Skripsi
Analisis kohesi dan koherensi terjemahan dongeng Der Singende Knochen dalam matakuliah Ubersetzung oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Rossy Sahara
Abstrak
Sahara Rossy. 2015. Analisis Kohesi dan Koherensi Terjemahan Dongeng Der Singende Knochen dalam Matakuliah bersetzung oleh Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Rosyidah M.Pd (II) M. Kharis S.Pd. M.Hum Kata kunci analisis kohesi dan koherensi dongeng der singende Knochen Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kohesi dan koherensi yang digunakan oleh mahasiswa dalam dongeng der singende Knochen pada matakuliah bersetzung. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berupa teks dongeng der singende Knochen bahasa sumber dan terjemahan mahasiswa sedangkan data penelitian ini berupa semua kalimat bahasa sumber dan semua kalimat terjemahannya dalam bahasa sasaran yang mengandung piranti kohesi dan koherensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa piranti kohesi yang digunakan dalam dongeng der singende Knochen adalah piranti kohesi gramatikal seperti referensi anafora substitusi dan konjungsi sedangkan piranti leksikal yang digunakan dalam dongeng tersebut adalah repetisi penuh dan repetisi dengan bentuk lain. Sementara itu hubungan koherensi yang ditemukan dalam dongeng ini yaitu hubungan adisi waktu pertentangan sebab akibat eksplikatif dan syarat. Sebagian besar mahasiswa telah mampu menggunakan piranti kohesi dengan baik walaupun masih dijumpai beberapa kesalahan seperti kesalahan penerjemahan piranti kohesi yang menyebabkan kesalahan acuan dalam menggunakan piranti kohesi referensi dan menyebabkan terjemahan tidak sesuai dengan konteks. Kesalahan pemilihan padanan kata juga menyebabkan terjemahan tidak koheren. Dari hasil wawancara diketahui bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam menemukan padanan kata yang sesuai dalam BSa untuk menghasilkan terjemahan yang baik. Selain itu mereka tidak memiliki pengetahuan dasar mengenai kohesi dan koherensi. Mereka juga menyatakan bahwa kurangnya waktu dalam menerjemahkan dongeng ini menjadi faktor yang menyebabkan teks menjadi tidak kohesif dan koheren. Untuk itu akan lebih baik jika mereka lebih banyak berlatih menerjemahkan teks berbahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia mempelajari kosakata dan tata bahasa Jerman lebih jauh serta mempelajari materi tentang kohesi dan koherensi termasuk piranti-piranti yang digunakan untuk membuat wacana yang padu sehingga terjemahan yang dihasilkan nantinya akan lebih kohesif koheren dan berterima.