Skripsi
An anlysis on dysletic student in learning English in a regular school at SDN Sumbersari 3: a cse study / Yaumil Gita Zoraya
Abstrak
ABSTRAK Zoraya Yaumil Gita. 2015. Analisa pada Siswa Disleksia dalam Belajar Bahasa Ingrgis di Sekolah Regular SDN Sumbersari 3 Studi Kasus. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Ali Saukah (II) M.A Dr. Suharyadi M.Pd. Kata Kunci disleksia siswa disleksia siswa berkebutuhan khusus inklusi Disleksia adalah kesulitan berbahasa yang membuat seseorang mengalami disfungsi dalam pengaturan kata. Siswa yang memiliki disleksia bisa ditemukan di sekolah regular tetapi banyak guru-guru yang tidak mengenali cirri-cirinya. Siswa yang memiliki disleksia tidak bisa dikategorikan sebagai orang dengan kekurangan mental mereka memiliki masalah di bahasa yang tidak bisa di selesaikan hanya dengan memasukkan mereka ke sekolah luar biasa. Siswa yang memiliki disleksia sering di asumsikan oleh guru-guru sebagai siswa yang malas atau lambat. Guru-guru and orang tua dari siswa yang memiliki disleksia harus membantu and mendukung dalam hal akademik maupun non-akademik.. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan tujuan mengumpulkan data dari siswa yang memiliki disleksia guru-guru orang tua dan teman sekelas. Penelitian dilakukan di SDN Sumbersari 3 Malang sebagai sekolah yang menerapkan sistem pendidikan inklusi. Peneliti mengambil subjek dari kelas 3. Peneliti mengambil satu subjek karena di kelas 3 anak-anak telah mencapai kemampuan berbahasa yang kompleks seperti membaca dan menulis dan menunujukkan bahwa kekurangan dari siswa sudah terlihat. Instrumen untuk mengumpulan data adalah wawancara dan dokumentasi. Ada empat poin yang peneliti temukan pada saat observasi. Hal yang pertama adalah perilaku siswa saat belajar bahasa Inggris in kelas regular. Disini peneliti menggarisbesari perilaku siswa disleksia yang nampak saat selama pembelajaran berlangsung. Yang kedua adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa disleksia dalam belajar bahasa Inggris di antara siswa yang tidak memiliki disleksia. Yang ketiga adalah interaksi yang terjalin antara siswa disleksia dan teman sekelas. Respon mereka saat belajar bahasa Inggris terlihat baik teman sebangku memiliki kemauan untuk membantu menjelaskan ulang intrusksi-instruksi. Yang keempat perilaku anak menurut pandangan orangtuanya Peneliti menemukan bahwa orangtuanya bersifat mendukung dalam menunjang kemampuan yang dimiliki anaknya di bidang akademik. Yang terakhir adalah pencapaian siswa disleksia dalam pelajaran bahasa Inggris. Sekolah dan guru-guru menyediakan tes yang lebih mudah untuk menuntun siswa yang berkebutuhan khusus mengerjakan soal-soal tanpa terlalu banyak tekanan. Siswa disleksia mendapat skor 67 yang dalam skala menunjukkan skor yang bagus. Dengan memberi tugas individu kepada siswa guru bahasa Inggris Nampak menyamaratakan semua muridnya untuk bekerja mandiri. Kenyataannya siswa disleksia mendapat kesulitan. Bergantung kepada teman sebangku tidak sepenuhnya bisa membantu karena teman sebangku juga hanya berfokus pada tugasnya sendiri. Strategi yang tepat untuk siswa disleksia dan siswa yang lain dalam kelas regular harus di implementasikan seperti bekerja dalam grup atau berpasangan. Guru bahasa Inggris and wali kelas juga bisa menjadi pendengar dan fasilitator untuk siswa disleksia dikarenakan mereka adalah orang terdekat di sekolah yang bisa membantu siswa disleksia mengeksplor bakat dan minatnya. Sesuai dengan hasil dari penelitian peneliti menemukan bahwa siswa disleksia memiliki normal motivasi untuk belajar bahasa Inggris di sekolah regular. Sikap seperti menganggu teman adalah tanda bahwa siswa tidak bisa mengikuti instruksi atau pelajaran. Guru kelas adalah orang yang membuat siswa disleksia merasa nyaman. Orang tua dari siswa disleksia juga mengetahui keadaan putri mereka dan melakukan hal-hal pendorong motivasi seperti pengulang kata-kata dalam pelajaran bahasa dan menemani dalam mengerjakan pekerjaan rumah.