Skripsi
Implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran kelas II SDN Pandanwangi 4 Kota Malang / Devi Novita Sari
Abstrak
Sari Devi Novita. 2015. Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Kelas II SDN Pandanwangi 4 Kota Malang. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Rumidjan M.Pd (II) Dra. Ratna Trieka Agustina S.Pd. M.Pd. Kata Kunci pendekatan saintifik pembelajaran SD Pelaksanaan kurikulum 2013 dalam pembelajaran diterapkan menggunakan pendekatan saintifik. Melalui pendekatan saintifik siswa didorong untuk melakukan keterampilan-keterampilan ilmiah yaitu mengamati menanya mencoba menalar dan mengkomunikasikan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan (1) implementasi pendekatan saintifik dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas II SDN Pandanwangi 4 Kota Malang dan (2) implementasi pendekatan saintifik dalam pelaksanaan pembelajaran kelas II SDN Pandanwangi 4 Kota Malang. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi wawancara dan dokumentasi. Upaya untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan kehadiran peneliti triangulasi dan mengadakan member check. Kegiatan analisis data dimulai dari mereduksi data menyajikan data dan memverifikasi. Langkah penelitian dilakukan mulai dari persiapan pelaksanaan dan pelaporan. Berdasarkan analisis data diperoleh 2 hasil. Pertama pada RPP yang disusun guru kelas II SDN Pandanwangi 4 Kota Malang langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik sudah direncanakan secara jelas. Kegiatan mengamati menanya mencoba menalar dan mengkomunikasikan selalu direncanakan ada setiap pembelajaran. Kegiatan mengkomunikasikan mempunyai total skor terendah yaitu 54 1%. Kedua pada pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik untuk kegiatan mengamati mempunyai total skor 50%. Kegiatan menanya mempunyai total skor 62 5%. Kegiatan mencoba mempunyai total skor 37 5%. Kegiatan menalar mempunyai total skor 54 1%. Kegiatan mengkomunikasikan mempunyai total skor 20 8%. Kegiatan mengkomunikasikan mempunyai skor terendah dibandingkan ke empat kegiatan lainnya. Berdasarkan analisis tersebut disimpulkan bahwa kegiatan mengkomunikasikan belum dapat diterapkan secara maksimal. Hasil analisis menunjukkan kegiatan mengkomunikasikan mempunyai skor terendah baik dalam RPP maupun pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan kesimpulan penelitian disarankan kepada kepala sekolah mengadakan pelatihan dan perlu mendampingi pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013. Bagi guru perlu lebih meningkatkan kegiatan mengkomunikasikan agar kemampuan berbicara dan keberanian siswa lebih terlatih. Bagi peneliti lain dapat mengembangkan penelitiannya tentang kegiatan mengkomunikasikan dalam pembelajaran agar dapat dijelaskan secara lebih rinci.