Tesis
Manajemen sarana dan prasarana pada sekolah menengah kejuruan (studi multi situs di SMK Negeri 2 Belu dan SMK Negeri Kakuluk Mesak) / Karolus Belmo
Abstrak
Kata kunci manajemen sarana dan prasarana sekolah menengah kejuruan. Secara umum manajemen sarana dan prasarana berperan penting dalam proses belajar mengajar terutama dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Untuk itu keberadaan sarana dan prasarana di sekolah hendaknya dikelola dengan sungguh-sungguh agar senantiasa selalu siap pakai guna membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya sarana dan prasarana pada sekolah kejuruan memiliki ciri spesifik yang berbeda dengan sekolah umum terutama terkait dengan fasilitas pembelajaran praktik di bengkel pertanian peternakan perhotelan maupun perikanan dan lain-lain. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah lanjutan tingkat atas yang khas atau spesifik karena memiliki kekhususan menurut bidangnya masing-masing dan lulusannya diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga trampil tingkat menengah. Karena sekolah kejuruan berorientasi pada keterampilan (skill) maka dalam proses pembelajarannya dibutuhkan praktik dan pelatihan yang memerlukan sarana dan prasarana yang memadai. Bertolak dari hal di atas peneliti merasa perlu untuk meneliti manajemen sarana dan prasarana pada Sekolah Menengah Kejuruan. Berdasarkan konteks tersebut peneliti merumuskan fokus penelitian yang terdiri dari (1) proses manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan (2) faktor penghambat dalam manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan (3) jenis-jenis sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan dan (4) strategi mengatasi hambatan dalam manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan. Untuk bisa mendeskripsi-kan dengan benar fokus tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi multi situs. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan memakai metode wawancara mendalam observasi dan studi dokumentasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa (1) Proses manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan terdiri dari beberapa langkah a) perencanaan sarana dan prasarana dilakukan oleh pemerintah dan pihak sekolah (b) pengadaan sarana dan prasarana berasal dari bantuan pemerintah dan komite sekolah berupa dana imbal swadaya BOMM dana rutin dan dana komite (c) inventarisasi sarana dan prasarana dilakukan oleh tim inventaris dengan cara membuat pencatatan membuat pengkodean barang dan membuat laporan (d) pemakaian sarana dan prasarana oleh seluruh pihak sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan petunjuk teknis pemakaian dan pendampingan dari para guru (e) pemeliharaan sarana dan prasarana dengan cara pemeliharaan yang bersifat pengecekan pemeliharaan yang sifatnya pencegahan pemeliharaan yang bersifat perbaikan dan pemeliharaan yang bersifat perbaikan berat (f) penghapusan sarana dan prasarana dari buku inventaris barang terdiri dari barang-barang yang sudah tua atau rusak berat barang yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masa kini barang yang hilang dan barang-barang yang cepat habis dipakai. (2) Faktor penghambat dalam manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan terdiri dari (a) faktor penghambat internal berasal dari peserta didik dan guru (b) faktor penghambat eksternal berasal dari pemerintah. (3) Jenis-jenis sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan terdiri dari (a) prasarana pendidikan meliputi tanah sekolah halaman sekolah kebun sekolah lapangan olahraga pagar sekolah sumber listrik genset kantor sekolah wc/kamar mandi asrama siswa jalan menuju sekolah kantin sekolah (b) sarana pendidikan yaitu ruang dan perabot ruang pembelajaran perabot kantor alat praktik umum penunjang pembelajaran dan alat praktik kejuruan utama. (4) Strategi mengatasi hambatan dalam manajemen sarana dan prasarana di Sekolah Menengah Kejuruan terdiri dari (a) peserta didik pihak sekolah memberi himbauan dan sanksi untuk menciptakan rasa tanggung jawab merawat dan menjaga fasilitas pendidikan (b) guru kepala sekolah memberi himbauan melalui rapat guru pertemuan kelompok kecil menurut mata diklat supervisi dan evaluasi agar bertanggung jawab dalam merawat dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan (c) pemerintah pihak sekolah (kepala sekolah) bertemu langsung Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga untuk memberi himbauan agar merespon proposal pengadaan sarana dan prasarana yang dibuat. Berangkat dari temuan penelitian ini peneliti memberikan beberapa saran berikut. (1) Bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Belu sebagai pembina Sekolah Menengah Kejuruan yaitu dalam pengembangan mutu Sekolah Menengah Kejuruan khususnya yang berkaitan dengan manajemen sarana dan prasarana diharapkan konsistensi dalam memberikan dukungan baik secara material maupun finansial dalam pengadaan sarana dan prasarana demi tercapainya tujuan manajemen sarana dan prasarana dan tujuan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan. (2) Bagi SMK di Kabupaten Belu diharapkan dapat mengkaji tentang manajemen sarana dan prasarana di SMK sehingga dapat mengambil hal-hal positif untuk perkembangan dan kemajuan Sekolah Menengah Kejuruan di masa depan. (3) Bagi SMK Negeri 2 Belu dan SMK Negeri Kakuluk Mesak hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi atas pelaksanaan manajemen sarana dan prasarana supaya bisa diketahui kelemahan dan kelebihannya agar dapat mengambil dan menentukan langkah-langkah dalam pelaksanaan manajemen sarana dan prasarana di masa mendatang. (4) Bagi peneliti lain hasil penelitian ini dapat memberikan khazanah pengetahuan yang diharapkan dapat dikembangkan penelitian berikutnya berbasis manajemen sarana dan prasarana dengan latar berbeda dan pendekatan penelitian yang lain.