Skripsi
Sistem free gardens di Karesidenan Bengkulu tahun 1800-1818 / Naili Najiha
Abstrak
Najiha Naili. 2013. Sistem Free Gardens di Karesidenan Bengkulu Tahun 1800-1818. Skripsi Jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Dewa Agung Gede Agung M.Hum (II) Najib Jauhari S.Pd. M.Hum Kata Kunci Free Gardens Merica Bengkulu Bengkulu sudah dikuasai oleh Inggris sejak tahun 1685 melalui perusahaan dagangnya yang dikenal dengan East India Company (EIC). Inggris memilih Bengkulu sebagai daerah kekuasannya karena Bengkulu adalah salah satu daerah yang memiliki hasil merica melimpah. Inggris mengadakan beberapa perjanjian perdagangan merica dengan kerajaan-kerajaan di Bengkulu. Ketika berkuasa di Bengkulu Inggris mengeluarkan kebijakan dalam bidang ekonomi khususnya untuk mengatur produksi merica. Free Gardens adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris terhadap petani di sekitar Ibukota Bengkulu (Sungai Lemau Sungai Itam dan Selebar) untuk menanam merica semaksimal mungkin. Merica dipilih sebagai komoditas yang perlu dikembangkan karena laku keras dipasaran dunia dan penduduk Bengkulu juga sudah terbiasa menanam tanaman tersebut. Tiga rumusan permasalahan sebagai fokus penelitian ini adalah (1) Bagaimana proses munculnya sistem Free Gardens di Karesidenan Bengkulu pada Tahun 1800 (2) Bagaimana pelaksanaan sistem Free Gardens di Karesidenan Bengkulu pada tahun 1800-1818 dan (3) Bagaimana dampak dari sistem Free Gardens yang diterapkan oleh pemerintahan Inggris di Karesidenan Bengkulu tahun 1800-1818 Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah adalah metode penelitian historis dengan disertai studi kepustakaan. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian historis adalah (1) pemilihan topik (2) pengumpulan sumber (heuristik) (3) verifikasi (kritik) (4) interpretasi dan (5) historiografi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Berakhirnya Kepresidenan Fort Marlborough 28 Februari 1785 sampai dengan masa Karesidenan 29 Januari 1800 keadaan Bengkulu semakin kacau. Keadaan keuangan bertambah merosot sehingga anggaran belanja karesidenan mengalami defisit yang berat yaitu 87.000 per tahun. Tahun 1800 Walter Ewer sebagai Komisaris mencetuskan sistem Free Gardens untuk mengatasi masalah keuangan yang terjadi Bengkulu dengan cara meningkatkan hasil perkebunan merica milik rakyat Bengkulu semaksimal mungkin (2) Free Gardens dilaksanakan dengan pembayaran dimuka sebesar 50 dollar kepada setiap penduduk di distrik Sungai Lemau Sungai Itam dan Selebar yang menanam 1000 pohon merica dengan luas yang tidak dibatasi. Kemudian hasilnya akan dibeli oleh kompeni Inggris dengan harga beli 6 dollar untuk setiap 50 kilogram. Untuk kelancaran pelaksanaan sistem Free Gardens tersebut Robert Samuel Perreau diangkat sebagai superintendant (pengawas) (3) Free Gardens memberikan tiga dampak bagi rakyat Bengkulu yaitu dampak sosial adalah timbulnya konflik yang menyebabkan terjadinya serangan dari rakyat Bengkulu di Mount Fellix hingga Residen Thomas Parr meninggal dunia. Dampak budaya adalah tingginya individualisme kepala pribumi kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan menyebabkan pola kebiasaan hidup menyendiri. Dampak ekonomi mempengaruhi harga beras yang ada di Ibukota Bengkulu karena beras harus didatangkan dari luar Bengkulu kenaikan harga beras ini karena areal persawahan yang ada telah diganti dengan tanaman merica. Dampak politik adalah memunculkan ketegangan politik dalam tubuh pemerintahan adat. Saran yang bisa diberikan adalah (1) peneliti selanjutnya mampu memberikan sajian data yang lengkap sehingga dapat menambah kesempurnaan sejarah Bengkulu pada masa kekuasaan Inggris. (2) Bagi Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang diharapkan dapat memperkaya wawasan sejarah lokal dan memperbanyak koleksi hasil karya penulisan sejarah ilmiah bagi Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang sehingga dapat digunakan sebagai referensi tambahan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya dengan ruang lingkup yang lebih luas. (3) Bagi Pemerintah Daerah Bengkulu hendaknya merawat peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Bengkulu baik berupa artefak-artefak maupun dokumen-dokumen yang berhubungan dengan sejarah Bengkulu. (4) Bagi masyarakat seharusnya lebih banyak membaca literatur mengenai sejarah daerah Bengkulu agar lebih memahami sejarah peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Bengkulu.