Tesis
Bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru-siswa di SMP Negeri 1 Sumenep / Andriyanto
Abstrak
Kata kunci tuturan imperatif bahasa guru makna pragmatik imperatif. Bentuk tuturan imperatif merupakan kontruksi imperatif yang didasarkan pada struktur formal. Dalam praktik komunikasi interpersonal di sekolah makna imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru siswa di SMPN 1 Sumenep dapat diungkapkan dengan konstruksi yang lain. Makna pragmatik imperatif sebuah tuturan tidak selalu sejalan dengan wujud konstruksinya melainkan ditentukan oleh konteks situasi tutur yang menyertai melingkupi dan melatarinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa analisis bentuk tuturan imperatif interaksi guru siswa di sekolah yang dilakukan secara struktural belumlah cukup untuk menyajikan seluk beluk imperatif bahasa Indonesia. Analisis bentuk tuturan imperatif guru siswa di SMPN 1 Sumenep perlu konteks situasi tutur (speech situational contex) dan mempertimbangkan aneka wujud informasi indeksal agar analisis yang dilakukan benar-benar menjelaskan berbagai kemungkinan makna pragmatik imperatif bahasa Indonesia. Bertolak dari hal tersebut kajian tuturan imperatif dalam tulisan ini mengacu pada tuturan atau tindak tutur yang dianalisis berdasarkan sudut pandang struktural dan sudut pandang pragmatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan peneliti sebagai instrumen kunci. Jenis penelitiannya adalah deskriptif kualitatif yang berorientasi pada teori pragmatik. Teori pragmatik digunakan untuk menelaah tuturan imperatif guru siswa yang bervariasi. Dari berbagai variasi tersebut akan difokuskan dalam kajian bentuk tuturan imperatif jenis-jenis tuturan imperatif dan pesan tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru siswa di SMP Negeri 1 Sumenep. Data penelitian ini adalah wujud verbal tuturan imperatif bahasa Indonesia guru siswa di sekolah. Wujud verbal tersebut berupa pemilihan bentuk-bentuk tuturan imperatif yang digunakan guru siswa dalam berinteraksi di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pemilihan bentuk-bentuk imperatif merupakan prilaku berbahasa dari subjek (guru siswa). Prilaku ini bersifat nyata dalam konteks berinteraksi. Hasil penelitian diperoleh bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru siswa di SMP Negeri 1 Sumenep terdiri dari dua bentuk. Pertama bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru siswa di sekolah dilihat dari struktur formal bahasa Indonesia. Kedua bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia nonformal. Imperatif secara formal dibagi menjadi beberapa struktur formal. Pertama bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia interaksi guru siswa di sekolah berdasarkan struktur imperatif aktif. Tuturan imperatif aktif guru siswa di sekolah digolongkan menjadi dua macam imperatif aktif yang bercirikan transitif dan imperatif aktif yang bercirikan intransitif. Kedua adalah imperatif pasif. Ketiga bentuk tuturan imperatif yang tegas. Keempat bentuk tuturan imperatif biasa. Bentuk tuturan imperatif yang kelima adalah tuturan imperatif halus. Bentuk imperatif yang keenam adalah penggunaan kalimat larangan. Bentuk tuturan imperatif nonformal ada dua. Pertama tuturan deklaratif yang bermakna pragmatik imperatif dan yang kedua tuturan introgatif yang bermakna pragmatik imperatif. Bentuk tuturan imperatif ini dibangun dari kontruksi deklaratif ataupun introgatif yang memiliki makna pragmatik imperatif. Berdasarkan hasil penelitian di SMP Negeri 1 Sumenep diperoleh jenis tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia interaksi guru siswa yang berupa tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Digunakan jenis tuturan imperatif langsung dalam interaksi guru siswa di sekolah bertujuan untuk mengungkapkan maksud imperatif secara langsung. Sedangkan tuturan imperatif tidak langsung dalam interaksi guru siswa di sekolah digunakan untuk mengungkapkan maksud tuturan secara tidak langsung. Penggunaan tuturan imperatif langsung dalam interaksi guru siswa di sekolah dimaksudkan agar penutur dan mitra tutur mencapai pemahaman bersama. Dalam konteks tertentu ketika guru memberikan nasihat dan intermezo sebagai upaya penyegaran pembelajaran guru dalam wacana kelas menggunakan jenis tuturan imperatif tidak langsung. Ada tiga belas pesan tuturan imperaif dalam interaksi guru siswa di sekolah yang merupakan hasil penelitian. Ketiga belas pesan tuturan imperatif itu sebagai berikut (1) pesan tuturan imperatif yang bermakna perintah (2) bermakna suruhan (3) bermakna permintaan (4) bermakna permohonan (5) bermakna desakan (6) bermakna bujukan (7) bermakna imbauan (8) bermakna persilaan (9) bermakna ajakan (10) bermakna permintaan izin (11) bermakna larangan (12) bermakna harapan dan (13) bermakna anjuran. Dengan demikian hasil penelitian bentuk tuturan imperatif bahasa Indonesia dalam interaksi guru siswa di SMPN 1 Sumenep dapat digunakan guru khususnya guru bahasa Indonesia dalam memilih varian bentuk tuturan imperatif yang sesuai dengan konteks tuturan. Hal ini berdampak pada perlakuan guru kepada siswa sebagai upaya membangun budaya komunikasi yang sehat menghindari suasana yang kaku dan benar-benar menumbuhkan motivasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.