Skripsi
Eksplorasi pewarnaan alami buah pace (Morinda citrifolia L) menggunakan fiksator yang berbeda untuk batik tulis di Pacitan / Shinta Madyas Sari
Abstrak
Kata Kunci Eksplorasi Pewarnaan alami Buah Pace Fiksator berbeda. Eksplorasi zat warna alam ini Sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam lokal yang dimiliki. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pewarna alam adalah buah pace (Morinda citrifelia).Pewarnaan batik dengan menggunakan tanaman Pace sudah dilakukan di beberapa daerah tersebar di Indonesia.Namun demikian pewarnaan yang ditemukan pada daerah-daerah tersebut baru sebatas memanfaatkan bagian akar dari tanaman pace. Sementara itu untuk pemanfaatan buah pace sebagai sumber pewarna alam untuk batik saat ini sedang dirintis di Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Penelitian ini di fokuskan pada hasil warna buah pace dengan menggunakan fiksator yang berbeda yaitu tunjung kapur tawas dan cuka untuk batik tulis di Pacitan.Menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang di peroleh berupa hasil obserfasi. Pengumpulan data yang digunakan melalui observasi wawancara dan hasil pewarnaan. Untuk mengecek keabsahan data di lakukan trianggulasi data. Resep yang di gunakan adalah V 1 20 bahan ekstrak 200 gram mordanting 20 gram soda abu dan 50 gram tawas untuk fiksasi yang di gunakan 500 gram tunjung 500 gram tawas 500 gram cuka dan 500 gram kapur dan 10 liter air menggunakan 10 kali pencelupan. Berdasarkan resep tersebut di peroleh hasil (1) Arah warna yang di hasilkan dari buah pace lebih mengarah ke warna khaki. (2) Hasil fiksasi menggunakan tunjung menghasilkan warna dark khaki (3) Hasil warna tawas dan cuka menghasilkan warna yang sama yaitu khakitetapi labih muda (4) Hasil warna kapur mengahsilkan warna khakimuda dan sedikit kemerahan.Fiksator tunjung lebih ke warna tua sedangkan untuk fiksator tawas cuka dan kapur lebih ke warna muda. Warna yang dihasilkan dari pencelupan tersebut terlihat alamiah sehingga tidak ada kilau (doof).Hasil warna ini memiliki kerataan warna yang kurang baik di karenakan masih adanya lemak alami buah pace yang terkandung dalam ekstrak warna sehingga terdapat banyak bercak yang menempel.