Skripsi
Perbedaan resiliensi remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh di SMA Negeri Kota Malang / Gracillia Putri Jauhari
Abstrak
Kata kunci resiliensi remaja keluarga bercerai keluarga utuh Resiliensi adalah kemampuan untuk menghadapi mengatasi meminimalkan bangkit kembali dan mengurangi atau menghilangkan dampak-dampak negatif atau resiko dari masalah yang dihadapi serta memungkinkan pula untuk merubah pandangan atas masalah yang terjadi menjadi hal yang memang wajar untuk diatasi. Namun kualitas resiliensi setiap individu tidaklah sama terdapat aspek-aspek penting yang membentuk resiliensi. Keadaan keluarga adalah suatu kondisi yang menunjukkan bagaimana susunan suatu keluarga baik secara struktur dan interaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh dan apakah terdapat perbedaan resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Sampel penelitian adalah remaja kelas X dan XI di SMAN 1 3 4 7 dan 9 Malang dengan total subyek 80 siswa. Pengambilan subyek adalah subyek dalam populasi pada remaja dalam keluarga bercerai dan random sampling pada remaja dalam keluarga utuh. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket keadaan keluarga dan skala resiliensi Skala resiliensi terdiri atas 42 aitem valid (r 0.234-0.645) dan reliabilitas 0 879. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis komparatif dengan uji beda independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja dalam keluarga bercerai jika dibandingkan dengan remaja dalam keluarga utuh menunjukkan tingkat resiliensi tinggi. Uji hipotesis menyimpulkan tidak ada perbedaan resiliensi antara remaja dalam keluarga bercerai dan remaja dalam keluarga utuh dengan signifikansi 0.511 (sig. 0.05). Disarankan kepada (1) pihak sekolah untuk mengadakan class discussion grup terkait dengan perceraian dan dampaknya. (2) pihak orang tua untuk meningkatkan komunikasi dengan anak seperti mengajaknya berdiskusi tentang masalah-masalah remaja. (3) pihak remaja untuk memperbanyak kegiatan berkelompok seperti ekstrakulikuler sekolah yang melibatkan banyak interaksi antar teman untuk meningkatkan rasa optimis kontrol emosi dan tidak membatasi kemampuan diri. (4) pihak peneliti selanjutnya untuk lebih cermat dalam mengambil sampel serta mengikutsertakan faktor-faktor lain ke dalam penelitian seperti keterampilan sosial otonomi keterampilan menyelesaikan masalah kesempatan untuk bisa berpartisipasi dalam kelompok hubungan yang hangat dengan lingkungan dan harapan yang tinggi dari lingkungan yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini.