Tugas Akhir
Metode dan rencana anggaran pelaksanaan pekerjaan pelat pada proyek pembangunan Apartemen Menara Soekarno Hatta / Yunita Rahmawati
Abstrak
Kata kunci metode rencana anggaran pelaksanaan pelat Bertambahnya jumlah penduduk sangat erat kaitannya dengan pembangunan karena bertambahnya penduduk berarti memerlukan tambahan sarana untuk melakukan kegiatan mereka. Kehidupan masyarakat modern di kota-kota besar menuntut tersedianya ruang yang nyaman dan memadai sebagai prasarana untuk melakukan berbagai kegiatan. Karena keterbatasan lahan maka pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhan terhadap prasarana ruang tersebut adalah pembangunan gedung bertingkat yang salah satunya adalah pembangunan Apartemen Menara Soekarno Hatta. Permasalahan pemecahan masalah adalah bagaimana cara mendirikan suatu bangunan tersebut dengan prosedur yang benar. Pelat adalah salah satu elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur di bawahnya. Kegagalan pelaksanaan struktur pelat akan berakibat langsung pada runtuhnya stuktur lain yang berhubungan dengannya. Maka dari itu dalam mendirikan bangunan memerlukan metode yang tepat. Studi lapangan ini bertujuan untuk (1) mengetahui metode pelaksanaan pekerjaan pelat beton konvensional (2) mengetahui metode pelasanaan pekerjaan pelat beton half slab (3) mengetahui rencana anggaran pelaksanaan pekerjaan pelat beton konvensional (4) mengetahui rencana anggaran pelaksanaan pelat beton half slab (5) mengetahui apakah ada perbedaan rencana anggaran pelaksanaan pekerjaan pelat beton konvensional dengan pelat beton half slab. Studi lapangan pelaksanaan pelat dilaksanakan pada Proyek Pembangunan Apartemen Menara Soekarno Hatta. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah (1) observasi lapangan (2) wawancara/interview (3) dokumentasi dan (4) analisa rencana anggaran biaya. Setelah semua data terkumpul kemudian dianalisis dan selanjutnya dideskripsikan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa ketidaksesuaian pelaksanaan pelat beton konvensional dan pelat beton half slab dari segi pelaksanaan yaitu pada pelaksanaaan pengecoran tidak dilaksanakan uji slump terhadap beton yang akan digunakan dan kurang adanya perawatan pada permukaan beton. Terdapat selisih RAP antara pelat beton konvensional dan half slab sebesar Rp. 49.344.373 1 hal ini terjadi karena pada pelat half slab hanya memerlukan sedikit perancah dan tidak menggunakan bekisting. Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan pelat beton konvensional maupun half slab pada saat penerimaan adonan beton sebelum dilakukan pengecoran sebaiknya dilakukan uji slump supaya diketahui apakah kekentalan (viskositas) beton sesuai dengan mix design mutu beton yang direncanakan dan perawatan beton setidaknya dilakukan dengan cara menggenangi permukaaan pelat.