Tesis
Miskonsepsi pada materi elektrokimia ditinjau dari kemampuan berpikir ilmiah siswa / Risa Asnawi
Abstrak
ABSTRAK Asnawi Risa. 2015. Miskonsepsi pada Materi Elektrokimia Ditinjau dari Kemampuan Berpikir Ilmiah Siswa. Tesis Program Studi Pendidikan Kimia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Effendy M.Pd. Ph.D. (II) Dr. Yahmin M.Si. Kata-kata kunci kemampuan berpikir ilmiah miskonsepsi Elektrokimia Elektrokimia adalah salah satu topik dalam pelajaran kimia di SMA dan MA yang mencakup banyak konsep abstrak serta melibatkan representasi makroskopis mikroskopis dan simbolis sehingga cenderung menimbulkan kesulitan bagi siswa yang mempelajarinya. Kesulitan tersebut dapat menimbulkan kesalahan pemahaman yang berujung pada miskonsepsi apabila berlangsung secara konsisten. Berbagai miskonsepsi siswa pada materi elektrokimia telah berhasil diidentifikasi. Laporan penelitian menunjukkan bahwa potensi terjadinya miskonsepsi memiliki hubungan yang berkebalikan dengan kemampuan berpikir ilmiah (KBI) siswa. Artinya semakin meningkat KBI siswa semakin sedikit miskonsepsi yang cenderung terjadi. Penelitian-penelitian sebelumnya melaporkan adanya kecenderungan bahwa siswa mengalami keterlambatan dalam perkembangan kemampuan berpikir mereka. Oleh karena itu mungkin banyaknya miskonsepsi yang terjadi pada materi elektrokimia disebabkan oleh rendahnya KBI siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat perkembangan KBI siswa (2) mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi Elektrokimia dan (3) mengetahui kemudahan eliminasi miskonsepsi pada siswa dengan KBI yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa kelas XII SMA program IPA tahun ajaran 2014/2015 yang berasal dari SMA Negeri 3 Kediri (126 siswa) dan SMA Ar-Risalah Kota Kediri (44 siswa). Data penelitian adalah KBI siswa dan miskonsepsi siswa pada materi elektrokimia. KBI siswa diukur dengan instrumen the Classroom Test of Scientific Reasoning (CTSR) edisi revisi tahun 2000 yang dikembangkan oleh Lawson dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tes terjemahan tersebut memiliki koefisien reliabilitas dihitung dengan rumus KR-20 sebesar 0 76. Identifikasi miskonsepsi menggunakan tes pilihan ganda two-tier materi Elektrokimia yang terdiri dari 17 item dengan validitas isi sebesar 98 0% dan koefisien reliabilitas dihitung dengan rumus KR-20 sebesar 0 76. Kemudahan eliminasi miskonsepsi diidentifikasi berdasarkan penurunan jumlah miskonsepsi yang terjadi. Data penelitian yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama 45 3% siswa kelas XII SMA berada di tingkat KBI concrete 35 9% siswa di tingkat low formal dan 18 8% siswa di tingkat upper formal. Kedua miskonsepsi yang teridentifikasi adalah (1) elektron memasuki larutan dari katode bergerak melalui larutan dan jembatan garam menuju anode untuk melengkapi sirkuit (2) elektron dapat bergerak dalam larutan pada sel Galvani dengan bantuan ion-ion (3) kawat logam dapat menggantikan fungsi jembatan garam pada sel Galvani karena kawat logam merupakan konduktor listrik yang baik (4) dalam penggambaran sel Galvani anode selalu diletakkan di sebelah kiri dan katode di sebelah kanan (5) elektrode dengan harga potensial reduksi standar lebih tinggi adalah anode (6) potensial setengah sel bukan merupakan sifat intensif (7) elektrode yang lebih mudah mengalami oksidasi daripada elektrode hidrogen standar mempunyai potensial reduksi standar berharga positif (8) E sel diperoleh dengan menjumlahkan secara langsung potensial reduksi standar dari setengah sel oksidasi dan setengah sel reduksi (9) potensial setengah sel dapat digunakan untuk memprediksi kespontanan reaksi setengah sel (10) ketika kedua elektrode pada sel Galvani memiliki potensial reduksi standar berharga negatif maka reaksi redoks spontan tidak akan dapat terjadi (11) katode pada sel elektrolisis adalah elektrode yang terhubung dengan kutub positif baterai (12) pada sel elektrolisis elektrode yang terhubung dengan kutub positif baterai menjadi kutub negatif dan sebaliknya (13) air tidak ikut bereaksi pada elektrolisis suatu larutan (dengan pelarut air) (14) ketika terdapat beberapa kemungkinan reaksi setengah sel oksidasi dan reduksi yang dapat terjadi pada suatu sel elektrolisis maka reaksi mana yang akan terjadi tidak dapat ditentukan (15) elektrolisis menyebabkan elektrolit terionisasi/terdisosiasi menjadi ion positif dan ion negatif (16) elektrode inert dapat bereaksi selama elektrolisis (17) terbentuknya warna kecoklatan pada katode besi ketika larutan CuCl2 dielektrolisis dikarenakan besi mengalami korosi (18) terdapat molekul air yang bereaksi pada elektrolisis suatu leburan (19) potensial sel yang terhitung pada sel elektrolisis dapat berharga positif dan (20) tidak terdapat hubungan antara besarnya potensial sel secara teoritis pada suatu sel elektrolisis dengan besarnya voltase yang harus disuplai baterai untuk berlangsungnya reaksi. Miskonsepsi nomor 7 10 11 12 dan 18 merupakan temuan baru. Ketiga siswa dengan tingkat KBI yang lebih tinggi cenderung lebih mudah mengeliminasi miskonsepsi yang terjadi. 8195