Skripsi
Pengaruh penerapan model daur belajar 6 fase (LC-6P) p[ada materi termokimia untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA SMAI AlMarif Singosari / Firmansyah
Abstrak
ABSTRAK Firmansyah. 2012. Pengaruh Penerapan Model Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) pada Materi Termokimia untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMAI Almaarif Singosari. Skripsi Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dra. Srini M. Iskandar M.Sc. Ph.D. (II) Drs. Darsono Sigit M. Si. Kata kunci model daur belajar 6 fase (LC-6P) termokimia hasil belajar Pembelajaran kimia di kelas XI IPA SMAI Almaarif Singosari selama ini menggunakan metode ceramah sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa yang rendah. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian termokimia yang sebagian besar masih di bawah standar ketuntasan minimal (SKM) yaitu 75 seperti pada tahun ajaran 2011-2012 rata-rata nilai ulangan harian termokimia adalah 57 62 dengan rincian 76 92% siswa yang nilainya di bawah 75. Upaya meningkatkan hasil belajar dapat dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) agar siswa lebih aktif dan pembelajaran lebih bermakna. Salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah model Daur Belajar 6 Fase (LC-6P). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran ekspositori pada materi termokimia (2) mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) dan model pembelajaran ekspositori pada materi termokimia. Rancangan penelitian yang digunakan yakni rancangan eksperimental semu (quasi experimental design). Subjek penelitiannya adalah 2 kelas yaitu XI IPA 1 dan XI IPA 2 yang dipilih secara acak (random) untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diajarkan menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) sedangkan kelas kontrol diajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori. Instrumen yang digunakan berupa tes obyektif berjumlah 30 soal yang sudah divalidasi dan lembar observasi untuk melihat keterlaksanaan proses pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan cara statistik deskriptif untuk keterlaksanaan proses pembelajaran dan statistik inferensial untuk hasil belajar. Analisis statistik inferensial yang digunakan adalah uji-t dengan taraf signifikansi 945 0 05. Pengolahan data menggunakan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran ekspositori. Siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) memiliki rata-rata hasil belajar sebesar 79 89 sedangkan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran ekspositori memiliki rata-rata hasil belajar sebesar 73 22. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Daur Belajar 6 Fase (LC-6P) lebih tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran ekspositori.