Disertasi
Manajemen kedisiplinan siswa sekolah dasar (Studi multi kasus pada sekolah yang menerapkan model sistem half-day school, full-day school, dan boarding school di MAlang dan Blitar) / Taufiq
Abstrak
Disertasi Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji KH M.A Ph. D. (II) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo M.Pd. (III) Prof. Dr.Willem Mantja M.Pd Kata-kata kunci manajemen kedisiplinan sekolah dasar sistem regular full- day school boarding school pondok pesantren. Sebuah penelitian dengan temuan menarik dan cukup mengejutkan pernah diselenggarakan oleh dua pakar yaitu Bogdan dan Taylor (1975). Penelitian ini sebenarnya semula dimaksudkan untuk menjawab atau mengetahui tentang kemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan. Ternyata dalam hasil penelitian yang publikasinya diberi judul When the teachers meet technology ini problema yang terlebih dulu harus ditangani sebelum menjawab soal kegunaan teknologi pendidikan adalah justru soal tertib dan disiplin peserta didik. Tidak mungkin menurut Bogdan dan Taylor(1975 30) mengharapkan manfaat tinggi dari teknologi pendidikan tanpa terlebih dulu menangani soal tertib dan disiplin kelas. Dalam penelitian ini dibahas mengenai perencanaan program kedisiplinan siswa pola pengaturan kedisiplinan siswa cara penanggulangan masalah disiplin dan hasil kedisiplinan siswa di sekolah yang menerapkan model sistem regular (half day school) sekolah penuh hari (full day school) dan sekolah ber asrama (boarding school). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam ob-servasi dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi member check dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penelitian dilakukan dengan para pembimbing se-bagai independent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ke-tiga teknik tersebut diorganisir ditafsir dan dianalisis secara berulang-ulang baik melalui analisis dalam kasus maupun melalui analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama perencanaan program kedisiplinan siswa perlu melibatkan seluruh stake holder sekolah sehingga kendala-kendala yang ada dalam pelaksanaan dapat diatasi dengan efektif. Disamping itu agar perencanaan kedisiplinan siswa berjalan efektif diperlukan untuk membreak down visi dan misi lembaga. Kedua dasar pengaturan kurikulum dan waktu 6 jam pada sekolah umum atau half day school adalah berbasis standar kurikulum dari diknas dan kegiatan ekstra kurikular. Sedangkan pendidikan yang menggunakan waktu 9 jam (full day school) kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Diknas ekstra kurikular dan mulok berupa kegiatan mengaji ilmu agama dan kegiatan kursus bahasa asing. Sementara itu penyenyelenggaraan pendidikan dengan dasar pengaturan waktu 24 jam (boarding school) lebih banyak variabel kurikulum dan kompetensi serta target yang ingin dicapai yang menjadi goal nya bila dibandingkan dua model sistem yang lain. Begitu juga dengan pengaturan personalia yang terlibat didalamnya. Sistem boarding school membutuhkan personalia lebih banyak bila dibanding dengan model sistem regular maupun full day school. Penelitian ini juga menegaskan tidak adanya dampak negatif berlebihan sebagai akibat dari pengaturan kedisiplinan siswa asalkan lingkungan diciptakan dengan kondusif pembelajaran yang menyenangkan dan mempertimbangkan aspek psikologis siswa dalam berbagai aktivitas sekolah. Ketiga pendekatan penanganan siswa yang melakukan pelanggaran kedisiplinan dilakukan melalui beberapa tahapan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian maka dapat diklasifikasikan bahwa ada beberapa pendekatan penanganan masalah disiplin siswa (1) pendekatan kognitivistik yaitu dengan cara memberikan pengertian terhadap maksud dan tujuan diberlakukannya peraturan sehingga siswa dapat memahami keuntungan dan kerugian dari tindakannya.(2) pendekatan behavioristik yaitu dengan cara diberi hukuman yang bisa menjerakan siswa agar tidak mengulang lagi perbuatan yang sama. (3) pendekatan humanistik yang diterapkan dengan tidak memberikan hukuman pada siswa karena asumsi bahwa anak adalah boss dan mereka perlu betah berada dipesantren untuk tujuan memperdalam ilmu-ilmu agama.(4) pendekatan spiritualistik yaitu dengan penanganan masalah disiplin dengan cara menggugah spiritualitas santri. Sedangkan penyebab prilaku tidak disiplin pada diri siswa yaitu (1) faktor keluarga (2) faktor pergaulan anak (3) faktor eksternal seperti guru yang tidak menarik (4) faktor kurang tegasnya pelaksanaan peraturan. (5) kurangnya keteladanan. Keempat hasil kedisiplinan siswa pada sekolah dapat dilihat dari aspek prilaku berdisiplin seperti mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah dengan Indikator antara lain para siswa berprilaku baik terhadap lingkungan guru orang tua dan juga kepada sesama teman-temanya. Kompetensi dan prestasi yang diraih oleh sekolah berbanding lurus dengan kedisplinan yang mereka terapkan. Artinya semakin disiplin suatu sekolah semakin banyak prestasi yang dapat diraih baik dari faktor akdemik maupun non akademik dan begitu juga sebaliknya. Implikasi teoritis dari penelitian ini adalah menolak pandangan bahwa model sistem full day school hanya memperpanjang waktu dan berakibat negatif pada psikologis anak. Dan justru penelitian merekomendasikan perlunya keberadaan institusi untuk tercapainya hasil kedisiplinan dan tujuan instructional yang lebih tinggi. Secara teoritis penelitian ini juga menyumbangkan satu pola pendekatan dalam penanganan masalah disiplin yaitu dengan memperhatikan spiritualitas peserta didik. Dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran yaitu antara lain (1) bagi kepala sekolah dituntut untuk terus meningkatkan kualitas kepemimpinannya terutama dalam mengupayakan peran serta keterlibatan aktif seluruh komponen sekolah dalam manajemen kedisiplinan siswa (2) bagi orang tua perlu mengontrol penggunaan waktu dan aktivitas anak diluar sekolah yang menerapkan half day school (3) bagi penyelenggara sekolah dengan model sistem full day school perlu memperhatikan aspek menyenangkan dalam strategi pembelajarannya menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan iklim belajar yang seperti keluarga agar kecemasan banyak fihak mengenai dampak negatif tersebut tidak terjadi.