Skripsi
Analisis bentuk dan makna ragam hias Jarangan Turonggo Sekti di Desa Suruh Kabupaten Trenggalek / Afif Widyanto
Abstrak
ABSTRAK Widyanto Afif. 2015. Analisis Bentuk dan Makna Ragam Hias Jaranan Turonggo Sekti di Desa Suruh Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Iriaji M. Pd (II) Drs. Andi Harisman Kata Kunci Jaranan Turonggo Sekti Bentuk Ragam Hias Makna Ragam Hias. Salah satu kesenian jaranan di Trenggalek yang cukup menarik untuk diungkap fenomena bentuk visual dan makna simbolisnya adalah ragam hias pada wujud Jaranan Turonggo Sekti. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna ragam hias yang terkandung pada jaranan Turonggo Sekti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Kehadiran peneliti sebagai instrument utama. Lokasi penelitian di Desa Suruh Kabupaten Trenggalek. Data diperoleh dari sumber data primer Bapak Gaguk data sekunder Bapak Sugito dan Bapak Sunaryoko buku terkait dokumentasi informasi dari Dinas Pariwisata Trenggalek rekaman serta video. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara observasi dan studi dokumentasi. Analisis data melalui pengumpulan data reduksi data display data dan verifikasi data. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi data. Hasil penelitian meliputi bentuk dan makna ragam hias pada jaranan Turonggo Sekti. Bentuk ragam hias jaranan Turonggo Sekti terdapat dalam tiga bagian yaitu bagian kepala kuda badan kuda dan kaki kuda. Bagian-bagian kepala kuda diantaranya adalah bentuk mata mulut kendali kuluk makhutha plisir dan sumping. Mata thelengan kuda terdapat ragam hias geometris yang bermakna sifat yang gagah berani mulut kuda termasuk ragam hias fauna yang memiliki makna kesuburan persawahan di Desa Suruh kendali kuda dengan ragam hias geometris memiliki makna kewibawaan dalam figur kuda kuluk makhutha terdapat ragam hias geometris dengan motif tumpal yang bermakna kekuatan kuda bentuk plisir terdapat ragam hias benda alam dan pemandangan dengan motif meander yang bermakna rasa syukur terhadap limpahan hasil panen sumping terdapat motif garudo mungkur yang bermakna kewibawaan semangat seperti macan. Kemudian badan kuda terdapat bentuk pelana depan pelana belakang dan ekor. Pelana depan dan belakang kuda terdapat ragam hias geometris dengan warna yang bermacam-macam sehingga membentuk suatu pola. Pelana depan kuda memiliki makna kedudukan yang tinggi yang dimiliki kesatria pelana belakang kuda memiliki makna seorang kesatria harus mengayomi masyarakatnya. Ekor kuda terdapat ragam hias fauna dengan pola lengkung yang melambangkan sifat rendah hati yang dimiliki satria berkuda. Selanjutnya kaki kuda terdapat dua bentuk yaitu bentuk kaki depan dan kaki belakang termasuk ragam hias fauna dengan pola lengkung. Kaki depan dan belakang kuda merupakan bagian-bagian pelengkap kuda menggambarkan kuda dalam keadaan utuh. Saran bagi masyarakat Trenggalek diharapkan untuk tetap melestarikan khasanah budaya leluhur yang berupa nilai kearifan lokal jaranan Turonggo Sekti. Bagi pendidikan diharapkan bisa dijadikan bahan ajar yang bermuatan lokal sehingga menjadi sumber belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya bisa dijadikan referensi dalam penelitian seni kebudayaan tradisional Indonesia lainya