Skripsi
Analisis kekauatan tarik dan laju regangan baja St 41 dengan tarikan akibat perubahan suhu tempering / Dimas Candra Prastawahardi
Abstrak
Prastawahardi Dimas Candra. 2015. Analisis Kekuatan Tarik Dan Laju Regangan Baja St 41 Dengan Takikan Akibat Perubahan Suhu Tempering. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Siswanto M.A. (2) Rr. Poppy Puspitasari S.Pd. M.T. Ph.D Kata kunci Kuat Tarik Laju Regangan Tempering Takikan Baja Baja St 41 sering kali diaplikasi sebagai bahan dasar pembuatan komponen mesin maupun bahan konstruksi penggunaan baja ini salah satu bagian dari komponen mesin yang mengalami beban statis dimana akan terjadi fluktuasi tegangan. Sifat kuat tarik merupakan sifat mekanik baja yang erat kaitannya dengan perlakuan panas. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur tempering terhadap kuat tarik dan laju regangan baja St 41 dan untuk mengetahui bentuk patahan pada uji tarik pembebanan statis sebelum di tempering spesimen di beri takikan. Temperatur tempering ini dimulai dari temperatur rendah sampai dengan temperatur tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan jenis penelitian adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Subjek penelitian berupa baja St 41. Pemilihan baja tersebut karena sering digunakan pada komponen mesin perkakas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan observasi. Instrumen data yang digunakan berupa lembar observasi. Analisis data yang digunakan yakni menjabarkan perbandingan spesimen yang diberi perlakuan dan takikan dengan tanpa perlakuan menggunakan bantuan sofware microsoft excel. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh temperatur tempering terhadap baja St 41. Baja yang dipanaskan sampai suhu 850 oC kemudian ditempering dengan temperatur 200 oC 400 oC dan 600 oC. Kekuatan tarik pada baja St 41 rata-rata tempering 200 oC sebesar 556.85 M.Pa pada temperature 400 oC sebesar 528.89 M.Pa dan pada temperatur 600 oC sebesar 456.91 M.Pa. Pada data laju regangan diperoleh rata-rata paling tinggi dari variasi suhu tempering 200 oC sebesar 48.58 x10-4 /s dan yang terendah pada temperatur tempering 600 oC sebesar 35.59 x 10-4 /s. Bentuk patahan morfologi spesimen raw material menunjukkan patah ulet sementara pada spesimen diberi perlakuan temper menunjukkan patah rapuh. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa patah ulet juga terjadi pada laju regangan rendah untuk baja St 41. Penelitian ini disarankan kepada para praktisi perlakuan panas agar ketika melakukan proses tempering dilakukan sebaiknya dipanaskan terlebih dulu sehingga menghasilkan nilai kuat tarik yang meningkat. Variasi temperatur tempering terbaik terdapat pada temper bersuhu rendah. Oleh karena itu bagi peneliti sejenis perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai variasi temperatur terkait suhu temper rendah yang menghasilkan kuat tarik maksimal pada baja.