Skripsi
Perbedaan model pembelajaran project based learning dan make a match dalam mata pelajaran teknik animasi dua dimensi terhadap hasil belajar siswa Program Keahlian Multimedia kelas XI SMK Negeri 1 Boyolangu / Selly Handik Pratiwi
Abstrak
ABSTRAK Pratiwi Selly Handik. 2015. Perbedaan Model Pembelajaran Project Based Learning (PBL) Dan Model Pembelajaran Make a Match Dalam Mata Pelajaran Teknik Animasi Dua Dimensi Terhadap Hasil Belajar Siswa Program Keahlian Multimedia Kelas XI SMK Negeri 1 Boyolangu. Skripsi Program Studi Pendidikan Teknik Elektro Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr Ir.H.Syaad Patmanthara M.Pd. (II) Drs. Hari Putranto Kata Kunci PBL Make a Match Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi pada kelas XI MM di SMK Negeri 1 Boyolangu diperoleh informasi bahwa dalam proses belajar mengajar sekolah ini menggunakan metode pembelajaran Make a Match tersebut kebanyakan masih bersifat konvensional sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran dan akirnya menyebabkan keaktifan siswa kurang. Pemilihan model pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang sesuai digunakan sebagai alternatif dalam membelajarkan materi Teknik Animasi Dua Dimensi adalah model pembelajaran berbasis proyek . Pembelajaran Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang menekankan pada peningkatan kemampuan siswa dalam menganalisa dan berfikir kritis. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dan menggunakan tipe pretest-posttest non-equivalent control group design. Sampel pada penelitian ini adalah kelas XI MM 1 (33 siswa) sebagai kelas eksperimen dan XI MM 2 (33 siswa) sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model PBL dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model Make a Match. Instrumen penelitian terdiri dari instrumen penelitian dan instrumen pengukuran. Dari perolehan data yang dilakukan bahwa nilai post test tertinggi kelas eksperimen 95 00 nilai terendah 40 00 dan skor rata-rata yang diperoleh 67 42. Sedangkan nilai post test tertinggi kelas kontrol 75 00 nilai terendah 25 00 dan skor rata-rata yang diperoleh 50 76. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pemahaman pada kelas eksperimen lebih optimal daripada kelas kontrol. Selain itu setelah dilakukan uji-t hasil belajar diperoleh hasil thitung 3 042 dan ttabel dengan derajat kebebasan 58 dan taraf signifikansi 5% adalah 1.670 sehingga diperoleh thitung ttabel (3 042 1.670) maka H0 ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signigfikansi antara siswa yang diajar dengan metode pembelajaran berbasis proyek dengan siswa yang diajar dengan metode Make a Match.