Skripsi
Visualisasi dan makna simbolis yang terdapat pada pakaian adat pernikahan daerah Bima Nusa Tenggara Barat / Afifa Faramitha
Abstrak
ABSTRAK Faramitha Afifa. 2015. Visualisasi dan Makna Simbolis Pakaian Adat Pernikahan Daerah Bima Nusa Tenggara Barat. Skripsi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Drs. Hariyanto M.Hum (II)Drs. A.A.G. Rai Arimbawa M.Sn Kata kunci visualisasi makna simbolis pakaian adat pernikahan. Pakaian adat pernikahan merupakan salah satu jenis kebudayaan yang ada di daerah Bima yang digunakan oleh kedua mempelai saat melakukan upacara pernikahan. Pakaian adat untuk kedua pengantin disebut kani bunti (pakaian pengantin). Penelitian tentang pakaian adat pernikahan ini belum pernah dilakukan dan referensi tentang pakaian adat pernikahan ini juga sangat sedikit. Berkaitan dengan itu sangat diperlukan adanya penelitian tentang pakaian adat pernikahan tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu bentuk bahan motif dan warna serta makna simbolis pakaian adat pernikahan pengantin siga daerah Bima Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara observasi dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Visualisasi bentuk bahan motif dan warna pakaian adat dan aksesoris pelengkapnya terdapat bentuk-bentuk dasar seperti segiempat pada baju bodo persegi panjang pada sarung songket dan kain siki bahan yang sering digunakan yaitu kain emas asli manik-manik berwarna emas dan perak serta benang emas dan beberapa hiasan motif dari pakaian sering muncul motif khas daerah Bima yaitu motif bunga samobo (bunga sekuntum) padowaji (jajaran genjang) nggusu tolu (segitiga) dan nggusu upa (segiempat). Kemudian untuk warna yang sering digunakan dalam pakaian adat daearah Bima Nusa Tenggara Barat adalah warna merah kuning hijau biru dan merah jambu. Khusus untuk pakaian adat pernikahan lebih kepada warna merah untuk pengantin wanita atau hitam untuk pengantin laki-laki. untuk bawahannya seperti sarung songket dan kain Siki masyarakat Bima tetap memilih warna yang sesuai dengan atasan seperti merah hati atau coklat.(2) Makna simbolis pakaian adat pernikahan dan aksesoris pelengkapnya memiliki makna masing-masing tentang kehidupan berumah tangga yang sesuai dengan norma agama dan adat istiadat yang ada di daerah Bima pakaian serta aksesoris tidak hanya sebagai pelindung dan pelengkap tetapi juga mencerminkan sikap dan pribadi yang memakai pakaian adat pernikahan juga sebagai petunjuk atau pedoman bagaimana menghadapi kehidupan berumah tangga baik sebagai makhluk sosial maupun makhluk beragama. Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan kepada semua pihak terutama generasi muda untuk lebih mengenal pakaian adat pernikahan daerah Bima.Agar budaya yang telah ada tidak punah dan dapat dilestarikan kepada anak atau cucu kita kelak. Penelitian ini bermanfaat bagi lembaga Jurusan Seni dan Desain masyarakat setempat mahasiswa Pemerintah Daerah.