Skripsi
Praktik demokrasi dalam kehidupan santri di Pondok Pesantren Salafi di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang / Layla Fauziah
Abstrak
ABSTRAK Fauziah Layla. 2015. Praktik Demokrasi dalam Kehidupan Santri di Pondok Pesantren Salafi di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. A. Rosyid Al Atok M. Pd M.H Pembimbing (II) Drs. Petir Pudjantoro M.Si. Kata Kunci praktik demokrasi pesantren salafi kehidupan santri Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Pesantren merupakan bagian dari sosio budaya bangsa Indonesia dimana sosio budaya merupakan titik awal dari adanya Pancasila. Sehingga dalam kehidupan pesantren mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Nilai luhur Pancasila mencakup nilai sebagai makhluk religius makhluk sosial makhluk individu makhluk jasmani dan makhluk berfikir. Sebagai makhluk berfikir yang berbudi manusia Indonesia mengembangkan nilai-nilai kecerdasan kebijaksanaan dan nilai demokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan wujud dari penerapan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan pesantren yang meliputi (1) kehidupan santri di pesantren salafi yaitu pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani (2) pemahaman para santri tentang demokrasi (3) praktik demokrasi dalam kehidupan santri di pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data yang diperoleh merupakan informasi dari beberapa informan yang terdiri dari Pengasuh dan pengurus pondok pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani beserta santrinya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga metode yaitu wawancara observasi dan dokumentasi. Sedangkan dalam hal analisis data dilakukan dengan cara reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data yang telah diperoleh peneliti melakukan pengecekan data dengan cara berikut ketekunan pengamatan dan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan peneliti diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama sebagai pesantren salafi pondok pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani memfokuskan pada pembelajaran kitab kuning dalam kegiatan sehari-hari santrinya. Selain pembelajaran kitab kuning santri dibiasakan untuk mengikuti kegiatan mingguan bulanan tahunan dan kemasyarakatan. Semua kegiatan yang dilakukan santri merupakan kegiatan yang berorientasi pada kehidupan akhirat yang identik dengan gaya hidup yang sederhana mandiri bertanggung jawab dan patuh. Kedua penekanan pada pembelajaran kitab kuning minimnya fasilitas untuk mengakses informasi menyebabkan kurangnya pemahaman para santri akan demokrasi. Dimata para santri demokrasi dipandang sebagai pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat serta persamaan hak dalam berpendapat. Dimana dalam lingkungan pondok pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani persamaan hak dalam berperndapat tercermin dalam kegiatan musyawarah. Kegiatan musyawarah merupakan kebiasaan sekaligus kewajiban bagi para santri. Sehingga santri memahami hakikat demokrasi melalui kegiatan musyawarah. Ketiga kegiatan musyawarah yang menjadi kebiasaan sekaligus kewajiban bagi para santri pondok pesantren Mafatihul Huda Al-Ihsani tersebut merupakan salah satu bentuk dari praktik demokrasi dalam kehidupan santri di pesantren. Selain musyawarah terdapat praktik demokrasi lain dalam kehidupan santri yaitu kerja sama dan pendidikan. Kerja sama dilakukan untuk menyelesaikan masalah nonkurikuler dengan cepat dan tepat. Sedangkan dalam hal pendidikan yaitu pengetahuan yang diperoleh selama proses pendidikan dapat digunakan sebagai salah satu pijakan dalam melaksanakan keputusan yang telah disepakati bersama melalui musyawarah. Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain (1) panca jiwa sebagai pola kehidupan santri di lingkungan pondok pesantren perlu dipertahankan dan ditingkatkan (2) para santri perlu untuk mendapatkan pengetahuan terutama pengetahuan tentang demokrasi dari sumber referensi selain kitab-kitab Islam klasik agar pemahaman santri mengenai demokrasi dapat menyeluruh baik secara formal maupun substansial (3) pelaksanaan musyawarah sebagai metode pembelajaran perlu dievaluasi kembali agar kegiatan musyawarah tersebut dapat menjadi salah satu bentuk praktik demokrasi dalam kehidupan di pesantren yang diterapkan secara utuh dan sempurna.