Tesis
Diksi dan gaya bahasa mantra pengobatan belian (dukun pengobatan) Suku Sasak, Lombok-Nusa Tenggara Barat / Hirman Sahapudin
Abstrak
Sahapudin Hirman. 2014. Diksi dan Gaya Bahasa Mantra Pengobatan Belian (Dukun Pengobatan) Suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat. Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Roekhan M.Pd (II) Dr. Sunoto M.Pd. Kata kunci diksi gaya bahasa mantra pengobatan belian suku Sasak 12288 12288 12288 12288 Suku Sasak Lombok kaya akan sastra lisan. Kekayaan sastra lisan tersebut belum diinventarisasi seperti mantra pengobatan belian (dukun pengobatan). Penelitian ini bertujuan (1) mendokumentasikan mantra pengobatan belian sebagai salah satu sastra lisan suku Sasak Lombok (2) mendeskripsikan kekhasan diksi mantra pengobatan belian suku Sasak Lombok dan (3) mendeskripsikan gaya bahasa mantra pengobatan belian suku Sasak Lombok. 12288 12288 12288 12288 Untuk mencapai tujuan tersebut rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan peneliti sebagai human instrumen. Data penelitian ini adalah mantra pengobatan yang diperoleh dari belian. Ada tiga belian sebagai narasumber yaitu belian kabupaten Lombok Barat Lombok Tengah dan Lombok Timur. Penggumpulan data menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur dengan alat bantu pedoman wawancara tidak terstruktur pedoman perekaman dan perekaman dengan i-phone atau smart phone. Wawancara dilakukan dengan teknik berputar putar baru menukik artinya pada awal wawancara dibicarakan hal hal yang tidak terkait dengan tujuan dan bila sudah terbuka kesempatan mantra pengobatan yang dikuasai para belian ditanyakan. Keabsahan data dicek dengan teknik trianggulasi data yaikni diskusi teman sejawat. Pemeriksaan teman sejawat adalah melakukan diskusi dengan rekan mahasiswa yang memahami penelitian ini khususnya yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Arab. Hal yang didiskusikan terkait hasil analisis terutama terjemahan kata kata mantra berbahasa Jawa dan berbahasa Arab. 12288 12288 12288 12288 Data dipilih dan dipilah atas dasar pandangan Spredley meliputi domain taxonomy dan analisys componential. Tahapan analisis domain dilakukan dengan mengumpulkan mantra dari hasil wawancara dengan belian dan mentranskripkannya. Data transkripsi selanjutnya diterjemahkan dan dideskripsikan sesuai fakta di lapangan. Tahapan analisis taxonomi dilakukan dengan mengklasifikasikan kedudukan dan fungsi mantra pada karakteristik bahasanya. Tahapan analisis componential dilakukan dengan kategorisasi leksikal yakni analisis penggolongan kata kata mantra pengobatan dan analisis semantik. Ketiga tahapan tersebut dilakukan dengan pendekatan strukturalisme untuk menemukan pola dominan diksi dan gaya bahasa mantra pengobatan belian. 12288 12288 12288 12288 Mantra pengobatan berdasarkan kedudukan dan fungsinya diklasifikasikan menjadi 25 ragam mantra penyembuh sakit fisik yang terdiri dari 12 mantra penyembuh fisik luar dan 13 mantra penyembuhan fisik dalam dan 6 mantra penyembuh sakit psikologis. Mantra penyembuh fisik luar antara lain (1) penyembuh sakit kaki (2) penyembuh luka (3) penyembuh bisul (4) penyembuh sakit gigi (5) penyembuh telinga bernanah (6) penyembuh luka bakar dan lain sebagainya. Mantra penyembuh fisik dalam antara lain (1) penyembuh sukar kencing (2) penyembuh batuk (3) penyembuh mencret (4) penyembuh sakit melahirkan (5) penyembuh kencing batu dan lain sebagainya. Mantra penyembuh sakit psikologis antara lain (1) penyembuh anak kecil sering menangis malam hari (2) penyembuh orang kerasukan (3) penyembuh terkena guna guna dan (4) penyembuh orang sulit tidur/ gelisah dan lain sebagainya. 12288 12288 12288 12288 Bahasa mantra pengobatan suku Sasak terdiri atas 4 ragam yaitu (1) berbahasa Sasak (2) berbahasa Arab (3) berbahasa Sasak Arab dan (4) berbahasa Sasak Jawa. Sementara itu diksi atau pilihan kata mantra terdiri atas (1) diksi kata tidak bermakna (2) kata tabu (3) kata khusus umum dan (4) kata konkret kata abstrak. Gaya bahasa mantra pengobatan terdiri atas (1) gaya bahasa asonansi (2) aliterasi (3) eponim (4) eufimisme (5) antonomasia dan (6) gaya bahasa repetisi. 12288 12288 12288 12288 Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedudukan dan fungsinya masyarakat suku Sasak sampai saat ini masih mempercayai mantra yaitu mantra pengobatan dan menggunakan mantra pengobatan (homo fobulans) sebagai alternatif mengobati penyakit sehari hari. Diksi (pilihan kata) mantra pengobatan menunjukan kekuatan perangkat lingual. Diksi kata tidak bermakna menunjukan bahwa mantra bersifat misterius dan tidak dapat dipahami oleh manusia umum. Diksi kata tabu menunjukan permainan emosi pada mantra yakni diksi atau pilihan kata yang bernilai tidak halus (seperti umpatan) merefleksikan adanya emosi pada pemantra. Diksi kata khusus umum menunjukan gagasan mantra yakni dominasi verba pada kata umum menunjukan diksi mantra bersifat tindakan (perlakuan) dan dominasi kata khusus pada mantra menunjukan lakuan yaitu penyakit yang diderita. Dan diksi kata konkret abstrak menunjukan persepsi mantra dengan dominasi nomina yakni persepsi terhadap penyakit yang dialami berdasarkan pengalaman pancaindra yaitu serapan indra penglihatan (visual) pendengaran (auditif) peraba dan penciuman. 12288 12288 12288 12288 Gaya bahasa mantra pengobatan menunjukan bahwa mantra pengobatan memiliki 2 (dua) fungsi yaitu fungsi kekuatan emosi (emotive expressive) keindahan dan penghormatan. Fungsi emosi dan keindahan pada gaya bahasa asonansi aliterasi dan repetisi yaitu berupa perulangan bunyi suku kata dan kata akan menciptakan efek emosi dan efek puitis (poetic function). Fungsi penghormatan pada gaya bahasa eponim eufimisme dan antonomasia yaitu penyebutan nama (power of name function) pemakaian diksi dengan nilai rasa baik dan panggilan nama yang baik untuk penyakit dan nama yang dinyakini memiliki kekuatan merupakan bentuk penghormatan dan nilai yang lebih halus. 12288 12288 12288 12288 Berdasarkan hasil penelitian peneliti menyarankan bahwa (1) pengobatan penyakit sebaiknya lebih diarahkan pada pengobatan modern (ilmu kedokteran) yang lebih teliti dan jelas analisisnya dan (2) bagi peneliti lanjutan dapat melakukan yaitu (1) tumpu (penawar) mantra pengobatan bisa diteliti dalam bidang kedokteran baik fungsi atau pun kandungan zat atau pada campuran masing masing tumpu (2) penggunaan tumpu oleh belian dapat juga menggunakan perspektif ekokritism yakni memandang ekosistem yang ada di alam ini (tumpu) memiliki simbol simbol tertentu dan (3) inventarisasi dan kajian mantra suku Sasak yang lain dapat dilakukan seperti mantra sembegik (guna guna) mantra senggeger (mantra pemikat) dan mantra puji (mantra kebal).