Disertasi
The relationship between intelligence, critical thinking skills in reading and EFL proficiency among EFL learners / Esti Junining
Abstrak
Junining Esti. 2013. Hubungan antara Intelegensi Ketrampilan Berpikir Kritis dalam Membaca serta Kemampuan Berbahasa Inggris oleh Para Pembelajar Bahasa Inggris. Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Ali Saukah M.A Ph.D. (II) Prof. Utami Widiati M.A. Ph.D. (III) Dr. Suharmanto M.Pd. Kata kunci intelegensi ketrampilan berpikir kritis dalam membaca kemampuan berbahasa Inggris pembelajar bahasa Inggris Kemampuan berbahasa Inggris sebagai bahasa asing adalah suatu kemampuan yang sangat penting dalam perjalanan menempuh pendidikan. Kegagalan menguasai kemampuan ini berakibat kurangnya keberhasilan dalam berbagai hal seperti kurangnya keberhasilan dalam bidang akademik kesempatan social and ekonomi serta belajar antar budaya. Sehubungan dengan itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara integensi ketrampilan berpikir kritis dalam membaca serta kemampuan berbahasa Inggris dengan rumusan masalah sebagai berikut 1) Bagaimanakah hubungan antara intelegensi dengan kemampuan berbahasa Inggris 2) Bagaimanakah hubungan antara ketrampilan berpikir kritis dalam membaca dengan kemampuan berbahasa Inggris 3) Apakah kontribusi intelegensi dan ketrampilan berpikir kritis dalam membaca dengan kemampuan berbahasa Inggris Tiga puluh lima pembelajar bahasa Inggris level pre-advanced diseleksi sebagai responden dalam penelitian ini. Ketiga puluh lima responden tersebut harus sudah lulus seluruh mata kuliah ketrampilan membaca dan mempunyai skor 500 untuk kemampuan berbahasa Inggris. Analisis regresi ganda menggunakan SPSS 16 digunakan untuk mengethaui hubungan antara ketiga variable tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para pembelajar bahasa Inggris dalam penelitian ini mempunyai skor IQ rata-rata. Sedangkan untuk ketrampilan berpikir kritis para pembelajar bahasa Inggris dalam penelitian ini mempunyai ketrampilan berpikir kritis pada tingkat mahir dan cakap. Tingkat mahir adalah suatu tingkat dimana para pembelajar bahasa Inggris bisa mengidentifikasi delapan element and sembilan standard intelektual dalam berpikir kritis dengan baik dan benar. Tingkat cakap adalah suatu tingkat dimana para pembelajar bahasa Inggris belum bisa mengidentifikasi delapan element and sembilan standard intelektual dalam berpikir kritis dengan baik dan benar namun sudah mulai mengetahui adanya dua sisi dalam argumentasi. Dalam hal hubungan antara IQ dengan kemampuan berbahasa Inggris hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan anatara perolehan IQ dengan kemampuan berbahasa Inggris. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara IQ dengan kemampuan berbahasa Inggris ini bisa dikarenakan kedua variable tersebut berasal dari dua konstruk yang berbeda. Yang kedua adalah adanya hubungan yang signifikan antara ketrampilan berpikir kritis dengan kemampuan berbahasa Inggris. Penemuan ini mendukung teori bahwa tingkat ketrampilan berpikir kritis mempunyai hubungan yang erat dengan keberhasilan di bidang akademik. Yang ketiga kontribusi IQ kemampuan berpikir kritis dan profisiensi berbahasa adalah bahwa dari kedua variable bebas IQ dan kemampuan berpikiri kritis hanya ada satu variable bebas yang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Inggris yakni kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian dapat disimplukan bahwa peranan IQ dalam hal ini adalah sebagai moderator untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis maupun kemampuan berbahasa Inggris. Dari temuan tersebut bisa disimpulkan bahwa ketrampilan berpikir kritis dalam membaca menentukan keberhasilan di bidang akademik dan tidak dipengaruhi oleh intelegensi dan profisiensi sehingga ketrampilan berpikir kritis bisa diajarkan secara eksplisit dengan cara diintegrasikan dengan bidang akademik yang lain untuk menghasilkan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih baik.