Skripsi
Images of boys and girls created through gender associated words used in voice-overs of toys commercials / Lusiana Distika Sari
Abstrak
Sari Lusiana Distika. 2013. Gambaran Anak Laki-laki dan Perempuan yang Dibangun Melalui Kata Berasosiasikan Gender yang Digunakan dalam Tuturan Iklan Mainan. Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Aulia Apriana S.S. M.Pd. Kata kunci iklan tuturan iklan dan kata berasosiasikan gender. Proses belajar mengenai gender dimulai sejak usia yang masih sangat dini (Goddard and Me n 2009). Kita belajar mengenai gender sejak pertama kali kita berinteraksi dengan orang lain sebab gender itu sendiri dibentuk oleh masyarakat. Ada banyak cara untuk belajar mengenai gender dan salah satu caranya adalah melalui media masa terutama televisi yang merupakan media masa yang mudah dekat dengan anak-anak. Salah satu acara televisi yang memiliki peranan besar dalam proses sosialisasi gender pada anak-anak adalah iklan mainan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kata-kata yang berasosiakan gender yang digunakan dalam tuturan iklan mainan anak laki-laki dan perempuan berikut dengan frekuensinya. Selain itu penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran anak laki-laki dan perempuan yang dibangun melalui kata-kata yang berasosiakan gender yang digunakan dalam tuturan iklan mainan. Desain dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini adalah kata-kata berasosiakan gender yang digunakan dalam tuturan iklan mainan. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan dari enam puluh iklan mainan yang terdiri dari tiga puluh iklan mainan anak laki-laki dan tiga puluh iklan mainan anak perempuan sejak tahun 2010 hingga 2012 yang dipublikasikan di internet. Tuturan yang terdapat dalam iklan terlebih dahulu ditulis dan kemudian dinalisa untuk menemukan kata yang berasosiakan gender yang digunakan dalam tuturan iklan. Kata yang dianggap sebagai kata-kata yang berasosiakan gender tersebut berasal dari kategori kata yang berbeda. Kata berasosiasikan gender tersebut kemudian didaftar dan ditabulasikan untuk mengetahui frekuensi kemunculannya. Semua kata berasosiakan gender yang telah terkumpul kemudian direlasikan dengan teori tentang sifat stereotip pria dan wanita yang dikemukakan oleh Rosenkrantz (Brannon 1996 hal. 176) dan Williams Bennet (Lips 1988 hal. 4) dalam Irawan (2003). Jika ada kata-kata yang berasosiakan gender yang tidak sesuai dengan sifat manapun dalam teori tersebut peneliti menuliskan sifat berdasarkan temuannya. Peneliti kemudian menganalisa gambaran anak laki-laki dan perempuan melalui masing-masing tiga kata yang paling sering digunakan dalam iklan mainan anak laki-laki dan perempuan. Temuan dalam penelitian ini adalah 105 kata yang biasa diasosiasikan dengan anak laki-laki dan 86 kata yang biasa diiasosiasikan dengan anak perempuan yang digunakan dalam frekuensi berbeda. Tiga kata yang berasosiakan gender yang paling sering digunakan dalam tuturan iklan anak laki-laki adalah battle / n power / n dan blast / n sedangkan tiga kata yang berasosiakan gender yang paling sering digunakan dalam tuturan iklan anak perempuan adalah baby / n love / v dan cute(est) / adj. Peneliti juga menemukan sembilan sifat stereotip anak laki-laki cekatan bersifat merusak tidak mudah merasa jijik memiliki pemahaman yang baik tentang teknologi memiliki pemahaman yang baik mengenai mekanik kasar bersifat melindungi pendendam dan suka melukai dan enam sifat stereotip anak perempuan periang memiliki sifat keibuan menyukai hal-hal yang indah atau cantik penuh kegembiraan suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan suka berbelanja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran anak laki-laki yang dibentuk melalui tiga kata berasosiakan gender yang paling banyak digunakan dalam tuturan iklan mainan anak laki-laki adalah pemberani berani melakukan hal-hal beresiko tidak mudah merasa sakit kuat tangguh suka melukai bersifat merusak dan kejam sedangkan gambaran anak perempuan yang dibentuk melalui tiga kata berasosiakan gender yang paling banyak digunakan dalam tuturan iklan mainan anak perempuan adalah suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga penuh kasih memiliki sifat keibuan peduli dengan perasaan orang lain berhati lembut mudah tertarik cantik dan menarik.