Skripsi
Analisis struktural semiotik kisah Ashabul Kahfi di dalam surat al-Kahfi / Muhammad Arif Nasruddin
Abstrak
Kata kunci analisis struktural semiotik kisah ashabul kahfi surat al-kahfi. Kisah Ashabul Kahfi adalah salah satu kisah yang menakjubkan yang dituturkan di dalam Al-Qur an tepatnya di dalam surat Al-Kahfi. Dari beberapa kisah yang dituturkan di dalam surat Al-Kahfi kisah Ashabul Kahfi merupakan kisah yang pengisahannya dominan. Untuk memperjelas kisah Ashabul Kahfi dan menggali makna-maknanya penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pisau analisis struktural semiotik. Dengan menganalisis struktur kisah tersebut akan diketahui siapakah tokoh-tokohnya bagaimana alur ceritanya dan semua yang berhubungan dengan struktur kisah. Sedangkan dengan analisis semiotik akan digali makna-makna yang terkandung dibalik tanda-petanda yang ada dalam kisah tersebut. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah 1) memaparkan struktur kisah Ashabul Kahfi dengan menggunakan analisis struktural 2) memaparkan hasil analisis semiotik kisah Ashabul Kahfi dengan teori semiotik 3) mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Ashabul Kahfi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian yang berupa teks kisah Ashabul Kahfi diperoleh dari Al-Qur an dan beberapa sumber lainnya yang menceritakan kisah Ashabul Kahfi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia Humam instrumen yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data identifikasi dan klasifikasi data dan terakhir tahap evaluasi data. Setelah dilakukan penelitian struktural ditemukan bahwa tokoh utama dalam kisah Ashabul Kahfi adalah Tamlikha yang diiringan oleh tokoh andalan yaitu Miksalmina Mikhaslimina Martelius Casitius dan Sidemius dan ditambah seorang pengembala. Sedangkan yang menjadi tokoh antagonisnya adalah raja Dikyanus seorang raja dzalim yang mensekutukan Allah. Kisah tersebut melibatkan beberapa tempat di antaranya adalah daerah tempat mereka tinggal yitu kota Aphesus yang kemudian disebut kota Tharsus istana raja gua dan pasar di mana mereka membeli makanan. Dalam pengisahannya kisah Ashabul Kahfi tidak seperti kisah-kisah pada umumnya dalam kisah tersebut banyak terkandung pesan-pesan dan juga tanda-tanda kebesaran Allah SWT sehingga menjadikan kisah tersebut luar biasa. Setelah dilakukan analisis semiotik dihasilkan bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak terbatas dan tidak terpengaruh apapun Ketika Allah berkehendak maka itulah yang terjadi. Seorang hamba yang shaleh tidak akan merasa takut terhadap kebatilan karena dia mempunyai pelindung yang maha segala-galanya meskipun yang dihadapi seorang raja sekalipun karena pelindungnya adalah Raja di atas raja yang merajai segala-galanya. Ketika dia meminta kepada-Nya maka Diapun akan memberikannya. Allah tidak memberikan seseorang yang dipilhNya dengan emas permata maupun segala gemerlap dunia namun Allah memberikan yang jauh lebih berharga dari itu semua yang sampai terkadang manusia tidak mempercayainya pemberian itu adalah Hudan (petunjuk) yang dengan itulah seseorang tadi bisa selamat hidup di dunia sampai akhirat. Ketahuilah bahwa segala janji yang dijanjikan-Nya benar-benar akan terjadi walau akal manusia tak mampu memikirkannya karena itu semua telah Dia gambarkan dengan setiap kejadian dan ciptaan-Nya yang dapat kita ketahui di atas muka bumi ini. Di antara janji itu adalah dihidupkannya kembali seluruh manusia untuk menjalani kehidupan akhirat. Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah Ashabul Kahfi adalah tauchidillah (meliputi keimanan pengesaan dan ketaqwaan) tadl-chiyyah (pengorbanan) tawakkal (pasrah kepada Allah) al-futuwah al-qudwah (pencurahan segala kebaikan menahan atau menghindari hal-hal yang menyakiti meninggalkan pengaduan kepada selain Allah swt. dan meninggalkan hal-hal yang haram dan menyambut segera hal-hal yang mulia) dan pembenaran janji Allah bahwa semua manusia akan diangkitkan dari mati menuju hari pembalasan. Setelah melakukan penelitian ini penulis berharab kepada peneliti selanjutnya untuk terus meningkatkan penelita tentang teks Al-Qur an. Untuk bekal menuju penelitian tersebut diharapkan pengajaran teori-teori penelitian juga semakin dimatangkan. Penelitian ini belum sepenuhnya sempurna oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian kembali terhadap kisah Ashabul Kahfi baik dengan teori yang sama maupun berbeda.