Tesis
Power relation in Indonesian EFL classrooms / Dewi Nur Suci
Abstrak
Suci Dewi Nur. 2014. Hubungan Kekuasaan dalam Kelas Pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Tesis PendidikanBahasaInggris Program Pascasarjana UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Yazid Basthomi M.A. (2) Dr. Ekaning Dewanti Laksmi M.Pd M.A. Kata Kunci kekuasaan interaksi kelas tindak tutur CCSARP Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa bahasa dapat berfungsi sebagai alat hubungan kekuasaan melalui tindak tutur guru dan peserta didik dalam interaksi kelas. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Cross Cultural Speech Acts Productiob (CCSARP) oleh Blum-Kulka (1989) karena terdapat konsep keterusterangan dan tidak keterusterangan. Berdasarkan desain kualitatif yang didukung oleh daftar observasi catatan lapangan rekaman angket wawancara dan diskusi kelompok terfokus penelitian ini difokuskan pada frekuensi tindak tutur antara guru dan peserta didik. Selain itu penelitian ini menyoroti bagaimana guru dapat berinteraksi baik di kelas. Temuan data penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat dominasi resistensi dan solidaritas di kelas. Dominasi itu terlihat dari frekuensi tindak tutur guru melebihi siswa. Guru menghasilkan strategi langsung strategi konvensional tidak langsung dan strategi non-konvensional tidak langsung. Sebaliknya para peserta didik menggunakan strategi langsung dan strategi konvensional tidak langsung. Rasio tindak tutur 13.1 1 menunjukkan bahwa guru lebih dominan melalui tindak tutur direktif untuk membuat maksudnya dipahami oleh peserta didik. Namun relasi kekuasaan di kelas bisa dikategorikan harmonis karena siswa merasa tidak ada paksaan dalam belajar bahasa Inggris di kelas. Guru telah berusaha membangun sebuah kedekatan yang baik kepada peserta didik. Bisa dikatakan bahwa terdapat pembagian kekuasaan oleh guru kepada peserta didik dengan meminimalkan tingkat pemaksaan dalam berinteraksi dengan peserta didik. Temuan menunjukkan bahwa guru mengujarkan 199 strategi langsung terutama mood derivable dikombinasikan dengan 73 penanda kesopanan please . Selain itu guru memanfaatkan strategi konvensional tidak langsung sebanyak 177 kali yang dapat meminimalkan tingkat pembebanan ketika memberi instruksi tertentu. Total tindak tutur direktif guru adalah 512 bisa disimpulkan bahwa guru telah membagi kekuasaannya 50% dengan mempertahankan konsep kesopanan agar ekspektasinya dipahami atau dilakukan di kelas. Penelitian ini juga menemukan bahwa strategi langsung yang dikombinasikan dengan kata please dan strategi konvensional tidak langsung dapat meminimalkan tingkat pemaksaan yang membangun kedekatan. Sebaliknya strategi non-konvensional tidak langsung transparan dapat memaksimalkan tingkat pemaksaan. Dengan demikian peneliti menyarankan para peneliti berikutnya untuk memahami hubungan kekuasaan yang fokus pada penggunaan strategi tindak tutur non konvensional tidak langsung untuk memahami respon dan perilaku siswa terhadap tindak tutur di kelas.