Skripsi
Penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar siswa pada pelajaran ekonomi di MAN 3 Malang / Elvandari Solina Astandi
Abstrak
ABSTRAK Astandi Elvandari Solina. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Ekonomi di MAN 3 Malang (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas X IIS 2) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Agung Haryono SE MP. Ak (2) Ir. Yohanes Hadi Susilo ME M.Div. Kata Kunci Problem Based Learning kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar Proses belajar mengajar dalam sebuah pendidikan bukan sekedar proses penyampaian dan penyimpanan fakta-fakta dan pengetahuan pada pikiran peserta didik karena mendidik merupakan mengkonstruksi pengetahuan menjadi pembelajaran yang bermakna. Pada penelitian ini peneliti mendapat temuan awal di kelas X IIS 2 menunjukkan bahwa peserta didik cenderung pasif dan acuh selama pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil belajar ranah kognitif semester ganjil menunjukkan sekitar 50% peserta didik kurang maksimal dan harus melakukan remidi. Pada penelitian ini terdapat masalah yang membutuhkan solusi yang tepat sehingga perlu diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif. Peneliti menggunakan jenis penelitian Classroom Action Research dengan pendekatan deskripsi kualitatif. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai fakta-fakta maupun karakteristik objek dan subjek yang diteliti selama proses pembelajaran berlangsung di kelas X IIS 2. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi 1) data pelaksanaan model PBL aktivitas guru dan peserta didik 2) data kemampuan berpikir tingkat tinggi dan 3) data hasil belajar peserta didik ranah kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan model Problem Based Learning di Kelas IIS 2 berjalan sesuai rencana. Hal ini dibuktikan dengan persentase aktivitas guru dari 90 5% pada siklus 1 menjadi 94% pada siklus 2. Untuk persentase aktivitas peserta didik meningkat dari siklus 1 sebesar 77 7% menjadi 87% pada siklus 2. Pada persentase kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan. Pada siklus 1 menunjuk-kan mayoritas kemampuan peserta didik dominan pada kategori sangat baik dengan persentase 38 7% sejumlah 12 peserta didik dan meningkat pada siklus 2 menjadi 67 7% dengan jumlah 21 peserta didik. Hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif yang diuji melalui post test juga menunjukkan peningkatan persentase rata-rata nilai klasikal dari siklus 1 sebesar 72 74 menjadi 81 25 pada siklus 2. Peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut. 1) permasalahan yang disajikan harus ringkas padat relevan kekinian dan sesuai dengan kapasitas peserta didik 2) alokasi pembelajaran yang digunakan harus semaksimal mungkin 3) prosedur pembelajaran harus disampaikan dengan jelas dan detail 4) mengorganisir peserta didik agar aktif dan 5) instrumen soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar peserta didik dikembangkan lebih baik.