Skripsi
Perkembangan pabrik gula Soekowidi (1895-1944) di Kabupaten Banyuwangi / Siti Munawaroh
Abstrak
Munawaroh Siti. 2013. Perkembangan Pabrik Gula Soekowidi (1895-1944) Di Kabupaten Banyuwangi. Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ari Sapto M.Hum (II) Drs. Marsudi M.Hum. Kata Kunci industri gula Banyuwangi Pabrik Gula Soekowidi hasil produksi manajemen kepegawaian. Industri gula sempat merajai ekspor Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga tiga dekade awal abad ke-20 sehingga tidak heran jika banyak penulisan yang ilmiah mengenai pabrik gula (PG) namun terdapat satu wilayah yang belum dikaji yaitu Banyuwangi. Di Banyuwangi pernah didirikan tiga PG yaitu Kabat Rogodjampi dan Soekowidi. Dari ketiga PG tersebut hanya PG Soekowidi yang dapat ditemukan hingga masa pendudukan Jepang meski pasca depresi ekonomi 1930 keadaan PG Soekowidi ini bagaikan hidup segan matipun tak mau . Keadaan inilah yang membuat PG Soekowidi semakin unik untuk dikaji lebih dalam khususnya mengenai usaha PG ini untuk bertahan walaupun tidak ada kemajuan yang berarti dari usaha yang dilakukannya tersebut. Keunikan inilah yang menarik perhatian peneliti untuk mengetahui lebih dalam mengenai perkembangan PG Soekowidi ini dari awal berdiri hingga kemundurannya. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) bagaimana sejarah berdirinya Pabrik Gula Soekowidi di Kabupaten Banyuwangi dan (2) bagaimana eksistensi Pabrik Gula Soekowidi (1895-1944) di Kabupaten Banyuwangi . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Pabrik Gula Soekowidi di Kabupaten Banyuwangi dan eksistensi pabrik Gula Soekowidi pada 1895-1944. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode historis yang meliputi heuristik (pengumpulan sumber) verifikasi (kritik) interpretasi (penafsiran) dan historiografi (penulisan). Hasil penelitian ini ialah (1) PG Soekowidi berada dibawah kepemilikan Cultuur Maatschappy de Maas di Rotterdam dan di Hindia Belanda diwakili oleh Firma Anemaet Co di Surabaya. PG Soekowidi ini didirikan pada tahun 1895 yang juga merupakan tahun penanaman tebu pertamanya. Pendirian PG ini didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu perkembangan industri gula di Hindia Belanda lokasi kehadiran dua PG sebelumnya di Banjoewangi perkembangan transportasi dan kepemilikan (2) perkembangan PG Soekowidi pada 1895-1930 dapat dikatakan cukup baik karena hasil produksi per ha tidak jauh berbeda dengan rata-rata produksi pada PG di grup Sitoebondo. Pasca depresi ekonomi 1930 dan masa krisis malaise sampai 1937 PG ini mengalami kesulitan untuk bangkit karena harga gula di pasar internasional turun drastis banyaknya penyakit tebu dan ditambah lagi dengan kurang cakapnya manajemen kepegawaiannya. Hal ini terus berlangsung sampai 1944 dan pada 1945 PG ini dialihfungsikan menjadi tempat pengintaian sekaligus markas tentara Jepang. Kesimpulan umum yang dapat ditarik dan digunakan sebagai pembelajaran yang berharga dari keberadaan PG Soekowidi ialah keberlangsungan suatu PG ditentukan oleh banyak faktor dan yang paling utama ialah kemauan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelolanya. Relevansi perkembangan PG Soekowidi ini dalam bidang pendidikan ialah dapat dimasukkan dalam salah satu bahasan pada materi sejarah kolonial Belanda khususnya sebagai contoh sejarah lokal yaitu di Banyuwangi agar dapat meningkatkan minat peserta didik untuk menjadi interpreneur di masa depan. Saran untuk penelitian selanjutnya ialah pengkajian tentang perkembangan sarana dan prasarana PG Soekowidi dan pengaruh keberadaan PG Soekowidi pada masyarakat disekitar lokasi pabrik