Skripsi
Studi pewarnaan alami kulit pisang raja nangka (Musa paradisiaca linn) menggunakan fiksator tawas, tunjung, dan jeruk nipis pada kain katun ATBM / Noviary Sulistyo
Abstrak
ABSTRAK Sulistyo Noviary. 2015. Studi Pewarnaan Alami Kulit Pisang Raja Nangka (Musa Paradisiaca Linn) Menggunakan Fiksator Tawas Tunjung dan Jeruk Nipis pada Kain Katun ATBM. Skripsi Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Nurul Hidayati S.Pd M.Sn (II) Dra. Hapsari Kusumawardani M.Pd. Kata Kunci Pewarnaan alami Kulit pisang (Musa Paradisiaca Linn) Fiksator Tawas Tunjung Jeruk Nipis. Kulit pisang Raja Nangka (Musa Paradisiaca Linn) merupakan jenis kulit pisang yang banyak ditemukan di Kota Kediri sebagai limbah dari home industry gethuk pisang. Limbah kulit pisang raja Nangka dapat diolah sebagai bahan pewarna tekstil yang memiliki serat kapas seperti yang banyak dipakai pada kain katun ATBM di Industri tenun ikat di Kediri. Agar zat warna alam kulit pisang dapat terserap dengan baik maka diperlukan zat pembangkit seperti tawas tunjung dan jeruk nipis. Fungsi zat pembangkit selain untuk memperkuat daya serap zat warna ke dalam kain adalah untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan dari zat warna alam kulit pisang. Untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan perlu dilakukan pengamatan terhadap kain hasil pencelupan. Pengamatan dapat dilakukan secara visual (organoleptik) yaitu dengan mencocokkan kain hasil pencelupan dengan nama-nama warna untuk kain dalam Colour card fabric cotton. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Obyek penelitian ini adalah kain katun ATBM hasil pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas tunjung dan jeruk nipis. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah memaparkan hasil pengamatan visual (organoleptik) kain hasil pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas tunjung dan jeruk nipis. Berdasarkan analisis data hasil penelitian pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas tunjung dan jeruk nipis dengan metode 10 kali celup-fiksasi menunjukkan bahwa (1) Warna utama yang dihasilkan oleh kulit pisang adalah solid honey (2) Melalui proses fiksasi yaitu fiksator tawas menghasilkan warna solid khaki fiksator tunjung menghasilkan warna solid midnight fiksator jeruk nipis menghasilkan warna solid khaki. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ini terdapat beberapa saran untuk penelitian lain yaitu (1) perlu dikembangkan zat warna alam kulit pisang menggunakan metode lain misalnya dengan cara distilasi (penguapan) (2) Mencoba menggunakan fiksator lain misalnya gula jawa kapur soda kue daun jambu biji serta cuka (3) Melakukan variasi jumlah konsentrasi larutan fiksator (4) Menggunakan bahan sutera untuk mengetahui perbedaan hasil warna untuk dibandingkan dengan katun. (5) Melakukan pengujian-pengujian ketuaan warna dan ketahanan luntur warna.