Tugas Akhir
Evaluasi Kincir Air Kaki Angsa untuk mengoperasikan generator 1 fasa berpenguat luar di Desa Senggreng Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang / Nofian Firmansyah
Abstrak
Firmansyah Nofian. 2013. Evaluasi Kincir Air Kaki Angsa untuk Mengoperasikan Generator 1 Fasa Berpenguat Luar di desa Senggreng kecamatan Sumberpucung kabupaten Malang. Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Dwi Prihanto S.S.T. M.Pd. (2) Yuni Rahmawati S.T. M.T. Kata Kunci evaluasi kincir air kaki angsa generator 1 fasa desa Senggreng Sumberpucung Malang. Di negara kepulauan seperti Indonesia ini masih banyak daerah-daerah yang masih terpencil dan tertinggal yang belum cukup mendapat penerangan listrik dan terjangkau PLN. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut pihak pemerintah maupun pihak swasta juga mencari energi alternatif seperti gas alam batu bara dan tenaga nuklir. Maka dari itu banyak sekali pihakpihak yang telah menggunakan turbin untuk alat pembangkit. Inovasi yang diusulkan adalah pengembangan dari teknologi kincir air kaki angsa sebagai pembangkit energi pedesaan yang merupakan temuan baru untuk membangkitkan energi alternatif dan ramah lingkungan. Bentuk pengembangannya di sini kincir air kaki angsa didesain dengan model turbin ganda paralel. Kincir tersebut lebih praktis dari desain sebelumnya di mana penambahan daya dilakukan dengan memasang dua buah turbin seporos (secara seri). Berdasarkan hasil yang didapat dari percobaan optimalisasi daya pada pembangkit hydro menggunakan kincir air kaki angsa untuk menggerakkan generator 1 fasa berpenguat luar di desa Senggreng Sumberpucung Malang generator hanya mampu menghasilkan putaran 25 rpm. Maka dilaksanakanlah percobaahn untuk mengetahui berapa minimal putaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan tegangan dengan cara mengkopel generator dengan motor induksi 3 fasa dari hasil percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa generator akan menghasilkan tegangan jika diputar 298 rpm dan akan menghasilkan tegangan yang maksimal jika diputar 1200 rpm. Maka dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa (1) perlu adanya sistem transmisi mekanik yang lebih mendetail dan terperinci agar dalam pengoperasian kincir air kaki angsa tersebut tegangan yang dikeluarkan sesuai dengan yang diharapkan. (2) Generator menghasilkan tegangan minimal jika diputar 298 rpm dan menghasilkan tegangan maksimal jika diputar 1200 rpm. (3) jika dilihat dari hasil putaran yang berkisar antara 25 rpm maka perlu 240 kutub pada generator agar generator menghasilkan tegangan namun hal ini tidak mungkin dilakukan mengingat generator tersebut berukuran kecil.