Tesis
Pengaruh model mikroskopik dan alat peraga mikroskopik terhadap prestasi belajar siswa pada materi hukum-hukum dasar kimia / Muhammad Fadil
Abstrak
Tesis Program Studi Magister Pendidikan Kimia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Effendy Ph.D. (II) Dr. H. Subandi. M.Si. Kata kunci model mikroskopik alat peraga mikroskopik hasil belajar hukum-hukum dasar kimia Konsep-konsep dalam ilmu kimia maupun materi ilmu kimia sebagian besar merupakan konsep-konsep dan materi yang abstrak yang cenderung dapat dipahami dengan baik oleh siswa yang telah mencapai tingkat berpikir formal berdasarkan teori perkembangan intelek Piaget. Namun hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sekolah menengah atas (SMA) yang seharusnya telah mencapai tingkat berpikir formal ternyata belum mencapai tingkat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan sebagian besar siswa SMA mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu kimia. Salah satu materi ilmu kimia yang sarat dengan konsep-konsep abstrak adalah hukum-hukum dasar ilmu kimia. Pemahaman siswa tentang materi tersebut mungkin dapat ditingkatkan apabila siswa dibelajarkan dengan menggunakan model mikroskopik dan alat peraga mikroskopik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui persentase siswa kelas X yang telah mencapai tingkat berfikir formal (2) mengetahui hubungan antara kemampuan berfikir formal dengan prestasi belajar siswa kelas X pada materi hukum-hukum dasar kimia (3) mengidentifikasi kesalahan pemahaman yang terjadi pada siswa kelas X pada materi hukum-hukum dasar kimia sebelum pembelajaran dengan menggunakan model mikroskopik dan alat peraga mikroskopik dan (4) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar pada materi hukum-hukum dasar kimia siswa kelas X yang dibelajarkan dengan menggunakan model mikroskopik dan alat peraga mikroskopik. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimental semu. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan kemampuan berfikir formal dan kesalahan pemahaman siswa pada materi hukum-hukum dasar kimia. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran dengan menggunakan model mikroskopik dan alat peraga mikroskopik terhadap prestasi belajar siswa pada materi hukum-hukum dasar kimia. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA PGRI Lawang tahun 2009/2010 yang terbagi dalam 4 kelas pararel dengan jumlah 138 siswa siswa. Sampel penelitian terdiri dari kelas X-3 berjumlah 32 siswa yang dilibatkan dalam pembelajaran menggunakan model mikroskopik dan kelas X-4 berjumlah 35 siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan mollimod sebagai alat peraga mikroskopik. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes Burney yang digunakan untuk mengukur perkembangan berpikir formal siswa dan tes prestasi belajar yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa pada materi hukum-hukum dasar kimia. Tes prestasi belajar tersebut berbentuk pilihan ganda dengan validitas isi sebesar 92 5% dan koefisien reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus KR-20 sebesar 0 83. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) siswa kelas X yang telah mencapai tingkat berfikir formal sebanyak 4 5% sedangkan 20 5 dan 75.0% masih berada pada tingkat berpikir konkrit dan transisi (2) terdapat hubungan positif antara kemampuan berfikir formal dan prestasi belajar siswa kelas X dalam materi hukum-hukum dasar kimia (r 0 98 untuk pembelajaran dengan model mikroskopik dan r 0 93 untuk pembelajaran dengan alat peraga mikroskopik) (3) kesalahan-kesalahan pemahaman yang terjadi pada siswa kelas X adalah sebagai berikut (a) sebanyak 55 5% siswa mengangap bahwa jumlah mol zat yang bereaksi maupun mol zat hasil reaksi tidak tergantung pada koefisien reaksinya (b) sebanyak 37 8% siswa belum dapat mengidentifikasi zat yang merupakan pereaksi pembatas (c) sebanyak 63 7% siswa menganggap bahwa massa zat setelah reaksi adalah bertambah karena terbentuk zat baru (d) sebanyak 55 5% siswa menganggap bahwa senyawa yang merupakan elektrolit kuat dalam larutan tidak mengalami disosiasi (e) sebanyak 64 9% siswa tidak dapat menentukan perbandingan jumlah unsur dalam senyawa berdasarkan indeksnya (f) sebanyak 59 2% siswa menghitung volume gas sebelum dan sesudah reaksi berdasarkan banyaknya jenis gas yang terlibat dalam reaksi bukan berdasarkan koefisien reaksinya (g) sebanyak 66 8% siswa menganggap bahwa gas-gas bereaksi dengan perbandingan volume yang sama tanpa tergantung pada koefisien reaksinya dan (h) sebanyak 51 5% siswa beranggapan bahwa gas-gas bereaksi dengan perbandingan jumlah partikel yang sama tanpa tergantung pada koefisien reaksinya serta (4) pembelajaran dengan menggunakan alat peraga mikroskopik memberikan prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran dengan menggunakan model mikroskopik.