Skripsi
Kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos / Sayyidatina Al Akhirina
Abstrak
Kata kunci kesantunan tuturan imperatif mahasiswa Manusia pada umumnya lebih senang mengungkapkan pendapat-pendapat yang sopan daripada yang tidak sopan. Kesantunan berbahasa bukan semata-mata motif utama bagi penutur untuk berbicara melainkan merupakan faktor pengatur yang menjaga agar percakapan berlangsung dengan lancar menyenangkan dan tidak sia-sia. Tuturan imperatif merupakan tuturan yang mengharuskan mitra tutur untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penuturnya baik secara tersirat maupun tersurat. Dalam aktivitas kesehariannya di tempat indekos mahasiswa tidak pernah lepas dari penggunaan tuturan imperatif baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos dan (2) faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Tujuan penelitian yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa berbagai macam tuturan dalam praktik berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa keseharian yang berbentuk lisan yangmengandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Sumber data dalam penelitian ini yakni mahasiswa yang tinggal di tempat indekos dengan latar belakang etnik Jawa. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi perekaman dan pencatatan lapangan. Adapun analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual. Metode analisis kontekstual adalah cara-cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan memperhitungkan dan mengaitkan identitas konteks- konteks yang ada. Penelitian ini menghasilkan dua temuan yakni wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos dan faktor- faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Pertama wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos diklasifikasikan berdasarkan konstruksi dan maknanya yang meliputi (1) konstruksi deklaratif yang memiliki makna pragmatik imperatif suruhan permintaan bujukan imbauan persilaan ajakan permintaan izin mengizinkan larangan harapan dan umpatan (2) konstruksi imperatif yang memiliki makna pragmatik imperatif perintah permohonan imbauan persilaan dan harapan (3) konstruksi interogatif yang memiliki makna pragmatik imperatif perintah suruhan permintaan imbauan persilaan ajakan permintaan izin harapan dan umpatan (4) konstruksi eksklamatif yang memiliki makna pragmatik imperatif suruhan desakan bujukan ajakan mengizinkan larangan umpatan dan pemberian ucapan selamat (5) konstruksi emfatik yang memiliki makna pragmatik imperatif suruhan permintaan desakan bujukan imbauan persilaan ajakan mengizinkan harapan dan umpatan. Kedua faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos terdiri dari 5 faktor yang berupa (1) pematuhan maksim yang terdiri atas maksim kebijaksanaan maksim kedermawanan maksim penghargaan maksim kesederhanaan maksim permufakatan dan maksim kesimpatisan (2) skala kerugian dan keuntungan (3) skala pilihan (4) skala ketidaklangsungan (5) skala keotoritasan serta (5) jarak sosial. Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yakni yang pertama bagi mahasiswa yang tinggal di tempat indekos sebaiknya antara mahasiswa satu dan lainnya hendaknya saling menjaga kesantunan dalam bertutur sehari-hari di tempat indekos karena di samping menyampaikan amanat kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur-pendengar. Saran yang kedua ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk menindaklanjuti penelitian ini dengan penelitian lain yang serupa berancangan sama namun memiliki ruang lingkup kajian yang lebih luas yaitu tidak dibatasi pada tempat indekos saja tetapi bahkan bisa dibandingkan antar kelompok etnik tertentu. Jangkauan penelitian yang demikian diharapkan dapat memiliki tingkat kebermaknaan yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi perkembangan linguistik pragmatik Indonesia yang sampai dengan saat ini terbukti masih mendapatkan perhatian yang terbatas.