Disertasi
Penerapan pembelajaran melalui pengalaman pada perkuliahan konseling multibudaya / Muslihati
Abstrak
Disertasi program Studi Bimbingan dan Konseling Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Johana E. Prawitasari Ph.D (II) Prof. Dr. Marthen Pali M.Psi. dan (III) Dr. Dany M. Handarini M.A. Kata kunci Pembelajaran melalui pengalaman kualitas perkuliahan kesadaran multibudaya Penelitian ini bertujuan menerapkan pembelajaran melalui pengalamanuntuk meningkatkan kualitas perkuliahan konseling multibudaya yang berorientasi pada pengembangan kesadaran multibudaya calon konselor. Penelitian dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran konseling multibudaya melalui pemberian pengalaman belajar bermakna yang mengembangkan kesadaran multibudaya calon konselor. Proses penelitian ini bersifat self-study pengajar dalam melaksanakan merefleksi dan membenahi langkah-langkah pembelajaran. Dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas penelitianini dilaksanakan pada perkuliahan konseling multibudaya. Perkuliahan diikuti oleh 38 orang mahasiswa kelas B Prodi BK angkatan 2008/2009 jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Mereka terdiri dari 11 orang mahasiswa laki-laki dan 27 orang mahasiswa perempuan. Setiap pertemuan berdurasi 100 menit. Penelitian terlaksana dalam empat siklus pembelajaran dengan mengintegrasikan tujuh kontinum kesadaran multibudaya Locke (Locke dalam Brown dan Srebalus 1986) menjadi beberapa tema perkuliahan. Ketujuh kontinum tersebut yaitu kesadaran diri kesadaran budaya diri kesadaran pada rasisme seksisme dan masalah kemiskinan kesadaran pada perbedaan individual kesadaran pada budaya yang berbeda kesadaran pada keragaman dan ketrampilan intervensi konseling. Pada siklus pertama tindakan pembelajaran melalui pengalaman diterapkan untuk membantu mahasiswa memahami konsep-konsep konseling multibudaya. Pada siklus keduaaktivitas perkuliahan ditujukan untuk mengasah kesadaran diri dan kesadaran budaya diri dan kesadaran pada rasisme seksisme dan masalah kemiskinan. Pada siklus ketiga aktivitas pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan kesadaran pada perbedaan individual kesadaran pada budaya yang berbeda kesadaran pada keragaman. Pada siklus keempat dilakukan pengembangan dan pelatihan ketrampilan intervensi multibudaya dalam konseling. Secara umum penerapan pembelajaran melalui pengalaman terlaksana dengan baik dalam empat siklus. Pada siklus pertama penerapan pembelajaran melalui pengalaman belum terlaksana dengan baik pada seluruh tahapan. Pada siklus ini hanya dapat diterapkan tahapan pengalaman konkrit untuk menelusuri konsep-konsep kunci Konseling Multibudaya. Pada siklus kedua melalui aktivitas pembelajaran berupa telaah makna budaya pada nama telaah budaya daerah asal membaca karya sastra dan pemutaran film semua tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit refleksi pengalaman penyimpulan pemahaman dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan namun belum maksimal karena mahasiswa masih pasif dan belum mampu memenuhi tugas sesuai rancangan pembelajaran. Pada siklus ketiga melalui metode yang lebih menarik dan interaktif dalam aktivitasmenelaah pengalaman sebagai korban dan pelaku prasangka dan strereotip dialog dengan figur dan telaah keragaman budaya Indonesia semua tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit refleksi pengalaman penyimpulan pemahaman dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan namun tahap penerapan hasil belajar hanya dalam bentuk komitmen dan belum maksimal mencapai bentuk tindakan. Pada siklus keempat melalui aktivitas latihan pengembangan instrumen dan praktik Konseling Multibudaya seluruh tahapan pembelajaran melalui pengalaman yaitu pengalaman konkrit refleksi pengalaman penyimpulan pemahaman dan penerapan hasil belajar dapat dilaksanakan dengan baik. Penerapan pembelajaran melalui pengalaman dapat meningkatkan kualitas perkuliahan konseling multibudaya yang berorientasi mengembangkan kesadaran multibudaya calon konselor. Aktivitas pembelajaran melalui pengalaman juga dapat mengembangkan pengetahuan multibudaya sikap positif dan mengembangkan kesadaran diri kesadaran budaya diri dan budaya kepekaan pada perbedaan dan keragaman budaya serta perbedaan individual. Yang lebih penting penerapan pembelajaran melalui pengalaman memberikan pengalaman belajar bagi peneliti dalam menerapkan aktivitas pembelajaran eksperiensial melakukan refleksi kinerja diri dalam dalam memfasilitasi pembelajaran dan melakukan tindakan baru yang bertujuan membenahi kekurangan dalam pembelajaran sebelumnya. Peneliti ini menginspirasi peneliti untuk menjadikan proses perkuliahan sebagai kancah penelitian yang potensial. Berdasarkan hasil penelitian disampaikan saran kepada pengelola pembelajaran (dosen) konseling multibudaya dan matakuliah jurusan BK pada umumnya agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang menarik berpusat pada mahasiswa dan kondusif bagi pengembangan kompetensi konselor. Untuk itu model pembelajaran melalui pengalaman dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan. Mengingat arti penting kompetensi multibudaya maka LPTK yang belum memiliki matakuliah Konseling Multibudaya diharap untuk menyediakan matakuliah yang berorientasi pada pengembangan kompetensi multibudaya atau mengintegrasikannya dalam matakuliah yang relevan. Hal ini menjadi begitu penting karena kompetensi multibudaya diperlukan untuk mengurangi potensi prejudis dan stereotip yang ditengarai ada pada siapapun termasuk calon konselor dan calon guru. Bagi organisasi Profesi Konselor Pendidikan (ABKIN) diharap menyediakan pengembangan kompetensi multibudaya bagi konselor karena kemungkinan adanya potensi sikap prasangka dan berstereotip pada budaya tertentu. Peneliti selanjutnya dapat mengkaji pembelajaran melalui pengalaman dan Konseling Multibudaya melalui rancangan penelitian yang berbeda.