Disertasi
Representation of teachers\' identity in EFL classroom interactions / Meinarni Susilowati
Abstrak
Kata kunci representasi identitas guru konstruksi identitas interaksi kelas Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana dosen bahasa Inggris merepresentasikan identitas mereka dalam interaksi kelas.Topik ini dipilih dengan mempertimbangkan pentingnya guru merepresentasikan identititasnya karena tuntutan globalisasi. Dengan melihat peran ujaran sebagai locus identitas maka sangatlah penting meneliti bagaimana guru merepresentasikan identitasnya. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dengan mempertimbangkan ketersediaan data etik emik dan negosiasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Untuk itu dua rumusan masalah diformulasikan sebagai berikut (1) bagaimanakah dosen bahasa Inggris UIN merepresentasikan identitas mereka melalui ujaran mereka dalam interaksi kelas dan (2) bagaimanakah dosen bahasa Inggris UIN mempersepsi representasi identitas mereka dalam interaksi kelas Untuk itu menjawab rumusan masalah tersebut perlu didesain penelitian kualitatif dengan metode linguistik sosiokultural dan pendekatan sosiolinguistik interaksional yang melibatkan beberapa dosen matakuliah konten berdasarkan asas sukarela. Observasi nonpartisipatif digunakan untuk merekam bagaimana para dosen merepresentasikan identitas mereka dalam interaksi kelas. Dari data tersebut ujaran yang mengandung representasi identitas dosen diseleksi untuk dianalisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan lima cara kemunculan identitas dosen dalam interaksi kelas. Berdasarkan hasil analisis tersebut para dosen diwawancarai secara mendalam untuk memperoleh data bagaimana mereka mempersepsi representasi identitas mereka dalam interaksi kelas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa para dosen merepresentasikan identitas melalui ujaran mereka dalam interaksi kelas dengan cara yang berbeda. Pertama identitas dosen yang muncul secara spontan merefleksikan identitas dosen yang didorong oleh adanya kebutuhan untuk menunjukkan identitas dengan tingkat emosi yang berbeda identitas yang difasilitasi oleh relasi kekuasaan identitas yang muncul untuk menunjukkan komitmen dosen yang melampaui tujuan pengajaran dan identitas yang didorong oleh kebutuhan untuk dihormati. Kedua identitas dosen juga menunjukkan peran tertentu yakni sebagai pemuncul masalah (problematizer) anggota komunitas yang dipandang negatif (stereotyped) anggota masyarakat akademik evaluator bahasa dan kecenderungan dosen sebagai anggota kelompok anak muda. Ketiga identitas dosen yang berafiliasi terhadap kelompok tertentu memunculkan identitas dosen sebagai anggota kelompok etnis tertentu warga Indonesia anggota kelompok agama tertentu dan masyarakat akademik. Keempat identitas dosen yang mengeksplorasi kultur dari praktik institusional menunjukkan identitas yang digunakan untuk membedakan aspek kultural atas fungsi sosiolinguistik yang berbeda persamaan kultural untuk merespon kebutuhan berinteraksi kultur pada kekuasaan institusional perbedaan sosiokultural untuk merepresentasikan persamaan sosial serta persamaan status sosial pada budaya lokal dan budaya target. Dari sudut pandang persepsi para dosen pandangan mereka terhadap representasi identitas mereka dapat diklasifikasikan menjadi empat hal. Pertama mereka menganggap bahwa identitas bersifat variatif fleksibel relasional fragmentasi tergantung pada konteks sosiokultural and politis dan memiliki dimensi personal dan profesional. Kedua ada empat fungsi penting dari identitas mereka yaitu untuk menyaring nilai-nilai yang dimiliki bahasa Inggris menunjukkan upaya mereka untuk menempati rumah ketiga diantara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menunjukkan kuatnya identitas serta peran mereka sebagai orangtua. Ketiga setiap bahasa merepresentasi identitas mereka yang berbeda untuk mengakomodasi kebutuhan akademik dan personal. Hal ini mendorong digunakannya alih kode untuk memenuhi kebutuhan khusus yang tidak bisa diberikan oleh bahasa Inggris. Dalam hal ini bahasa Inggris difungsikan sebagai bahasa instrumental bukan pembawa nilai dan budaya. Para dosen juga menganggap representasi identitas mereka sebagai edukator penyaring nilai-nilai asing dan pembuat kompromi antara kultur Indonesia dan asing serta representasi identitas mereka yang kuat untuk menghadapi globalisasi. Para dosen juga menyadari peran mereka sebagai agen identitas dan pentingnya fungsi representasi identitas mereka sebagai pembentuk identitas pebelajar. Namun demikian peran sebagai model dianggap sebagai cara yang paling baik untuk membentuk identitas pebelajar. Mereka juga mengingatkan para dosen dan guru untuk tidak berlebihan dalam menempatkan posisi bahasa Inggris dan harus lebih menyadari pentingnya identitas sendiri. Berdasarkan temuan di atas perlu direkomendasikan beberapa hal untuk pengembang pegagogis pembuat kebijakan dan peneliti lanjut. Secara pedagogis para guru disarankan untuk (1) mengeksplorasi identitas mereka agar bisa meningkatkan keterlibatan pebelajar dalam kegiatan belajar (2) mengintegrasikan pembentukan identitas pebelajar dalam kegiatan belajar dan (3) mengintegrasikan nilai-nilai relijius dan kultural dalam interaksi kelas. Para pengambil kebijakan disarankan untuk mendesain program pembinaan guru yang sensitif terhadap identitas untuk membekali para guru dengan pemahaman dan ketrampilan yang memadai untuk pembentukan identitas pebelajar. Para peneliti disarankan untuk melakukan studi lanjut agar bisa menemukan bukti empiris tentang (1) peran representasi identitas guru untuk pembentukan identitas pebelajar (2) relasi antara representasi identitas guru dengan tingkat investasi belajar dan (3) bagaimana relasi kekuasaan bisa menumbuhkan identitas pebelajar secara produktif.