Skripsi
Perkembangan bioskop di Kota Malang 1920-1942 / Restu Feri Kris Ade Putra
Abstrak
ABSTRAK Feri Kris Ade Putra Restu. 2015. Perkembangan Bioskop Di Kota Malang (1920-1942). Skripsi Jurusan Sejarah Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. R. Reza Hudiyanto M.Hum (II) Dra. Yuliati M.Hum. Kata Kunci perkembangan Kota Malang Kota Malang merupakan salah satu kota di daerah Jawa Timur. Kawasan ini berkembang pesat sejak pemerintah kolonial Belanda membuka perkebunan kopi di daerah ini dan pada awal abad ke-20 keberadaan bioskop sendiri tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kota Malang serta pembangunan yang dilakukan oleh gemeente Malang. Bioskop pada mulanya adalah hiburan bagi kaum kulit putih di Kota Malang hingga pada akhirnya penduduk golongan Bumiputra juga menyukai menonton film di bioskop. Keberadaan bioskop-bioskop di Kota Malang ini dimulai tahun 1920 hingga 1942 yang merupakan akhir dari kekuasaan kolonial Belanda di Kota Malang. Tujuan penelitian ini antara lain (1) untuk mengetahui keadaan masyarakat Kota Malang pada seperempat pertama abad ke-20 (2) untuk mengetahui seni pertunjukan di Kota Malang tahun 1920-1942 (3) untuk mengetahui perkembangan bioskop di Kota Malang 1920-1942. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah yang dipakai untuk menyusun fakta mendeskripsikan dan menarik kesimpulan tentang masa lampau. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam metode sejarah yaitu pemilihan topik heuristik kritik interpretasi dan historiografi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini ialah (1) kita bisa mengetahui bahwa di Kota Malang pada awal abad ke-20 telah tercipta masyarakat modern yang mempunyai gaya hidup perkotaan (2) pada awal abad ke-20 seni pertunjukan tradisional masih menjadi menjadi kegemaran masyarakat sebelum masuknya bioskop dan (3) tontonan bioskop sebelumnya merupakan hiburan untuk masyarakat kulit putih namun pada akhirnya penonton Bumiputra yang menjadi target penonton utama oleh pemilik bioskop. Keadaan demikian membuat masyarakat terutama golongan Bumiputra lambat laun lepas dari perilaku tradisional dan menyukai bentuk hiburan baru. Di samping itu terdapat peran para priyayi profesional dalam membentuk perilaku konsumen di masyarakat Bumiputra. Berdasarkan dari hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan bahwa munculnya bioskop tidak lepas dari perkembangan kota dan pada awalnya hiburan ini diperuntukan bagi kaum kulit putih di Kota Malang namun pada perkembangannya bioskop-bioskop di Kota Malang menjadikan kaum Bumiputra sebagai penonton utama. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengkaji tentang bioskop di Kota Malang pada masa pendudukan Jepang 1942-1945 atau mengkaji tentang posisi hiburan tradisional di dalam pers kolonial di Kota Malang.