Skripsi
A feminism study on the antagonistic superheroine in Fairytale / Agatha Adventina Kanakamuni
Abstrak
ABSTRAK Agatha Adventina K. 2015. A Feminism Study on The Antagonistic Superheroine in Fairytale Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Universitas Negeri Malang. Pembimbing Inayatul Fariha S.S. M.A and Mochamad Nasrul Chotib S.S. M. Hum. Kata Kunci peran antagonis perempuan dekonstruksi feminitas pahlawan perempuan stereotip gender Saat ini banyak masalah yang muncul terkait dengan stereotip di media terutama stereotip gender. Salah satu media yang memiliki stereotip gender sebagai masalah adalah dongeng. Stereotip-stereotip tersebut melemahkan kaum wanita dan memperkuat kaum pria. Wanita diharapkan untuk menjadi pasif lemah tergantung pada pria dan rentan. Di sisi lain perempuan yang memiliki kualitas yang berlawanan dianggap buruk. Misalnya ibu tiri yang jahat dan Cinderella yang menjadi korban. Stereotip-stereotip tersebut membuat pola untuk menjadi wanita sejati. Sehingga penelitian ini mengangkat isu tentang stereotip perempuan dalam dongeng dan menunjuk dua dongeng terkenal yang akan dianalisis yaitu Cinderella dan Rapunzel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan representasi dari perempuan antagonis dalam dongeng dan untuk mengeksplorasi wacana gender yang tergambar di dalam peran antagonis perempuan di dongeng. Berdasarkan hasil analisis ada tiga signifikasi representasi antagonis perempuan di dongeng. Pertama menjadi perempuan tidak hanya berarti dengan mematuhi peran yang telah dibentuk di masyarakat. Menjadi feminin hanya sebuah masalah pemahaman. Perempuan tidak perlu pasif dan tergantung. Bahkan wanita bisa membuktikan bahwa mereka dapat lebih aktif mandiri dan kuat seperti laki-laki. Meskipun mereka tidak mungkin melupakan sifatnya yang memelihara dan emosional. Kedua dengan menjadi aktif mandiri dan kuat wanita akan memiliki posisi yang kuat di masyarakat. Perempuan sekarang dapat memproyeksikan kekuatan mereka sendiri. Mereka dapat menunjukkan kekuatan mereka tanpa bersikap pasif. Sejak itu perempuan memiliki hak yang sama sebagai laki-laki seperti menjadi pemimpin dan bekerja di luar dan sebagai hasilnya pemimpin perempuan bermunculan dan dapat diterima oleh masyarakat saat ini. Terakhir hal yang paling penting adalah hal ini memberikan pilihan bagi perempuan untuk bertindak. Karena masyarakat menjadi lebih terbuka dalam perubahan kedua citra perempuan tidaklah salah dan telah divalidasi oleh masyarakat. Akhirnya ini menjadi alternatif untuk membangun hidup bagi perempuan. Secara keseluruhan representasi perempuan antagonis di dongeng berhasil menyuarakan feminisme. Mereka memproyeksikan wanita modern dan mewakili perempuan yang lebih kuat dan berani di dalam masyarakat.