Skripsi
Manajemen peserta didik di Sekolah Satu Atap (studi kasus di SMP Negeri Merjosari Kota Malang dan SMP Negeri 2 Dau Kabupaten Malang) / Moh. Irfan
Abstrak
Kata kunci manajemen peserta didik sekolah satu atap Manajemen sangat diperlukan setiap lembaga atau organisasi untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Suatu lembaga atau organisasi baik yang bersifat sederhana maupun yang bersifat kompleks harus menerapkan manajemen yang baik jika ingin mencapai tujuan yang maksimal. Salah satu lembaga yang bersifat kompleks yaitu sekolah. Di dalam suatu sekolah manajemen peserta didik menduduki tempat yang sangat penting karena sentral layanan pendidikan di sekolah terdapat pada peserta didik dan peserta didik di sekolah merupakan unsur inti dalam kegiatan pendidikan. Sehingga manajemen peserta didik diterapkan di semua sekolah termasuk sekolah terpadu antara SD dan SMP yang merupakan program pemerintah untuk memeratakan pendidikan dan merealisasikan program wajib belajar sembilan tahun yang disebut sebagai Sekolah Satu Atap. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Satu Atap yaitu di SMP Negeri Merjosari Kota Malang dan SMP Negeri 2 Dau Kabupaten Malang dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai manajemen peserta didik di kedua sekolah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis rancangan studi kasus. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu (1) wawancara (2) observasi dan (3) studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data display data dan verifikasi data. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu (1) perencanaan peserta didik di SMPN Merjosari dan SMPN 2 Dau diawali dengan penentuan pagu peserta didik yang diterima. Penentuan jumlah rombongan belajar ditetapkan oleh dinas sesuai dengan peraturan khusus bagi sekolah satu atap. Jumlah rombongan belajar di SMPN Merjosari ada sembilan sedangkan di SMPN 2 Dau terdapat tiga rombongan belajar (2) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kegiatan awal yang dilakukan di SMPN Merjosari dan SMPN 2 Dau yaitu pembentukan panitia PPDB yang selanjutnya melakukan rapat ketentuan PPDB. Sistem PPDB yang digunakan di SMPN Merjosari bagi calon peserta didik yang berasal selain dari SDN Merjosari IV yaitu sistem online dan sistem mandiri yang diadakan oleh sekolah sendiri sedangkan di SMPN 2 Dau sistem PPDB yang digunakan bagi calon peserta didik yang berasal selain dari SDN Kucur 2 yaitu ranking NUN (3) pengelompokan peserta didik baru di SMPN Merjosari berdasarkan NUN atau tes dan berdasarkan rasio pria-wanita. Sedangkan peserta didik baru di SMPN 2 Dau dikelompokkan menjadi satu kelas. Untuk pengelompokan pada saat KBM di kedua sekolah tersebut diatur oleh masing-masing guru yang sedang mengajar (4) mutasi dan drop out peserta didik pada kedua sekolah tersebut terdapat mutasi masuk dan keluar. Mutasi keluar dilakukan peserta didik karena mereka mengikuti orangtua yang pindah rumah. Selain mutasi peserta didik di kedua sekolah tersebut juga sering terjadi drop out peserta didik. Penyebab drop out tersebut sebagian besar karena kondisi ekonomi orangtua yang kurang mampu dan dari peserta didik sendiri yang tidak mau sekolah (5) pengaturan disiplin dan tata tertib peserta didik di SMPN Merjosari dan SMPN 2 Dau diatur sepenuhnya oleh pihak sekolah terutama oleh bagian kesiswaan sebagai penanggungjawab. Tata tertib disusun berdasarkan poin-poin (6) pembinaan peserta didik diberikan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMPN Merjosari meliputi (a) futsal (b) baca Al-Qur an (c) seni tari (d) karate (e) bola voli (f) KIR (g) Pramuka (h) BDI (i) EFF dan (j) keputrian. Selain itu juga terdapat layanan khusus peserta didik yang meliputi (a) perpustakaan (b) kantin (c) koperasi sekolah dan (d) BK. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 2 Dau meliputi (a) Pramuka (b) olahraga (c) kerohanian (d) bahasa asing dan (e) seni budaya. Serta layanan khusus peserta didik yaitu (a) BK (b) perpustakaan (c) kantin dan (d) UKS (7) penilaian peserta didik di SMPN Merjosari dan di SMPN 2 Dau dibedakan menjadi empat yaitu (a) tugas harian (b) ulangan harian (c) UTS dan (d) UAS. Kriteria penilaian peserta didik yang digunakan pada kedua sekolah tersebut adalah KKM sehingga bagi peserta didik yang nilainya belum memenuhi KKM harus mengikuti program remidial. Kedua sekolah tersebut menggunakan mastery learning dalam pembelajarannya. Berdasarkan kesimpulan saran-saran yang diajukan peneliti yaitu (1) bagi Kepala SMPN Merjosari hendaknya dengan ditetapkannya SMP Merjosari sebagai Sekolah Satu Atap segala pengelolaannya dilaksanakan secara terpadu baik terpadu secara fisik maupun secara pengelolaan. Misalnya terpadu mengenai lokasi sekolah kepala sekolah guru dan manajemennya. Selain itu pihak sekolah juga lebih memperhatikan peserta didik agar tidak sering terjadi drop out peserta didik. Sedangkan bagi Kepala SMPN 2 Dau hendaknya berupaya untuk selalu memperbaiki sistem manajemen peserta didik di sekolah agar semakin baik mulai perencanaan sampai evaluasi. Sehingga peserta didik di sekolah merasa nyaman dan merasa diperhatikan dalam belajar serta dapat mencapai tujuan pendidikannya dengan efektif dan efisien. Pihak sekolah juga sebaiknya selalu giat mengadakan kegiatan yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dan mengurangi angka drop out (2) bagi para dosen dan ketua jurusan Administrasi Pendidikan dapat selalu memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan manajemen peserta didik di Sekolah Satap karena sekolah Satap merupakan sekolah baru yang masih banyak membutuhkan perbaikan (3) bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebaiknya selalu melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan Sekolah Satap sehingga pelaksanaan Sekolah Satap sesuai dengan kriteria dan peraturan-peraturan khusus bagi penyelenggaraan Sekolah Satap. Selain itu juga lebih serius menangani masalah drop out peserta didik di Sekolah Satap agar tidak sering terjadi dan (4) bagi peneliti lain hendaknya dapat melakukan penelitian sejenis di sekolah Satap mengenai substansi manajemen pendidikan selain manajemen peserta didik sehingga hasil penelitian yang dilakukan nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki manajemen pendidikan di sekolah Satap.