Skripsi
Pengembangan modul biologi berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI SMAN 1 Trenggalek / Indri Listi Kusuma
Abstrak
ABSTRAK Kusuma Indri Listi. 2015. Pengembangan Modul Biologi Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI SMAN 1 Trenggalek. Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah M. Pd. (II) Nuning Wulandari S.Si M.Si. Kata kunci modul biologi Problem Based Learning berpikir kritis Penemuan dan pemecahan masalah dalam pembelajaran biologi dapat dilakukan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi salah satunya adalah berpikir kritis. Realita yang terjadi saat ini menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis pada siswa masih rendah dan kurang mendapat perhatian. Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru Biologi kelas XI SMA N 1 Trenggalek diketahui bahwa siswa masih belum mempunyai kemampuan berpikir kritis yang baik. Hal tersebut dapat diketahui dari penjelasan guru bahwa siswa tidak terbiasa menganalisis permasalahan dari materi yang sedang dipelajari yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian dalam rangka mengembangkan modul biologi berbasis PBL bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan Borg dan Gall (1983) yang dilaksanakan 7 tahap dari 10 tahap yang ada. Tahap yang pertama yaitu melakukan penelitian dan pengumpulan informasi mengenai permasalahan yang ada di sekolah. Tahap yang kedua yaitu melakukan perencanaan yang meliputi perencanaan pengembangan modul yang sesuai dengan permasalahan analisis KI dan KD dan menentukan pokok-pokok pembelajaran. Tahap ketiga yaitu mengembangkan produk awal yaitu modul biologi berbasis PBL. Tahap keempat yaitu melakukan uji coba lapangan tahap awal yang meliputi validasi oleh ahli modul materi dan lapangan. Tahap kelima yaitu melakukan revisi terhadap produk utama berdasarkan saran dan masukan para validator. Tahap keenam uji coba lapangan utama yaitu penerapan modul kepada 35 siswa Kelas XI MIA 5 SMAN 1 Trenggalek. Tahap ketujuh yaitu revisi terhadap produk yang telah diterapkan. Berdasarkan hasil validasi oleh para validator yaitu ahli modul materi dan lapangan diperoleh hasil 3 48 3 71 dan 3 9. Modul yang dikembangkan sudah valid setelah melalui proses revisi pada aspek tertentu. Hasil uji coba lapangan utama menunjukkan bahwa keterlaksanaan kegiatan di modul 100 %. Hasil pretes dan postes kemampuan berpikir kritis pada siswa diperoleh Tingkat gain sebesar 0 6 menunjukkan bahwa peningkatan gain score siswa tergolong sedang berarti perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat dikatakan cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Tingkat kepraktisan modul termasuk kategori baik berdasarkan hasil yang menunjukkan bahwa 21 siswa memiliki respon sangat positif 12 siswa memiliki respon positif dan 2 siswa memiliki respon kurang positif