Tesis
The strategies used by the high achievers and low achievers of the tenth grades of SMAN 1 Kediri in writing narative texts / Bambang Yulianto
Abstrak
Yulianto B. 2013. The Strategies Used by the High Achievers and Low Achievers of the Tenth Graders of SMAN 1 Kediri in Writing Narrative Texts. Thesis. The English Language Education Graduate Program State University of Malang. Advisors (1) Drs. Fachrurrazy MA PhD (2) Dr. Suharmanto M.Pd Key Words Writing Strategies Narrative Texts High Achievers Low Achievers Tujuan utama kurikulum Bahasa Inggris kita adalah mengembangkan kompetensi komunikatif baik tulis maupun lisan. Supaya dapat menghasilkan wacana dalam bentuk tulis dengan baik strategi dalam menulis dianggap sebagai faktor utama yang membedakan penulis yang berhasil dan penulis yang kurang berhasil . Oleh karena itu strategi menulis yang digunakan oleh siswa yang berprestasi tinggi dan berprestasi rendah dalam menulis teks naratif layak untuk diteliti. Fokus investigasi dari penelitian ini oleh karena itu adalah menggambarkan strategi yang dipakai oleh siswa berprestasi tinggi dan siswa berprestasi rendah dalam menulis teks narrative guna mengetahui perbedaannya. Jadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah Apa perbedaan antara strategi menulis yang digunakan oleh siswa berprestasi tinggi dengan strategi menulis yang digunakan oleh siswa berprestasi rendah di Kelas X SMAN 1 Kediri dalam menulis teks naratif Diharapkan bahwa di masa yang akan datang strategi yang dipakai oleh siswa yang berhasil dalam menulis dapat diajarkan kepada siswa yang kurang berhasil sehingga kinerja mereka dalam menulis teks naratif bisa menjadi lebih baik. Studi ini dilakukan dengan menggunakan focused interviews and analisis pada karya tulisan siswa. Data primer (perilaku subyek dalam proses menulis yang dilaporkan) dikumpulkan melalui rangkaian interview. Rangkaian interview terdiri dari dua tahap. Interview pertama dimaksudkan untuk membuat subyek melaporkan apa saja yang dia lakukan selama proses menulis ketika memulai mengembangkan ide dan mengakhiri kegiatan menulis. Interview kedua akan dilakukan untuk memperdalam informasi apabila subyek tidak memberikan informasi yang jelas sehubungan perilakunya dalam tahapan menulis. Kegiatan interview direkam dan diubah dalam bentuk tulis. Tulisan hasil interview tersebut kemudian dianalisa secara induktif. Sedangkan analisis karya tulis berupa teks naratif digunakan untuk melengkapi dan mengkonfirmasi data primer dari interview. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 siswa kelas X6 SMAN 1 Kediri yang diseleksi secara purposif. Enam siswa berprestasi tinggi diambil dari enam siswa yang mendapat nilai tertinggi 1 sampai dengan 6 sementara siswa berprestasi rendah adalah keenam siswa yang berprestasi terendah dalam menulis teks naratif yaitu siswa peringkat 29 sampai dengan 34. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan strategi di antara kedua kelompok tersebut. Pertama dalam tahap inventing perbedaan terletak pada variasi dari strategi yang digunakan. Dalam tahap ini selain kedua kelompok tersebut menggunakan strategi yang sama dalam menggali ide (mengadaptasi cerita film mengangkat cerita kehidupan dan berfikir tentang cerita inspirasi) kelompok berprestasi tinggi juga menggunakan murni imajinasi sedangkan kelompok siswa berprestasi rendah mengingat cerita novel. Kedua dalam tahap planning strategi dalam menulis yang digunakan oleh siswa berprestasi tinggi lebih banyak daripada yang digunakan kelompok rendah. Kelompok tinggi menggunakan 16 strategi sementara kelompok rendah menggunakan hanya 8 strategi saja. Fakta bahwa kelompok tinggi menggunakan strategi yang jauh lebih banyak dan bervariasi dalam proses menulis menunjukkan bahwa kelompok tinggi merencanakan menulis dengan lebih baik daripada kelompok rendah. Dalam planning terlihat bahwa siswa kelompok tinggi berusaha membuat cerita yang menarik pembacanya. Ketiga dalam tahap drafting (menulis) strategi menulis yang digunakan kelompok tinggi juga lebih bervariasi dan banyak jumlahnya daripada yang digunakan oleh kelompok rendah. Dalam tahap ini juga ada indikasi bahwa kelompok tinggi berencana menghibur pembaca dengan mempraktikkan lebih banyak cara untuk membuat cerita yang menarik sementara kelompok rendah hanya bermaksud untuk dapat menyelesaikan tugas menulis ini dengan mudah. Keempat dalam tahap revising/editing anggota kelompok tinggi merevisi/mengedit teks lebih banyak daripada kelompok bawah. Selain itu berdasarkan kesalahan yang ditemukan dalam teks naratif merekan kegiatan revising/editing yang dilakukan oleh kelompok tinggi lebih berhasil daripada yang dilakukan kelompok rendah. Berdasarkan temuan penelitian ini guru disarankan untuk memberi perhatian lebih banyak pada pengajaran strategi mengajar pada tahap planning drafting dan revising/editing karena pada tahap itulah siswa kelompok rendah lemah. Kedua guru seharusnya juga membantu siswa mendapatkan akses untuk lebih baik dalam menerapkan strategi menulis mereka dan dapat menulis secara mandiri dan memberikan feedback dalam proses menulis bukan setelah siswa selesai dan tulisan dikumpulkan. Ketiga guru juga sebaiknya memikirkan tentang masalah yang dihadapi siswa kelompok rendah ketika menulis teks naratif dan mencari jalan keluar untuk membantu mereka karena sangat mungkin mereka tidak mempunyai niat menulis cerita yang menarik karena tidak percaya diri tidak berminat menulis teks naratif dan kompetensi yang kurang dalam Bahasa Inggris. Sehubungan dengan penelitan di masa datang studi lebih lanjut tentang strategi menulis untuk genre yang lain seperti explanation dan exposition dan subyek dengan karakteristik yang berbeda perlu dilakukan.