Skripsi
Taboo language and gender seen in movies: American and Indonesian context / Rani Rahmawati
Abstrak
Rahmawati R. 2014. Taboo Language and Gender Seen in Movies American and Indonesian Context. Skripsi .Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing Nurenzia Yannuar S.S M.A. Kata kunci kata tabu konteks budaya film Kata tabu adalah kata-kata yang dianggap tidak sopan dan tidak pantas tergantung pada kebudayaan tertentu. Demi menghindari permasalahan di tengah percakapan pembicara seharusnya berhati-hati dalam menggunakan kata-kata tabu. Dengan memahami kebudayaan lain seseorang dapat mengendalikan bahasa yang diguanakannya. Salah satu cara untuk memahami kebudayaan lain yaitu dengan menyaksikan film. Penelitian ini fokus pada analisis penggunaan kata tabu yang berhubungan dengan gender dan kebudayaan. Peneliti menaganalisis perbedaan gender untuk mengetahui apakah prasangka terhadap gender benar atau salah. Peneliti menganalisis dua film drama yang berasal dari dua negara yang berbeda Amerika dan Indonesia. Dua film yang digunakan oleh peneliti yaitu American Hustle dan I Know What You Did on Facebook. Rancangan penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti bermaksud mendeskripsikan situasi dan makna kata tabu yang digunakan oleh karakter pria dan wanita dalam film. Peneliti juga membandingkan hasil penelitian berdasarkan konteks budaya antara Amerika dan Indonesia. Data penelitian diperoleh dari teks film. Peneliti mengumpulkan 114 kata tabu di dalam film pertama American Hustle yang terdiri dari 77 kata tabu yang diucapkan karakter pria dan 37 kata kata tabu yang diucapkan karakter wanita. Terdapat 39 kata tabu di dalam film kedua I Know What You Did on Facebook yang terdiri dari 25 kata diutarakan karakter pria dan 14 lainnya diucapkan oleh karakter wanita. Kategori kata tabu yang dianalisis di kedua film tersebut antara lain Profanity Obscenity Cursing Epithet dan Insult. Karakter pria di dalam film pertama lebih sering menggunakan Profanity God Jesus (11.7%) dan Obscenity fuck shit (71.4%) sedangkan karakter wanita menggunakan Insult lebih banyak fuck gross dan sebagainya (16.2%). Di film kedua karakter pria lebih sering menggunakan Insult Bangsat Najis (40%) dan karakter wanita banyak menggunakan Obscenity ML (35.7%). Kategori tersebut didasarkan pada teori-teori yang disampaikan oleh Timothy (2009) dan Parera (2004). Hasil penelitian pada kedua film tersebut menunjukkan bahwa karakter pria lebih sering menggunakan kata tabu dibandingkan dengan karakter wanita. Selain itu kata tabu muncul baik di situasi yang menegangkan maupun tidak. Di samping itu kedua budaya memiliki kemiripan dalam persepsi kebahasaan dan norma yang berlaku. Sementara itu perbedaan dari kedua budaya tersebut terlihat dari frekuensi target dan konteks dari kata tabu. Penelitian ini membahas tentang kata tabu yang dikaitkan dengan gender dan kebudayaan. Film-film yang dianalisis memiliki konteks yang terbatas sedangkan kata tabu kemungkinan muncul di dalam konteks yang berbeda-beda. Hal ini merupakan tantangan bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis topik yang berkaitan dengan menggunakan topik yang lebih kompleks dan konteks yang lebih bervariasi.