Skripsi
Homosexual love expressions addressed to a hermaphrodite in Shakespeare\'s Sonnets / Farid Bhaktiar
Abstrak
Kata Kunci cinta homoseksual ekspresi sonet-sonet Shakespeare Sedari awal mulanya sonet merupakan sebuah bentuk puisi yang dulunya digunakan oleh kalangan kerajaan sonet juga sebenarnya ditujukan pada wanita dari lingkungan kerajaan dengan suatukekaguman dan pemujaan. Ada beberapa karakteristik dari subyek atau topik terkhususnya cinta. Pada abad ke-enam belas sonet dibawa oleh Thomas Wyatt dan Henry Howard ke Inggris dan pada akhirnya mencapai puncaknya pada masa kepenguasaan Ratu Elizabeth. Shakespeare terlibat dalam tradisi menulis sonet dengan menciptakan sejumlah 154 sonet. Para pakar telah menemukan jika terdapat dua pembagian pada sonet-sonet Shakespeare. Pembagiannya berdasarkan pada kepada siapa sonet-sonet itu ditujukan. Yang teralamat pertama dikenal sebagai the fair youth 126 sonet pertama dipercaya ditujukanpadanya. Yang teralamat kedua adalah dikenal sebagai the dark lady sonet 127 sampai sonet 152 dipercaya ditujukan padanya. Setelah mengetahui bahwasanya Shakespeare mengalamatkan sebagian sonet-sonetnya kepada seorang figur pria membuat para ahli terheran-heran.Oleh karenanyapenelitian ini ingin membahas tentang ekspresi-ekspresi cinta homoseksual yang berada di dalam sonet-sonet Shakespeare.Oleh karena itu penelitian ini mengaplikasikan desain penelitian deskriptif-kualitatif dalam melaksanakan penelitian dan karena penelitian ini termasuk sebagai kritik sastra maka penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik.Data yang digunakan bersumber dari kumpulan sonet-sonet Shakespeare yang telah dikompilasi dan telah menggunakan transkripsi yang modern.Semenjak penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif maka peneliti berperan sebagai instrument utama dalam mengumpulkan data.Dalam menganalisa data peneliti memformulasikannya ke dalam 2 langkah.Langkah yang pertama adalah membaca dengan seksama setelah menentukan sonet-sonet tertentu yang dicurigai mengandung ekspresi-ekspresi cinta homoseksual peneliti membaca sonet-sonet tersebut dengan seksama dengan memepertimbangkan konteks dari sonet-sonet secara menyeluruh.Membaca secara seksama ditujukan untuk memahami sonet dengan baik.Langkah kedua adalah interpretasi setelah memiliki pemahaman yang baik dari sonet-sonet tersebut peneliti mengiterpretasikan sonet-sonet itu dengan bantuan berupa argument-argumen dari peneliti-peneliti lain. Setelah menginterpretasikan teks peneliti akhirnya dapat menilai apakah sonet-sonet Shakespeare mengandung ekspresi-ekspresi cinta homoseksual. Secara ringkas dari hasil analisa yang telah dilakukan peneliti telah memahami jika (1) sang penutur di dalam sonetmendesak the fair youth untuk menikah dan mewariskan keelokannya kepada anaknya sebagai manisfestasi cintanya kepada sang penutur. Peneliti menemukan jika (2) sang penutur dari sonet mengekspresikan cinta dan baktinya pada the fair youth dengan caramengabadikan keelokannya di dalam sonet-sonetnya. Sebagai tambahan (3) sang penutur menganggap pria muda itu sebagai seorang yang menawan yang memiliki fitur-fitur yang merupakan kesempurnaan sintesis dari fitur-fitur dari laki-laki dan perempuan.Juga telah diketahui kalau (4) status the fair youth sebagai laki-laki tidak dianggap sebagai halangan terhadap cintanya.Di dalam sonet-sonet Shakespeare (5) terdapat sebuah jalinan segitiga sebuah jalinan yang melibatkan sang penutur the fair youth dan the dark lady . Walaupun sang penutur mencintai the fair youth dan juga the dark lady sang penutur menunjukkan rasa kehilangan ketika mengetahui the dark lady memiliki the fair youth . Pada akhirnya peneliti sampai pada suatu pemahaman jika sang penutur mendambakan the fair youth yang digambarkan sebagai figure androgini.Oleh karenanya ini mengkonfirmasikan jika sonet-sonet Shakespeare mengandung ekspresi cinta homoseksual yang dialamatkan kepada seorang laki-laki yang figurnya direpresentasikan sebagai seorang hermaprodit.