satu koma empat puluh tiga) Berdasarkan hasil penelitian bisa disimpulkan pembelajaran cetak sablon menggunakan LKS melalui menggunakan model Explicit Instruction lebih dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Sebagai implikasinya perlu dilakukan upaya peningkatan prestasi hasil belajar pada pelajaran cetak sablon menggunakan Pendekatan model Explicit Instruction. Dengan demikian pendekatan model Explicit Instruction akan mendorong terciptanya pembelajaran yang menyenangkan kreatif efektif dan inovatif.